Goresan Sang Pemimpi(n) Peradaban

Blog EntryGelar Tidak Terlalu PentingSep 5, '07 7:39 AM
for everyone
Pendidikan telah melenceng dari makna hakiki. Dari sesuatu yang menyenangkan menjadi beban yang memuakkan. Celakanya masyarakat sudah terkontaminasi sedemikian dalam --bahkan rela saja diperas habis-habisan oleh para pebisnis pendidikan-- sehingga menuhankan sekolah sebagai satu-satunya syarat mutlak bagi kesuksesan, padahal banyak sekali contoh yang membuktikan bahwa gelar akademik tidak terlalu penting untuk mencapai kesuksesan.  Kalau misalnya cuma diukur dari kekayaan, 10 orang terkaya di dunia itu drop-out perguruan tinggi, tidak terkecuali Bill Gates, bosnya Microsoft.

Tim penulis buku Sukses Setelah PHK menuturkan kisah menarik tentang Paijo. Berbekal ijazah SD ia jadi satpam sebuah perusahaan. Sayang ketika perusahaan berkembang, syarat jabatan satpam meningkat, minimum lulus SLTP. Paijo ikut ujian persamaan dan tidak lulus. Ia di PHK.

Setelah sempat terpukul, Paijo memilih dagang. Usahanya berkembang. Paijo jadi konglomerat mini. Wartawan pun mulai nyinyir menanyakan kiat suksesnya.

"Di mana Bapak menimba ilmu?"

"Tidak di mana-mana. Saya cuma tamat SD. Prinsip saya hanya berdagang, cari untung. Bukan cari ilmu. Bukan pula cari pengalaman."

"Tamat SD saja bisa sukses mempunyai banyak perusahaan. Bagaimana kalau tamat SMP?"

"Kalau tamat SMP, sekarang saya pensiunan satpam!"

Terlihat di sini sekolah --termasuk universitas-- bukanlah faktor penentu keberhasilan hidup satu-satunya. Apalagi bila sekolah itu diselenggarakan secara militeristik, sarat baris-berbaris, upacara, amanat inspektur upacara, laporan komandan upacara, penataran, dan seterusnya.

Yang terjadi --seperti sering disentil Romo Mangun-- bukanlah proses pendidikan ataupun pengajaran, tapi indoktrinasi dan pembodohan sistematis. Imajinasi, kreativitas, keberanian menyatakan perbedaan pendapat dipasung selama lebih dari tiga dekade. Kasus Angket Seks Remaja yang "mengkafirkan" Eko Sulistyo, siswa sebuah SMA di Yogyakarta, di tahun 80-an, menjadi bukti sejarah bagaimana anak-anak berbakat dan kreatif justru tidak mendapatkan tempat yang seharusnya di sekolah-sekolah kita. Untung masih ada Prof. Dr. Andi Hakim Nasution, yang memutuskan untuk menerima Eko tanpa tes di IPB.

Sekolah dan universitas tanpa pendidikan dan pengajaran telah terbukti "berhasil" melestarikan budaya korupsi-kolusi-nepotisme oleh orang-orang berdasi dan bertitel tinggi, yaninggu, sekolah Gelandangan (Sesame Street School), sekolah Terbuka dan Jarak Jauh, Taman Kakek-Nenek, Ak sekedar makelar penerbitan buku dan kursus-kursus serta les privat, atau komandan yang tak boleh dibantah. Mereka gagal jadi pengganti ayah, ibu, kakak, dan sahabat peserta didik. Sampai akhirnya, meminjam lagu Ebiet G. Ade, "Tuhan mulai bosan/melihat tingkah kita/yang selalu salah dan bangga/dengan dosa-dosa/..." dan menggerakkan mahasiswa untuk mempelopori perubahan sejak Mei 1998.

