Goresan Sang Pemimpi(n) Peradaban

Peluang dimasukkannya materi lingkungan hidup sebagai pelajaran muatan lokal
sangat dimungkinkan dengan diberlakukannya kurikulum tingkat satuan pendidikan
atau KTSP. Kurikulum baru ini mengatur, setiap satuan tingkat pendidikan atau
sekolah diberi kebebasan menambah empat jam pelajaran tambahan per minggu.

Materi lingkungan hidup sebaiknya masuk di sini. Permendiknas (Permendiknas Nomor 22 tentang Standar Isi Satuan Pendidikan) memperbolehkan, setiap satuan tingkat pendidikan menambah jam pelajaran maksimal empat jam per minggunya. Jam pelajaran ini bisa diisi pelajaran apa saja, baik yang wajib atau sifatnya hanya muatan lokal,
ujar anggota Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) Furqon, Jumat (13/10).


Menurut Furqon, jam pelajaran tambahan ini berlaku baik untuk satuan tingkat pendidikan dasar maupun menengah. Sesuai prinsip fleksibilitas KTSP, tiap-tiap sekolah diberi keleluasaan untuk mengembangkan kurikulumnya sendiri. Termasuk, dalam hal pemilahan kurikulum wajib maupun lokal.


Meski demikian, pemberlakuannya tetap harus diimbangi dengan potensi sekolah masing-masing serta pemenuhan standar minimum isi seperti yang telah digariskan BSNP. Jadi, bisa saja empat jam waktu tambahan ini diisi mulok LH sekaligus. Namun, tentunya kan tidak ujug-ujug demikian. Melainkan, harus diimbangi dengan potensi dan
kebutuhan masing-masing sekolah; ucap ahli pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) ini.


Jadi, tambah Furqon, sekolah tidak perlu lagi kebingungan mencari celah untuk memasukkan mulok LH ini ke dalam kurikulum masing-masing. Termasuk, mengenai opsi penggunaan jatah jam pelajaran pengembangan diri yang marak diwacanakan sebelumnya.


Penggunaan opsi yang disebut terakhir ini dikhawatirkan justru berpotensi bermasalah. Sebabnya, alokasi jam pengembangan diri ini khusus dipergunakan hal-hal yang sifatnya konsuler, yaitu tentang penelusuran minat, bakat maupun perencanaan pengembangan studi siswa.


Budaya sekolah

Secara terpisah, Ketua Musyarawarah Kerja Kepala Sekolah SMP Negeri se-Kota Bandung, Nandi Supriyadi, menyambut gembira rencana diberlakukannya mulok LH di Kota Bandung. Keberadaan mulok LH diyakini bakal lebih komprehensif meningkatkan pengetahuan maupun pengalaman siswa tentang permasalahan lingkungan hidup.


Kebijakan ini merupakan hal yang paling kami tunggu-tunggu. Saya yakin, setidaknya dengan mewujudkan lingkungan hidup yang sehat di sekitar sekolah, secara tidak langsung ini bakal mendorong prestasi akademik siswa.
Anak jadi dibiasakan betah di sekolah, ujar Kepala SMAN 7 Kota Bandung yang pernah mendapatkan penghargaan penerapan manajemen sekolah berwawasan lingkungan ini.

Meski demikian, ia mengingatkan, efektivitas pendidikan lingkungan hidup nantinya tidaklah terlepas dari upaya mewujudkan budaya sekolah yang berperspektif lingkungan. Untuk mewujudkannya, diperlukan komitmen dan kesadaran seluruh stakeholder sekolah maupun orangtua siswa.


Komitmen ini sangat penting. Misalnya, mengenai penyediaan sarana mulai dari tong sampah. Berbicara tentang pemilahan sampah, tentunya tidak lucu jika sekolah sendiri tidak menyediakan tong sampah yang mendukung. Serta, banyak contoh lainnya. Pokoknya, pola pembiasaan cinta lingkungan ini harus mulai digalakkan sejak tingkat sekolah, ucapnya kemudian.

tarkhiena wrote on Sep 7, '07
SEPAKAT!!! sebenarnya pendidikan mengenai lingkungan hidup kudu ditanamkan sejak dini... coz in my humble opinion masalah lingkungan hidup sangat berkaitan erat dengan pembentukan karakter seseorang ketika dia masih kecil... but there's never too late for the better life... SEMANGAT...
adisubiyanto wrote on Sep 7, '07
Selain di sekolah juga....alangkah indah dan sinergisnya apabila sekolah bekerja sama dengan wali murid dan lingkungan setempat.........tempat dimana si murid (anak) menghabiskan waktu sehari-hari..

Kadang kondisi di sekolah dengan di rumah / lingkungan tempat tinggal berbeda 180 derajat....

