Goresan Sang Pemimpi(n) Peradaban

Blog EntryPertemuan Imajiner dengan Hasan Al-BannaOct 15, '07 9:15 PM
for everyone

Pertemuan Imajiner dengan Hasan Al-Banna
by : Adi Subiyanto

“….hanya ada satu fikrah yang bisa menyelamatkan dunia yang tersiksa, membimbing kemanusiaan yang kebingungan, dan menunjukkan manusia ke jalan yang lurus. Karena itu, ia berhak mendapat pengorbananan jiwa, harta, dan segala yang murah maupun mahal untuk memproklamirkannya, memberi kabar gembira de
ngannya, dan membimbing umat manusia kepadanya. Fikrah itu adalah Islam yang hanif, tiada cacat di dalamnya, tiada kejelekan bersamanya, dan tiada kesesatan bag yang mengikutinya…….”


Di luar udara sangat dingin. Walaupun begitu, kamar kecilku terasa sangat panas apabila kita masuk kedalamnya. Maklum Surabaya. Malam itu sepi. Sebagian warga sedang pulang kampung untuk menemui koleganya. Selama set
ahun bekerja di kota, tentunya ‘agenda’ pertemuan tahunan ini tak rela untuk dilewatkan. Hanya beberapa tetangga yang sibuk kerja dan mahasiswa sepertiku yang tak pulang. Masih banyak penelitian dan tugas yang harus kuselesaikan.

Tak seperti biasa malam ini benar-benar sepi.
Jam dinding menunjukkan pukul 02.47. Mendekati shubuh. Seperti biasa, aku sedang mengetik sendirian. Kontrakan terasa sepi dan beku. Lampu ruangan masih menyala benderang. Aku masih duduk merapat di komputer. Layar monitor itu menyala terang. Satu jam kemudian terdengar adzan dari masjid sebelah kontrakan. Suara gema adzan itu terdengar istimewa. Kedengarannya bukan adik-adik remaja masjid yang adzan. Pekan lalu, saat Ramadhan….adik-adik remas senantiasa
berebut untuk membangunkan saur dengan bunyi-bunyiannya dan ‘mengajak’ orang sholat dengan adzan ‘lugu’nya. Ya…dengan suara dan bacaan terbata-bata. Namun, tetap antusias dan tak takut salah. Seharusnya begitulah kehidupan para aktivis kebenaran, hidup dalam semangat yang tinggi dan berani memberikan sikap tegas pada siapapun yang perlu pelurusan. Usai mengambil air wudhu aku membu
ka pintu depan. Air sumur yang dingin sungguh menghilangkan kantukku. Hembusan udara pagi menyentuh kulitku. Sejuk sekali.


Di masjid ada lima jama’ah sedang menunggu. Empat orang tetanggaku dan satu orang lagi kukira sanak famili dari tetanggaku. Wajahnya
tak seperti kami. Ia memakai kopyah merah a
la Mesir. Berjenggot tak terlalu tipis, namun tak terlalu tebal. Perawakannya yang tinggi dan besar menunjukkan bahwa dia seorang Timur Tengah. Ia mirip orang Kairo. Ia tersenyum melihatku. Parasnya seperti kukenal. Wajah yang seolah tak asing lagi. Ia berdiri dan melantukan iqamah. Suaranya datar dan merdu. Menunjukkan kualitas bacaan Qur’an yang bagus. Hangat menyentuh jiwa. Seorang Imam, Pak Slamet mengimami kami. Sekitar 7 menit sholat shubuh tersebut selesai. Orang baru itu duduk di sampingku.

Empat jama’ah pulang. Aku memilih untuk berdzikir lebih lama dan berdoa. Hatiku sedang gelisah. Gelisah dengan kondisi umat yang semakin tak karuan. Aku berdoa untuk mendapatkan jawaban dari semua pertanyaan-pertanyaan membumiku. Cara terbaik untuk mendapatkan kunci jawaban dari masalah dunia ini---menurutku—adalah dengan berdiskusi dan bertanya langsung, memohon petunjuk dari Yang Menguasai Dunia ini. Saat aku hendak keluar, aku lihat orang baru itu sedang membaca. Ia melihatku dan menyapa terlebih dahulu, Assalamu’alaikum akhi (saudaraku)!” “Wa’alaikum Salam” jawabku sambil melirik buku yang dipegangnya.

Buku itu seperti sebuah Al-Qur’an. Namun terlalu tebal untuk sebuah Al-Qur’an. Tebalnya sampai 400-an halaman. Aku seperti pernah melihat buku bersampul putih tersebut. Seperti baru bulan kemarin aku mendapatkan dan membacanya dengan intens.