Berguru pada Ajip Rosidi

Ajip Rosidi, sastrawan Sunda kelahiran Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat, 31 Januari 1938, tidak tamat SMA. Namun kini ia menjadi dosen luar biasa di Fakultas Sastra Universitas Pajajaran, Bandung. Tahun 1981 ia bahkan diundang menjadi pengajar tamu di Osaka, Jepang, sampai saat ini. Sebel Asing Di Asia,diangkat menjadi guru besar luar biasa di Tenri Daigaku (1983-1994) dan Kyoto Sangyo Daigaku (1983-1996). Ajip memang seorang maestro tanpa gelar formal. Semua kehormatan yang diperolehnya dimulai dengan rasa cintanya yang besar pada dunia sastra, khususnya Sastra Sunda. Rasa cintanya dipadu dengan keteguhan hati yang dimilikinya sejak muda. Ia, misalnya tidak bersedia mengikuti ujian SMA karena dipaksa menyogok guru. Ia berpendapat, hidup sukses tidak mesti pakai ijasah. Dan kehormatan lebih penting dari predikat.

Kompas 6 September 1998, memuat kisah sastrawan ini. Ia mulai bekerja di bidang tulis-menulis untuk mencari nafkah, baik sebagai penulis karya kreatif, redaktur, pemimpin majalah, maupun penerbit buku. Kesungguhannya menekuni bidang pilihannya itu membuat Ajip bertumbuh menjadi sastrawan yang mumpuni. Obsesinya untuk mengangkat derajat sastra Sunda ditunjukkan dengan menyediakan Penghargaan Rancage sejak tahun 1989 hingga sekarang. Rancage adalah sebuah kata dalam bahsa Sunda kuno yang berarti: aktif kreatif. Penghargaan ini awalnya diberikan kepada yang dianggap berhak bersama uang sebesar Rp1 juta. Uang itu dirogoh dari koceknya sendiri, disisihkan dari penghasilan selama mengajar di Jepang. Jumlah tersebut kini mencapai Rp5 juta, dan pernah diberikan kepada penulis, seniman, dan sastrawan Sunda, Jawa, dan Bali.

Orang-orang Sukses Tanpa Pendidikan Tinggi

John Major, drop out SMA, tapi menjabat Perdana Menteri Inggris menggantikan Wanita Besi, Margaret Thatcher. Billy Joel menjadi penyanyi terkenal dengan modal ijazah SMP, sama seperti Tracey Ullman yang menjadi aktris kondang. Pernah mendengar Bank of America? Pendirinya, Amadeo Peter Giannini tak pernah menyelesaikan SMA-nya. Dale Carnegie, pelopor di bidang pelatihan dan pengembangan manusia di awal abad 20, tak menyelesaikan sekolah gurunya di Missouri, Amerika Serikat. Thomas Alfa Edison hanya 3 bulan sekolah seumur hidupnya, namun lebih dari 3.000 penemuan dicatat atas namanya atau atas nama orang-orang yang bekerja dengannya. Sementara Kenji Eno drop out dari SMA, namun disebut-sebut sebagai Bintang versi Asia Week dan dianggap sebagai dewa industri game.

Anthony Robbins hanya tamat SMA dan memulai kariernya sebagai jongos kantor (janitor). Namun dalam waktu satu dekade ia berhasil menjadi praktisi konsep Neuro-Linguistic Programming (NLP), bahkan merevisinya menjadi Neuro-Associative Conditioning (NAC). Dari pemuda miskin dan sakit-sakitan, Robins berhasil menjadi penulis buku laris Unlimited Power dan Awaken The Giant Within. Ia dipuji para profesor psikologi sebagai motivator yang handal dan menjadi salah seorang penasihat Presiden Bill Clinton. Honor bicaranya --US$ 75.000 sekali tampil (kurang lebih 3 jam)-- melampaui Dr. Stephen R. Covey, John Gray, dan Michael Hansen.