Jadi itulah pentingya sebuah komitmen komunitas...
"PEndidikan berbasis komunitas itu mutlak!" menurut saya

Jadi anak biar nggak bingung. Di sekolah Bu Guru bilang A, kok dirumah bilang B, dan di masyarakat bilang C.....

gimana?
tarkhiena wrote on Sep 11, '07
I think... in my humble opinion saya sangat sangat sepakat dengan ungkapan bahwa pendidikan berbasis komunitas itu mutlak... tapi mungkin yang perlu diperhatikan seringkali kita mengasumsikan bahwa komunitas tersebut hanya terdiri dari orangtua dan guru, padahal pemegang peranan penting dari komunitas tersebut adalah si anak sendiri.... karena ini berkaitan dengan masa depannya... dan saya juga sepakat dengan bapu bahwa harus dicapai kesepakatan antara semua komponen komunitas (pendidikan) tersebut dalam kebenaran... so harus jelas disepakati apa yang benar dan apa yang salah, apa yang boleh dan apa yang dilarang... tapi tentunya di antara hitam dan putih akan selalu ada wilayah abu2 dan mungkin inilah akan terjadi perbedaan sudut pandang dan inilah yang kemudian menjadi indahnya sebuah perbedaan pendapat.... dan sikap saling menghargai perbedaan dalam komunitas ini kemudian akan memberikan hasil terbaik dalam sebuah komunitas pendidikan... Wallahu a'lam... (bener ga' sih???)
adisubiyanto wrote on Sep 11, '07
I think... in my humble opinion saya sangat sangat sepakat dengan ungkapan bahwa pendidikan berbasis komunitas itu mutlak... tapi mungkin yang perlu diperhatikan seringkali kita mengasumsikan bahwa komunitas tersebut hanya terdiri dari orangtua dan guru, padahal pemegang peranan penting dari komunitas tersebut adalah si anak sendiri.... karena ini berkaitan dengan masa depannya... dan saya juga sepakat dengan bapu bahwa harus dicapai kesepakatan antara semua komponen komunitas (pendidikan) tersebut dalam kebenaran... so harus jelas disepakati apa yang benar dan apa yang salah, apa yang boleh dan apa yang dilarang... tapi tentunya di antara hitam dan putih akan selalu ada wilayah abu2 dan mungkin inilah akan terjadi perbedaan sudut pandang dan inilah yang kemudian menjadi indahnya sebuah perbedaan pendapat.... dan sikap saling menghargai perbedaan dalam komunitas ini kemudian akan memberikan hasil terbaik dalam sebuah komunitas pendidikan... Wallahu a'lam... (bener ga' sih???)
Memang antara sekolah, lingkungan, anak, ortu--bahkan segala variabel di lingkup sosial siswa, seharusnya dapat dijadikan dan memfasilitasi siswa untuk mendapatkan pendidikan yang sebaik dan seluas mungkin. Kebanyakan orang tua merasa sudah cukup menjalankan tugasnya sebagai 'pendidik' dengan "melempar" anaknya ke sekolah. Padahal 1 guru mengurusi sekian banyak siswa. Mana efektif?

Kompetensi seseorang tak hanya bisa diukur dari formalitas gelar dan kuliah seseorang. Kalau saya lebih pada melihat karya-karya atau produk2 yang ia keluarkan. Kejeniusan yang terpendam hanya akan menjadi indah dalam diri sendiri saja--namun tak berkah, kita lebih membutuhkan manusia-manusia biasa yang memiliki impian-impian langit.

Saya lebih percaya dengan minat. Dengan minat, kecintaan pada sesuatu tersebut--merupakan rahim dari karya-karya peradaban yang spektakuler. Terkadang kuliah dan sekolah yang sekian lama saya ikuti menjebak pikiran dalam kotak keilmuan yang sempit.

Universitas di Indonesia masih belum mampu 'berlaku radikal' seperti di Barat. Universitas berasal dari kata Universal. Setelah saya teliti, ternyata di sana seorang mahasiswa yang (misalnya) kuliah di Psikologi, boleh mengambil SKS (mata kuliah) di fakultas dan jurusan yang lain. Misalnya musik, olahraga, kedokteran, teknik dll. Dan SKS tersebut dihitung dan masuk dalam daftar matakuliah resmi. Jadi modifikasi ilmu akan mengalami percepatan dan quantum.

Makanya, ketika saya membaca sedikit komentar dari Mbak Nurul--saya pikir minat tersebut lebih luar biasa kalau bisa dipupuk dengan rutin. Entah apapun yang sedang Mbak Nurul dalami di kampus, saya pikir tak menghalangi anti untuk (misalnya) menjadi pakar dalam pendidikan.

wass

salam hangat,

Bapu
tarkhiena wrote on Sep 14, '07
inilah yang jadi masalah di dunia pendidikan kita...sejak tk kita dicekoki bahwa guru adalah manusia agung yang tidak pernah salah, bahwa guru adalah sesuatu yang tidak bisa disentuh dengan perasaan... kemudian hal ini semakin terbawa ketika kita kuliah di kampus....mungkin ga semua kampus...tapi kebanyakan kampus seperti itu... dan kita diajari untuk memisahkan mata pelajaran atau mata kuliah sebagai sesuatu yang berdiri sendiri tanpa hubungan apapun, padahal jelas semua mata pelajaran (or mata kuliah) semuanya terkoneksi yang seharusnya memberikan outcome suatu Ilmu yang Terintegrasi dalam segala aspek kehidupan peserta didik...