Ini Maj’muatur Rasail--Risalah Pergerakan Dakwah Ikhwanul Muslimin’ katanya seolah tahu apa yang kupikirkan. Walau aku sudah menduga, tapi ini mengejutkanku. Di sebuah kampung yang dipenuhi dengan orang-orang desa, ada seseorang yang membaca buku ini. Kumpulan risalah yang telah dibukukan 2 jilid ini selalu berada dalam tas ranselku kemanapun aku pergi. Ini ceramah dan tulisanku yang telah dibukukan oleh saudara-saudara di Mesir!’ sambungnya tanpa kuminta. Aku malah terkejut untuk kedua kalinya. ‘Berarti Anda adalah Hasan Al-Banna itu, ya?’ kataku setengah gagap. ‘Alhamdulillah. Kau benar saudaraku. Namaku Hasan Ahmad Abdur Rahman Al-Banna. Aku lebih dikenal dengan Hasan Al-Banna.’

Kukedip-kedipkan mataku beberapa kali. Jangan-jangan aku salah lihat. Benar, ia mirip Hasan Al-Banna. Tapi bukankah Hasan Al-Banna telah lama tiada? Aku memang sedang mengkaji dan menulis tentangnya. Pikiran, gagasan dan pergerakannya. Tak kusangka kini aku bertemu dengannya.

‘Badanku memang telah lama tiada. Tapi gagasan, pikiran, keimananku yang jujur menyapa ke seluruh penjuru dunia. Anak-anak muda sepertimu. Yang rindu akan peradaban dunia yang lebih baik. Rindu dengan kepemimpinan peradaban Islam yang mengayomi dunia. Menggantikan peradaban Barat yang sudah tua-loyo dan rapuh.’

Buku Majmu’atur Rasail itu diletakkannya disampingku. Suaranya masuk ke dalam relung pikiran dan jiwaku yang terdalam. Bicaranya tanpa cacat. Semua orang yang berhadapan langsung dan mendengarkan pembicaraannya, pasti akan terhanyut dalam pikiran-pikiran hanifnya. Ia kembali meniupkan angin harapan dalam diriku. Harapan bahwa dunia ini akan lebih baik dengan kembali ke Islam. ‘Saudaraku, kita harus meyakini bahwa Islam adalah nilai yang komprehensif, mencakup seluruh dimensi kehidupan. Dia memberi fatwa tentang seluruh masalah kehidupan, menetapkan sistem yang akurat, serta tidak statis menghadapi berbagai masalah yang dinamis dan berbagai aturan yang dibutuhkan dalam perbaikan umat.’

Perkataan yang terus meluncur dari bibirnya, memancingku untuk berdebat dengannya.
“Bagaimana analisa Anda tentang kondisi umat manusia akhir-akhir ini, Tuan?” tanyaku

“Saudaraku, ketahui dan belajarlah, bahwa kondisi umat dalam hal kuat, lemah, remaja, tua, sehat, dan sakit sama persis dengan keadaan seorang manusia. Terkadang seseorang terlihat kuat, bugar, dan sehat, tapi tiba-tiba saja ia kelihatan terserang penyakit dan badannya yang kuat digerogoti penyakit. Ia selalu mengeluh dan merintih, ingga ia tertolong oleh rahmat Allah melalui dokter dan ahli medis profesional, yang mengetahui letak penyaki,t piawai dalam mendiagnosa dan menganalisa jenis penyakit, kemudian tulus melakukan pengobatan. Tidak seberapa lama, kekuatan dan kesehatan orang yang sakit itu pulih kembali, bahkan ia lebih baik dibandng sebelum diakukan pengobatan.

Katakan seperti itu untuk keadaan umat. Kejadian-kejadian zaman terkadang membawa sesuatu yang dapat mengancam eksistensinya, meretakkan bangunannya, dan virus penyakit menggerogoti aspek-aspek kekuatannya. Virus itu selalu menyerangnya secara membabi buta, hingga ia terlihat kurus dan lemah. Maka orang-orang serakah inign memangsanya dan para perampas ingin mengganggunya. Namun, ia tidak kuasa melawan perampas dan tidak berdaya menghalangi orang yang rakus. Kondisi demikian dapat diobati melalui tiga hal (1) mengetahui letak penyakitnya, (2) sabar menanggung pedihnya pengobatan, (3) adanya dokter, (4) hingga Allah berkenan menyembuhkannya dengan sempurna.” Jawabnya panjang

