Goresan Sang Pemimpi(n) Peradaban

Blog EntryGuru Inspiratifkah Anda?Sep 6, '07 12:16 AM
for everyone
Guru Inspiratif

Dalam hidup ini kita mengenal dua jenis guru, guru kurikulum dan guru inspiratif. Yang pertama amat patuh kepada kurikulum dan merasa berdosa bila tidak bisa mentransfer semua isi buku yang ditugaskan. Ia mengajarkan sesuatu yang standar (habitual thinking). Guru kurikulum mewakili 99 persen guru yang saya temui.

Jumlah guru inspiratif amat terbatas, kurang dari 1 persen. Ia bukan guru yang mengejar kurikulum, tetapi mengajak murid-muridnya berpikir kreatif (maximum thinking). Ia mengajak murid-muridnya melihat sesuatu dari luar (thinking out of box), mengubahnya di dalam, lalu membawa kembali keluar, ke masyarakat luas. Jika guru kurikulum melahirkan manajer-manajer andal, guru inspiratif melahirkan pemimpin-pembaru yang berani menghancurkan aneka kebiasaan lama.

Dunia memerlukan keduanya, seperti kita memadukan validitas internal (dijaga oleh guru kurikulum) dengan validitas eksternal (yang dikuasai guru inspiratif) dalam penjelajahan ilmu pengetahuan.

Sayang, sistem sekolah kita hanya memberi tempat bagi guru kurikulum. Keberadaan guru inspiratif akan amat menentukan berapa lama suatu bangsa mampu keluar dari krisis. Semakin dibatasi, akan semakin lama dan semakin sulit suatu bangsa keluar dari kegelapan.

"Freedom Writers"

Karya-karya pembaruan, baik temuan spektakuler keilmuan, produk komersial, maupun gerakan sosial, akan tampak di masyarakat. Namun tak dapat dimungkiri, semua itu berawal dari sekolah. Dari tangan dan pikiran guru-guru inspiratif yang gelisah dan melihat perlunya kreativitas. Ia memperbaiki hal-hal yang dipercaya banyak orang tidak bisa diperbaiki dan menghubungkan hal-hal yang tidak terhubung (connecting the unconnected).

Kisah dan karya guru inspiratif antara lain dapat dilihat pada Erin Gruwell, perempuan guru yang ditempatkan di sebuah kelas "bodoh", yang murid-muridnya sering terlibat kekerasan antargeng. Berbeda dengan kelas sebelah yang merupakan kumpulan honors students, yang memiliki DNA pintar dan disiplin. Di honors class yang dibutuhkan adalah guru kurikulum.

Erin Gruwell memulai dengan segala kesulitan. Selain katanya "bodoh" dan tidak disiplin, mereka banyak melawan, saling melecehkan, temperamental, dan selalu rusuh. Di pinggang anak-anak SMA ini hanya ada pistol atau kokain. Di luar sekolah mereka saling mengancam dan membunuh.

Itu adalah kelas buangan. Bagi para guru kurikulum, anak-anak supernakal tak boleh disekolahkan bersama distinguished scholars. Tetapi Erin Gruwell tak putus asa, ia membuat "kurikulum" sendiri yang bukan berisi aneka ajaran pengetahuan biasa (hard skill), tetapi pengetahuan hidup.

Ia mulai dengan sebuah permainan (line games) dengan menarik sebuah garis merah di lantai, membagi mereka dalam dua kelompok kiri dan kanan. Kalau menjawab "ya" mereka harus mendekati garis. Dimulai dengan beberapa pertanyaan ringan, dari album musik kesayangan, sampai keanggotaan geng, kepemilikan narkoba, dan pernah dipenjara atau ada teman yang mati akibat kekerasan antargeng.

Line games menyatukan anak-anak nakal yang tiba-tiba melihat bahwa mereka senasib. Sama-sama waswas, hidup penuh ancaman, curiga kepada kelompok lain dan tak punya masa depan. Mereka mulai bisa lebih relaks terhadap guru dan teman- temannya serta sepakat saling memperbarui hubungan. Setelah berdamai, guru inspiratif membagikan buku, mulai dari biografi Anne Frank yang menjadi korban kejahatan Nazi sampai buku harian. Anak-anak diminta menulis kisah hidupnya, apa saja. Mereka menulis bebas. Tulisan mereka disatukan, dan diberi judul Freedom Writers. Murid-murid berubah, hidup mereka menjadi lebih baik dan banyak yang menjadi pelaku perubahan di masyarakat. Kisah guru inspiratif dan perubahan yang dialami anak-anak ini didokumentasikan dalam film Freedom Writers yang dibintangi Hilary Swank.