Susi Pudjiastuti drop out SMAN I Yogyakarta, tapi mampu menjadi eksportir ikan, udang, lobter, dan hewan laut lainnya ke Singapura, Hong Kong, dan Jepang, yang tak goyah diterpa badai krisis. Kusnadi hanya tamat SMA di Semarang, namun menjadi eksportir tenun ikat Bali yang memasok pakaian ke 1.650 butik terkemuka di Amerika dan Kanada. Hartono Setyo hanya sampai SMP, tapi mampu melanjutkan kepemimpinan Bambang Setijo, kakaknya, di beberapa perusahaan kelompok PT Sari Warna Asli Group --calon konglomerat baru di awal milenium ketiga.

Adam Malik, pernah Menteri Luar Negeri dan Wakil Presiden Indonesia cuma mengecap sekolah sampai kelas 5 SD. Andrie Wongso tidak tamat SD, arek Malang ini pernah melata sebagai kuli toko, guru kungfu, dan bintang film kungfu di Taiwan sebelum jadi juragan kata-kata mutiara (kartu-kartu merek Harvest) dan mendirikan perusahaan MLM Forever Young, serta menyunting seorang Sarjana Hukum. Alim Markus, meninggalkan bangku SMP dan mampu mengembangkan Grup Maspion menjadi salah satu usaha yang terkemuka di Jawa Timur. Dalam kelompok bisnisnya tercatat lebih dari 40 pabrik yang menyerap sekitar 20.000 tenaga kerja.

Markus F. Parmadi, berhasil mencapai posisi tertinggi sebagai Presiden Direktur Bank Lippo. Padahal pendidikannya putus di tengah jalan, ia drop out tingkat dua dari Fakultas Teknik Universitas Indonesia.

Bob Sadino tak pernah kuliah di perguruan tinggi, tapi sering diundang untuk mengkuliahi mahasiswa di banyak kota, termasuk para calon dan sarjana-sarjana pertanian. Dan tanyakan pada Sukyatno Nugroho, sekolah mana yang membuatnya mampu mengembangkan Es Teller 77 Juara Indonesia dengan sistem franchise? atau apa gelar Willy Sidharta yang membuatnya bertahan memimpin PT Aqua Golden Mississippi? Lalu, Abrian Natan, Direktur Eksekutif CNI yang fasih berbicara di muka publik itu, mengapa tak merasa perlu menyelesaikan pendidikan tinggi?

Masih banyak contoh, tapi cukuplah.

Di jaman sulit seperti yang kita hadapi sejak pertengahan 1997 ini --dan entah masih berapa lama lagi-- sangat penting memperlihatkan fakta sejarah bahwa orang tidak harus berpendidikan tinggi untuk memperbaiki taraf hidup. Tanpa harus terjebak menghina para penganggur terdidik, kita ingin mengingatkan masyarakat bahwa pendidikan tinggi bukanlah faktor penentu absolut untuk meraih keberhasilan. Tak perlu putus asa bila putus sekolah. Tak perlu bermurung durja bila tak mampu menyekolahkan anak-anak ke tingkat yang lebih tinggi. Dunia tidak selebar daun kelor, kata orang bijak. Kalaupun Anda tak kenyang sekolahan, atau anak, adik, dan kerabat melulu putus sekolah, jalan menuju cita-cita masih membentang lebar. Belajar ada kalanya jauh lebih efektif dari pengalaman, pribadi atau orang lain. "Sekolah" yang paling baik acap kali bukan di tempat-tempat tertutup, jauh dari kenyataan hidup sehari-hari, tetapi justru di lingkungan sekitar (pasar, stasiun, mesjid/gereja, kantor, jalan raya, dan seterusnya). Sekolah tanpa ijazah dan universitas kehidupan, itulah namanya.

Sekolah Tanpa Ijazah dan Universitas Kehidupan

Sekolah itu candu, demikian judul kumpulan tulisan Roem Topatisamang sekitar tahun 70-an, yang merupakan pengantar diskusi dan tugas kuliah Seminar Sistem Pendidikan Perbandingan di kampusnya IKIP Bandung. Lewat pamflet "Robohnya Sekolah Kami", Roem bergabung dengan orang-orang seperti Everett Reimer, penulis buku School is Dead.