‘Apakah pernyataan tersebut bisa Anda buktikan, Tuan?” timpalku
“Tak perlu saya sebutkan secara detail kasus perkasus. Berbagai pengalaman dan rentetan peristiwa telah mengajarkan kepada kita bahwa penyakit banga-bangsa Timur sangat beragam, memiliki beberapa gejala, dan telah menyerang seluruh sendi kehidupannya.
Secara politik, ekonomi, pemikiran, sosial, pendidikan, kejiwaan. Apa yang bisa diharap dari suatu umat yang diserang berbagai penyakit ganas, dimana fenomena dan gejalanya nampak dengan jelas; penjajahan dan friksi, riba dan dominasi perusahaan asing, atheisme dan hedonisme, kerancuan sistem pendidikan dan perundang-undangan, keputus-asaan dan kebakhilan, sifat banci dan pengecut, serta kekaguman pada musuh hingga menyebabkan taklid dalam segala hal, terutama perilaku-perilaku buruk. Satu penyakit saja dapat membunuh umat. Lantas bagaimana jika semua penyakit itu menjangkiti tubuh umat ini?

Hasan Al-Banna berdiri dan menuju mimbar kemudian perpustakaan kecil masjid. Dipandangnya semua fasilitas minimalis tersebut. Pandangannya menyisir semua sudut ruangan masjid yang kosong tersebut.

Masjid ini akan makin segar kalau engkau isi dengan ta’lim dan halaqoh pekanan. Tak kulihat seorang pun di masjid ini selain kita berdua, yang berusaha meramaikan masjid. Di tempatku masjid tak pernah sepi. Dari yang sekedar numpang istirahat dan shalat-tilawah, adik-adik TPA, sampai ta’lim-kajian keislaman, dan rapat-rapat para aktivis. Bahkan seminar dan pelatihan pun sudah mulai kita giring ke masjid. Masjid bukan tempat untuk shalat ansich. Juga, tempat untuk segala kegiatan yang bermaslahat bagi umat. Nabi juga melakukan rapat-rapat pemerintahan di Masjid.”

Al-Banna kembali duduk disampingku. Diamnya menyiratkan banyak makna bagiku. Orang yang jarang tidur ini terlihat sangat bugar dan tak tampak segurat-pun kelelahan diwajahnya. Kekuatan tekad, prinsip dan keimanannya seakan membentuk fisiknya agar setangguh pikiran-pikirannya. Aku sangat senang memandang wajahnya. Tenang dan jujur.
Hampir setiap hari aku bergulat dengan pemikiran-pemikiran tokoh pergerakan Islam terbesar abad ini. Namun, baru kali ini aku mendengar langsung kata-katanya. Aku memilih untuk banyak mendengar daripada berbicara.

“Saudaraku, sesungguhnya…sebuah pemikiran akan meraih sukses manakala keimanan kepadanya kuat, tersedia keikhlasan di jalannya, semangat untuk memperjuangkannya semakin bertambah, dan ada kesiapan untuk berkorban serta beramal dalam mewujudkannya. Sepertinya keempat rukun ini, yakni iman, ikhlas, semangat, dan amal merupakan karakter pemuda. Dan aku lihat itu ada pada dirimu.” Ia berhenti memberikan jeda.

“Sebab sesungguhnya dasar keimanan adalah hati yang cerdas, dasar keikhlasan adalah nurani yang jernih, dasar semangat adalah perasaan yang menggelora, dan dasar amal adalah kemauan yang kuat. Dan, itu semua tida terdapat kecuali pada diri para pemuda. Karena itu, sejak dulu hingga sekarang pemuda merupakan pilar kebangkitan setiap umat, rahasia kekuatan dalam setiap kebangkitan, dan pengibar panji setiap fikrah (pemikiran). Dengan demikian, kewajiban kalian sangat banyak, tanggung jawab kalian sangat besar, hak umat yang harus kalian tunaikan semakin berlipat, dan amanat yang terpikul di pundak kailan semakin berat. Karena itu, kalian harus berpikir panjang, beramal banyak, menetukan sikap, maju untuk menjadi penyelamat, dan menunaikan hak-hak umat dari pemuda dengan sempurna. Jadilah manusia besar yang hidup berjuang untuk umat, bukan manusia kecil yang seluruh waktu, keahlian, dan potensinya dicurahkan untuk egoisme pribadi. Manusia kecil ini tidak melakukan apapun untuk orang lain dan tidak memperhatikan sedikitpun terhadap kepentingan umatnya. Karena itu, bersiap-siaplah wahai para pahlawan! Sungguh, alangkah dekatnya kemenangan bagi kaum mukminin dan alangkah besarnya keberuntungan bagi para aktivis yang tak henti berjuang. Syi’ar abadi kita adalah : Allah tujuan kami; Rasul pemimpin kami; Al-Qur’an undang-undang kami; jihad jalan kami; dan mati di jalan Allah adalah cita-cita kami tertinggi.”