Keluar dari belenggu


Apa yang dilakukan Erin Gruwell sebenarnya tidak hanya terbatas pada dunia pendidikan dasar, tetapi juga pada pendidikan tinggi. Namun, entah mengapa belakangan ini dunia pendidikan kita kian mengisolasi diri dari dunia luar dan hanya ingin menghasilkan lulusan yang terbelenggu kurikulum.

Yang disebut dosen teladan adalah dosen yang patuh mengikuti kurikulum, menulis karya ilmiah di jurnal-jurnal tertentu yang sudah ditentukan, meski pembacanya belum tentu memadai, dan rajin mengisi daftar absensi. Dengarlah protes Kazuo Murakami PhD, pemenang penghargaan Max Planck (1990) yang menulis buku Tuhan dalam Gen Kita: The Devine Message of The DNA (2007). Ia terpaksa hijrah ke AS saat menyaksikan dominasi guru- guru kurikulum di Jepang membangun benteng hierarki. Universitas, katanya, telah menjadi menara gading yang tak peduli dengan apa yang terjadi di luar.

Meski belum menonjol di masyarakat, peran guru-guru inspiratif ini amat dibutuhkan. Terlebih anggaran pendidikan kita masih terbatas dan lulusannya banyak yang tidak bisa bekerja sesuai dengan bidang studi yang ditempuhnya. Kita tidak bisa mendiamkan lahirnya generasi yang patuh kurikulum, pintar secara akademis, tahu kebenaran internal, tetapi kurang kreatif mendulang kesempatan dan buta kebenaran eksternal.

Ada dua masalah yang harus direnungkan. Pertama, dosen kurikulum hanya membentuk kompetensi (student’s ability), hanya membentuk beberapa orang, untuk kepentingan orang itu sendiri. Guru inspiratif membentuk bukan hanya satu atau sekelompok orang, tetapi ribuan orang. Satu orang yang terinspirasi menginspirasi lainnya sehingga sering terucap kalimat "Aku ingin jadi seperti dia" atau "Aku bisa lebih hebat lagi".

Kedua, ketidakmampuan para pendidik merespons aneka tekanan eksternal dapat membuat mereka membentengi diri secara berlebihan dengan mengunci kurikulum secara sakral. Tiap upaya yang dilakukan para guru kreatif untuk meremajakannya dianggap ancaman, bahkan sebagai perbuatan tidak bermoral

Masih teringat jelas, kejadian yang menimpa seorang guru inspiratif yang saya kenal. Pada tahun 2005 ia menerima penghargaan dari Yayasan Pengembangan Kreativitas atas karya-karyanya di bidang pendidikan. Saat itu, penghargaan serupa dalam setiap bidang juga diberikan kepada Helmi Yahya, Jaya Suprana, Bang Yos, dan Guruh Soekarno Putra. Akan tetapi, tak banyak yang tahu hari-hari itu ia baru saja menerima ancaman pemecatan karena dianggap melanggar "kurikulum". Kesalahannya adalah telah memperbarui metode pengajaran agar murid-murid menjadi lebih artikulatif. Murid senang, tidak berarti guru-guru lain senang. Mereka merasa terganggu oleh penyajian di luar kurikulum dan mereka menuntut agar guru ini ditarik. Semester berikutnya nama dia dicoret dari daftar pengajar. Karier guru besarnya pun dipersulit oleh guru-guru kurikulum yang menggunakan kaca pembesar menguji kebenaran internal.

Kata Jagdish N Sheth, begitu orang- orang lama menyangkal realitas baru, mereka dapat menjadi arogan, terperangkap dengan kompetensi masa lalu, ingin hidupnya nyaman, dan membangun batas-batas kekuasaan teritorial. Perilaku internal itu adalah belenggu inertia, yang disebutnya destructive habits. Mereka menggunakan mikroskop untuk memperbesar hal-hal kecil yang tidak dimiliki.

Sudah saatnya benteng inertia seperti ini dihapus dengan "memanusiawikan" kurikulum dan memberi ruang lebih memadai bagi guru-guru kreatif.