Tapi mungkin keprihatinan kita saat ini sudah mulai sedikit dapat terobati... Ketika saya mendengar tentang sebuah sekolah yang mengajukan pendapat tentang pentingnya pendidikan sejak dini dan pentingnya memberikan pendidikan yang terintegrasi (akhlak, keilmuan, dan kepemimpinan), serta metode yang diberikan pun menggunakan metode pendidikan orang dewasa, sehingga murid dalam satu kelas hanya 12 orang/guru ... hati ini pun cukup terhibur... mudah2n sekolah ini bisa dicontoh dan tentunya dengan harga terjangkau... walau sayang sekali sekolah ini belum mendapat izin diknas... :)
adisubiyanto wrote on Sep 14, '07
wah...bener tuh....itu namanya sekolah alternatif Qaryah Thayyibah di Salatiga. Didirikan oleh Mas Bachruddin, seorang kenalan saya.

Rencananya setahun kedepan saya dan beberapa mahasiswa yang punya mimpi ada sekolah gratis ato murah yang berkualitas global, yang ada akses internetnya 24 jam gitu deh...tapi mbayarnya murah banget...

Kami sudah mulai koordinasi dengan Yayasan Sekolah Rakyat (sekolah rakyat.com)..yang mengurusi sekolah terbuka se-Indonesia

Ada masukan?
tarkhiena wrote on Sep 17, '07
Alhamdulillah... setidaknya masih ada yang peduli tentang nasib bangsa ini, dan memahami solusinya... walau gak instan dan butuh bertahun2 untuk melihat hasilnya, tapi InsyaAllah hasilnya lebih bermanfaat...

NB. Maaf, saya baru dengan tentang sekolah alternatif Qaryah Thayyibah, boleh minta info dan profilnya...
NBB. Kalo sekolah yang saya tau, yang sudah menerapkan sistem yang berbeda dari diknas adalah sekolah alam, tapi sekolah itu masih mahal dan waiting list nya panjaaaaang banget...
NBBB. Kalo rencananya jadi buka sekolah gratis yang berkualitas global...boleh dong saya nimbrung, untuk bantuin...
adisubiyanto wrote on Sep 22, '07
Alhamdulillah... setidaknya masih ada yang peduli tentang nasib bangsa ini, dan memahami solusinya... walau gak instan dan butuh bertahun2 untuk melihat hasilnya, tapi InsyaAllah hasilnya lebih bermanfaat...

NB. Maaf, saya baru dengan tentang sekolah alternatif Qaryah Thayyibah, boleh minta info dan profilnya...
NBB. Kalo sekolah yang saya tau, yang sudah menerapkan sistem yang berbeda dari diknas adalah sekolah alam, tapi sekolah itu masih mahal dan waiting list nya panjaaaaang banget...
NBBB. Kalo rencananya jadi buka sekolah gratis yang berkualitas global...boleh dong saya nimbrung, untuk bantuin...
Kalau pengen tahu lebih banyak baca aja buku yang berjudul, "Sekolah Alternatif Qaryah Thayyibah", mbak udah baca belum? Kalo belum baca, saya rekomendasikan deh.

Klo di Palembang ndak ada, bisa saya kirim mbak, tapi mau ta?(gratis deh)

Saya ini paling sueneng kalo bicara tentang pendidikan.
Hidup saya, saya fokuskan selain untuk ibadah juga untuk pendidikan. Khususnya lingkup nusantara dan global.

Trus bisa juga di lihat di
http://adisubiyanto.multiply.com/links/item/48

1--Home Schooling masih inklusif dan mahal, begitu juga dengan sekolah alam.
Ndak relevan banget dengan kondisi masyarakat Indonesia yang didominasi warga miskin.
Pendidikan murah saja tidak cukup kawan, yang juga harus diperhatikan adalah kualitasnya...

Insya Allah...gagasan ini akan menjadi awal tangga estafet perjuangan kita dalam mewujudkan peradaban manusia yang lebih baik di Indonesia khususnya, melalui pendidikan.

2==saya tunggu bantuan dan aksi anti di sana. Insya Allah sekolah model (masternya) sudah dibuat di Salatiga tersebut. Impiannya di setiap kecamatan di Indonesia akan ada minimal satu sekolah alternatif.....

Kalau mbak Nurul mau bisa tuh nanti buka disana juga. Tapi, untuk tahun ini dan tahun depan kita masih mbuat prototype yang lebih baik (edisi revisi) di Surabaya.


3. Kontak saya di no. CDMA 031-71054887 (sms aja, ya klo ndak punya pulsa)


wass


salam hangat

Makasih atas atensi, ukhti



ttd

Bapu Adi


kultupul wrote on May 9
subhanallah, ternyata kemajaun pendidikan pendidikan akan bisa segera teratasi walaupun hanya segelintir orang yang peduli dengan kebobrokan pendidikan ini. semoga ALLAH membantu kita semangat...ALLAH AKBAR
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help