Pernyataannya terakhirnya ditutupnya dengan kata perpisahan. Sepertinya masih banyak sekali agenda tokoh Ikhwanul Muslimin ini. Bersyukur sekali, pemuda biasa sepertiku bisa dikunjungi oleh orang besar seperti beliau. Diajaknya aku berjabat tangan dan pelukan erat diberikannya kepadaku. Pelukan dan genggamannya kukuh. Sesuai dengan konsepsinya. Aku ingin bertanya banyak padanya. Mengajaknya berjalan-jalan melihat kondisi umat di Indonesia. Tapi lesat kakinya tak mau dirunding. Jalannya yang seperti setengah berlari hanya meninggalkan bayangan hitam. Aku hanya bisa tertegun mengingat-ingat pesannya.

“……..wahai pemuda. Manhaj Ikhwanul Muslimin telah memiliki tahapan-tahapan perjuangan yang jelas. Pertama, pembentukan individu muslim. Kedua, pembentukan keluarga muslim. Ketiga, pembentukan masyarakat muslim. Keempat, pembentukan pemerintahan muslim. Kelima, pembentukan umat muslim dengan menggabungkan bebagai bagian negara Islam yang telah dicerai-beraikan oleh sistem politik. Keenam, mengembalikan negeri-negeri Islam yang telah dirampas musuh (Andalusia, Sicilia, Balkan, dan lain sebagainya). Ketujuh, menyampaikan dakwah Islam ke seluruh alam…………”

Kata-kata itu masih terngiang ditelingaku. Masih jelas ingatanku terhadap sebagian besar pelajar dan mahasiswa sibuk dengan kuliah-kuliah klasikalnya dan menulis makalah akademisnya, tanpa menoleh sedikitkpun dunia di sekitarnya. Seolah anugerah kepintaran dan umur mudanya adalah untuk mereka sendiri. Sadarkah mereka bahwa umat sedang menunggu uluran tangan dan aksi-aksi riil mereka? Marilah kawan….pahlawanku. Datanglah. Jemputlah kursi kemulian yang telah disiapkan untukmu. Ubahlah tantangan ini menjadi peluang. Kecemasan ini menjadi harapan. Ketakutan ini menjadi keberanian. Dan krisis menjadi berkah. Kami menunggumu. Kalau tak ada yang mau. Paling tidak itu aku.

Selasa, 16 Oktober 2007


12 CommentsChronological   Reverse   Threaded
dianutami wrote on Oct 16, '07
what a dream! to meet him here and now.....
terbangkelangit wrote on Oct 16, '07
jadi cuma di imajiner toh? bikin kaget aja...
terbangkelangit wrote on Oct 16, '07
mas, gimana sih cara bikin kutipan di multiply??jadi kata2 orang laen dikutip dulu, baru selanjutnnya komentar kita, dan itu warnanya beda. gimana caranya??
prambanan wrote on Oct 16, '07
Masjid bukan tempat untuk shalat ansich. Juga, tempat untuk segala kegiatan yang bermaslahat bagi umat. Nabi juga melakukan rapat-rapat pemerintahan di Masjid.”
Semoga tidak ada lagi masjid yang terkunci diantara waktu shalat, dan dibuka hanya pada waktu sholat......
ceumimin wrote on Oct 16, '07
Semoga kita mengikuti langkahnya...
Banyak yg menentangnya namun saya yakin jalannya adalah baik,...
ukhlayla wrote on Oct 30, '07
hm......
staatsman21 wrote on Jan 14
aku belum jumpa organisasi islam yg seperti ikhwanul muslim, geraknnya konprehensif, kita harus bisa menirunya, aku add, yaaa...
asihterpejam wrote on Jan 24
Subhanallah...tfs *_*
abizif wrote on Jan 26
Jzkllh KK akhi 4 sharing.
:-)
kultupul wrote on May 9
wah keren nih.....
auliaepriya wrote on Jun 15
TFS
agussur wrote on Jun 18
sUBHANALLAH
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help