Roem tidak anti sekolah. Ia hanya ingin mengembalikan pengertian sekolah "ke jalan yang benar". Kata "sekolah" yang diambil dari kata Yunani skhole, scola, scolae atau schola, berarti "waktu luang yang digunakan secara khusus untuk belajar" (leisure devoted to learning). Lewat proses alih fungsi dari scola matterna (pengasuhan ibu sampai usia tertentu), menjadi scola in loco parentis (lembaga pengasuhan anak pada waktu senggang di luar rumah sebagai pengganti peran ayah dan ibu), kita mengenal "lembaga ibu asuh" atau "ibu yang memberikan ilmu" alias alma mater. Makna sekolah yang luas, mencakup berbagai bidang kehidupan, disunat jadi sekedar gedung di lokasi tertentu. Mudah menunjuk kampus Universitas Indonesia, tapi dimanakah gerangan Akademi Jakarta dan Akademi Leimena? Orang kenal Universitas Harvard, Yale, Cambridge, MIT, Princenton, Berkeley, dan Stanford, tapi dimanakah Universitas Rockefeller yang 2 mahasiswa dan 16 pengajarnya menerima hadiah Nobel? Universitas Tokyo, Tsukuba, Washeda, dan Sophia mudah dicari, tapi bagaimana dengan Universitas Perserikatan Bangsa-bangsa (Soedjatmoko, salah seorang putra terbaik Indonesia pernah diangkat menjadi rektornya tahun 1980-an) ? Lalu Sekolah Frankfurt, Sekolah Wina, dan Sekolah Durkheim, di manakah gedungnya? Sampai mati Anda tak akan menjumpainya.

Penyunatan makna sekolah dari wilayah kehidupan menjadi sekedar gedung terlokalisir yang mengajarkan hal-hal jauh dari kenyataan hidup sehari-hari, menurut Roem, telah mengakibatkan terjadinya involusi kelembagaan, involusi sikap, dan bahkan involusi pemikiran. Kegiatan belajar kemudian "dilokalisir" sedemikian rupa sehingga hanya dilakukan di sebuah ruang tertutup. Sekolah Minggu, sekolah Gelandangan (Sesame Street School), sekolah Terbuka dan Jarak Jauh, Taman Kakek-Nenek, Akademi Kanak-kanak, dan berbagai kegiatan belajar tanpa ijazah menjadi asing. Kita lupa bahwa panggilan kemanusiaan yang pertama adalah menjadi manusia pembelajar, yang belajar di mana saja, kapan saja, dan kepada siapa saja.

Keberhasilan orang-orang yang tak sempat masuk (gedung) sekolah sesungguhnya menjadi semacam peringatan dan gugatan terhadap ketersesatan makna sekolah yang selama ini menjajah wilayah pemikiran dan sikap kita. Penghargaan yang berlebihan terhadap gelar kesarjanaan (akademis) dapat meracuni pikiran masyarakat banyak. Anda tidak harus memiliki pendidikan tinggi untuk berhasil. Banyak fakta sejarah yang menunjukkan bahwa sekolah (termasuk universitas) justru dapat membuat kita terasing dari persoalan kehidupan nyata, enggan bekerja keras dari bawah (karena dipasung ijazan tanpa makna), dan menjadi tidak kreatif menghadapi masa-masa sulit, sehingga gagal dalam karier dan kehidupan.


BAPU ADI


12 CommentsChronological   Reverse   Threaded
fickarl wrote on Sep 5, '07
ya, optimisme yang luar biasa dan cukup positif Mas Adi, thanks
terbangkelangit wrote on Sep 5, '07
Saya setuju sekali. Saat ini, sekolah memang sudah disempitkan maknanya. Bahkan lebih jauh, sekolah dijadikan tempat balas dendam. Acara rutin setahun sekali yang dinamakan ospek menjadi senjata ampuh. Acara yang KATANYA untuk pengenalan sekolah atau kampus, berubah jadi ajang "ngerjain adik kelas". Tentu saja kita prihatin, tapi jangan menyerah. Menyerah itu tidak menyelesaikan masalah.