15 CommentsChronological   Reverse   Threaded
treekurnia wrote on Sep 6, '07
wadow...q guru inspiratip g ya..???? sulit loh kalo dah bicara lapangan pa lagi kalo dah di depan murid yang pelamas alias pemales.....hehe....jadi inget q jaman sekolah dulu. but makasih buat postingannya. salam kenal.
pksrorotan wrote on Sep 6, '07
subhanallah ..."tulisan inspiratif"..... :> TFS...
mau ramadhan. mohon maaf lahir batin.
lusianahartono wrote on Sep 6, '07
salam kenal..
gw dulu guru kyk apa ya?
males ngikutin kurikulum sekolah seh, tapi wajib ngikutin hehehe
ceumimin wrote on Sep 6, '07
Kita emang kurikulum habis..
Padahal dalam kurikulum itu sendiri dibebaskan untuk kreatif, hanya sayangnya guru2nya dah lama dijajah belanda kali ya, akhir e keukeuh harus ikutin pakem kurikulum...Ngga inspiratif jadinya..
mvlia wrote on Sep 6, '07
bagusnya dibuat sekolah untuk mencetak guru inspiratif,
masih 1% tuh..
puthrieazzahra wrote on Sep 6, '07
Yups, kita emang berpatokan pada kurikulum yeee.
althafayesha wrote on Sep 6, '07
langkah pertama jadi guru inspiratif bagi anak-anak kita ..........bukan hal mudah ya..........tapi mari dicoba.........inspirasinya ngga harus sesuatu yang besar khan ya mas ?
ummif2 wrote on Sep 6, '07
Fuuuiih......beyaaaaatnya jd inspiratif teacher haree gini abis murid2nya g inspiratif jg....harusnya dibuat inspiratif kurikulum getuh...spy ga ada lg guru kurikulum...lahirlah guru kurikulum yg inspiratif...gmn??? ^_^
mayangfi2007 wrote on Sep 9, '07



Lihat Kartu Ucapan Lainnya
(KapanLagi.com)

adisubiyanto wrote on Sep 10, '07
mvlia said
bagusnya dibuat sekolah untuk mencetak guru inspiratif,
masih 1% tuh..
Boleh tuh....
Makanya langkah pertama adalah mewacanakannya ke para 'guru-guru' bangsa ini.
Guru disini tidak harus seseorang yang berprofesi sebagai guru disekolah.
Bisa jadi ia adalah seorang orang tua, atau kakak, dll

Btw, Meisiska juga guru,ya?
Ngajar dimana?

Adhiji
takedisaja wrote on Sep 11, '07
dah baca buku2nya Andrea Hirata ga'?! di buku2 itu ada 3 guru inspiratif. hebat ya justru di desa yang bangunan sekolahnya saja ampir roboh, guru inspiratif itu ada. sementara di kota2 besar yg gedung2 & fasilitas sekolahnya bisa dibilang mewah jarang guru inspiratif. tanda2 apa ya...?!
mvlia wrote on Sep 12, '07
saya mah bukan guru,
tapi sedikit concern sama pendidikan dan pengajaran disini
terbukti saya adalah mahasiswa yg banyak protes dengan kebijakan2 yang aneh bin ga masuk akal di almamater...haha
tarkhiena wrote on Sep 17, '07
ummif2 said
Fuuuiih......beyaaaaatnya jd inspiratif teacher haree gini abis murid2nya g inspiratif jg....harusnya dibuat inspiratif kurikulum getuh...spy ga ada lg guru kurikulum...lahirlah guru kurikulum yg inspiratif...gmn??? ^_^
benerrrrr banget... sekarang yang harus kita lakuin pertama-tama mungkin guru2nya harus dijadiin satu kesatuan, cos semuanya saling berkaitan (inspiratif n kurikulum)... so Indonesia bisa jadi negara terbesar dengan guru2 yang inspiratif dan tetap berpatokan pada kurikulum...

NB. Menurut kuh.... yang namanya kurikulum itu seharusnya merupakan pedoman yang berbentuk konsep untuk hal2 yang prinsipil... so ga harus mendetil sampe ke contoh2 soal, yang sangat njelimet dan begitu mengikat gurunya....
terbangkelangit wrote on Oct 7, '07
Uuh, pengetahuan ttg pendidikan tinggi2 euy! Yg saya tahu, guru inspiratif itu:

"Yang memberikan muridnya sebuah jati diri, menarik keluar semua potensi murid, tak peduli siapapun dia, lalu menumbuhkan karakter sehingga dia jadi orang besar"
tarkhiena wrote on Oct 10, '07
yah... setidaknya memiliki hati yang besar....
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help