Ngomong2 anda tahu banyak dan tertarik bidang pendidikan? di UI sekarang lagi diadakan perekrutan tim MOE (Memoir of Education). Jadi, target kita buat buku tentang pendidikan. JAdi, siapa yang tertarik ma pendidikan Indonesia boleh gabung. Timnya dibagi 4: Tim informasi, tim publikasi dan dokumentasi, tim sekretariat, dan tim dana. Saya sendiri sudah bergabung di tim 1.

Hanyasaja, saya nggak tahu, apakah panitia ini terbuka untuk umum atau khusus mahasiswa UI...jika anda tertarik, anda bisa menghubungi BEM UI dan nanya nanya..cari aja info BEM UI di om Google....
adisubiyanto wrote on Sep 5, '07
Wah.....boleh juga tuh.
Kaya bunga rampai gitu ya?
Trus yang nulis 'keroyokan'?

Wah...pengen banget tuh....
Saya dikabari site atau email yang terkait, ya!
cahmetrolampung wrote on Sep 5, '07, edited on Sep 5, '07
Yang kita butuhkan bukanlah gelar...
Akan tetapi Ilmu...
mungkin dengan mengeluarkan uang berpuluh-puluh juta kita bisa mendapatkan gelar...tapi blum tentu kita mendapatkan ilmunya..
iwananashaya wrote on Sep 5, '07
Yup, menurut saya juga,...
GELAR TIDAK TERLALU PENTING.
rockm4m4 wrote on Sep 5, '07
di hutan belantara kehidupan sekarang yg lebih sadis dari hutan amazon, yang survive adalah Jack Of All Trade...! Buat apapun bisa! yang penting daya pikir logic nya kuat. and kepedean tentunyeee...
rockm4m4 wrote on Sep 5, '07
btw, thanks add nya ya Di..!
terbangkelangit wrote on Sep 6, '07
untuk Info tentang MOE (Memoir of Education), coba anda hubungi:

Fauzan: 08561345355
atau
Minang: 02193648958

Tapi sekali lagi, saya nggak tahu apa ini terbuka untuk umum atau cuma mahasiswa UI...
adisubiyanto wrote on Sep 7, '07
Banyak yang sepakat bahwa gelar nggak terlalu penting, trus kenapa juga Anda sekalian masih mengejar-ngejar gelar tersebut?

Apakah masih dengan dalih, "Untuk persiapan, barangkali aja 'usaha yang lain' gagal, khan paling tidak masih punya ijazah!"

Trus, membawa kertas sakti (baca : ijazah) untuk mendapatkan pekerjaan, kemudian jadi orang gajian dengan bayaran tak terlalu besar...

Apakah juga masih berpikir, "Nanti kalau saya nggak sekolah--apa kata orang tua? Apa kata tetangga?"

Apakah kita masih mau dibelenggu oleh sistem yang tak menguntungkan ini....

Orang-orang seperti saya (yang secara finansial lemah) lebih memilih untuk "Wajib Belajar Seumur Hidup", jadi nggak sekedar wajib belajar sembilan tahun.

Dengan ataupun tanpa gelar, saya....Adi Subiyanto...tetap akan menjadi Psikolog autodidak....

Saya pikir dunia akan lebih melihat kompetensi kita dari karya-karya kita....Nggak sekedar gelar.....!!!

Makanya saya terus menerus akan menulis tentang pendidikan, psikologi, remaja, pelajar dst.....

Saya saat ini sedang menggarap sekolah alternatif yang sangat murah namun berkualitas tinggi di Surabaya..
Ada yang mau gabung?

Comment deleted at the request of the author.
terbangkelangit wrote on Sep 11, '07
kawan..ada dua cara untuk memperbaiki sesuatu. Pertama, dengan revolusi tiba tiba yang menggerakkan banyak orang. Untuk yang ini, yang mampu melakukannya adalah para penguasa. Kedua, adalah dengan cara pelan pelan dari dalam. Inilah yang bisa saya lakukan dan inilah cara yang saya pilih.

Adakalanya untuk memperbaiki suatu sistem, kita harus masuk terlebih dahulu ke sistem itu...Agar kita bisa memperbaikinya dari dalam dan bisa mengubahnya sedikit demi sedikit ke arah yang lebih baik.


***
Coba renungkan cerita yang saya tulis ini.

Suatu ketika Bunda Teresa ditanya wartawan: "Bunda, kenapa anda malah merawat para orang miskin dan penyakitan? menurut hemat saya, untuk menyelesaikan masalah dengan capat, lobi saja para pemimpin dunia untuk mengirim dokter dokter ahli untuk mengobati mereka?! lalu tugas anda kan bisa selesai."

Bunda teresa tersenyum dan menjawab: "Nak, setiap orang punya tugas sendiri. Tugasmu adalah membuat berita yang bagus dan kondisi yang sebenarnya disini, tugas para diplomat adalah membujuk para pemimpin, dan tugas saya adalah disini merawat mereka dengan cinta kasih..Iya, memang bantuan makanan dan obat dari para pemimpin memang penting, tapi cinta kasih-pun penting disini..mereka butuh keduanya.."

***

Jadi, kawan..ada beberapa orang yang memang mempunyai jalan seperti anda, yaitu memperjuangkan kebenaran lewat jalur luar, yaitu tidak mengikuti sistem, tapi bisa SUKSES. Contohnya banyak, Bob Sadino, Bill Gates, dll..orang2 yang melalui jalan ini, dadanya bergemuruh ingin membuktikan bahwa SUKSES tidak dipengaruhi IPK !!

Tapi ada juga beberapa orang yang berjuang lewat jalur gelar dan mahasiswa, contohnya adalah Habiburrahman El Shirazy (penulis ayat2 cinta). Beliau lulusan Al Azhar, tapi beliau sama sekali tidak berpikiran 'sempit'.

Yang penting bukanlah jalan yang dilaluinya, tapi TUJUANNYA...

Mau jadi mahasiswa atau langsung kerja, yang penting adalah pola pikirnya, apakah dia adalah 'pecundang ijazah', atau 'ksatria hidup'...

Saya pribadi, terkesan dengan Bung Karno. Anda tahu, saat Bung Karno diwisuda S1 di ITB, rektor beliau berkata begini ke Bung Karno:

"Karno, Jangan pernah bergantung satu kalipun dengan ijazah kamu, karena satu saat ijazah ini akan hancur. Yang lebih abadi dari itu adalah karakter. Ketika semua hancur, karakter akan tetap bertahan."

Belakangan Bung Karno berkata bahwa kata2 itu tidak pernah terlupakan oleh beliau. (Sumber: Bung Karno, penyambung lidah rakyat Indonesia, karangan Cindy Adams)
tarkhiena wrote on Oct 10, '07
in my humble opinion... ijazah memang ga terlalu penting tetapi bukan berarti ga penting, jadi yang salah sebenarnya bukan ijazahnya tapi apa yang kita peroleh selama perjalanan mendapatkan ijazah....so i think.... selama kita kuliah apakah kita memang mengejar ilmu or mengejar ijazah.... alhamdulillah kalo kita memang mengejar ilmu, berarti ijazah qt bukan ijazah 'kosong', yah... meskipun tetap jadi keprihatinan kita, krn walau qt mengejar ilmu di bangku kuliah ternyata ilmu yang kita dapat di kelas sangat sedikit (bukan berarti ga ada) tapi pasti ada manfaatnya...
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help