Goresan Sang Pemimpi(n) Peradaban

Itu Mimpimu…Ini Mimpiku!


“….Sesungguhnya amal (action) itu tergantung pada niat (visi, misi, obsesi, impian) dan setiap orang hanya memperoleh apa yang ia niatkan. Barang siapa yang hijrahnya (bepergian, beraktivitas) karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa ayang hijrahnya karena dunia yang ditujunya atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu kepada apa yang dihijrahkannya.”

------(Hadist riwayat Bukhori dan Muslim)-------


Saat minggu pertama kuliah di Ma’had Umar saya bertemu dengan seorang senior yang berparas lembut dan pendiam. Berdialog dengan beliau suatu kesempatan yang menarik bagi saya. Setelah ditraktir makan siang, beliau bercerita tentang pengalaman dan ‘dendam’-nya pada dunia sekolah.


Saat itu saya kelas dua SMA mau naik kelas tiga dan tentunya telah tiba waktu untuk memutuskan mau mengambil jurusan apa. Berdasarkan pengalaman dan ketertarikan saya dalam dunia sosial dan pendidikan, saya memutuskan untuk mengambil IPS. Mantap pokoknya. Ketika ia sampaikan pada pihak wali kelas, ternyata semua keputusan siapa saja yang akan masuk jurusan IPA dan IPS sudah ditentukan oleh rapat pihak guru, tanpa konfirmasi dari siswa itu sendiri. Ada keputusan sepihak disana. Saya yang sangat berminat masuk IPS, ternyata dalam keputusan dan pertimbangan (atau lebih tepat ke-soktahu-an) guru..dinyatakan masuk IPA. Kenapa para guru tak pernah bertanya kepada saya, saya mau masuk apa. Akhirnya saya menyampaikan kepada pihak wali kelas tentang hal tersebut, dan beliau sepakat. Guru-guru rapat dan ada seorang guru angkuh yang tak setuju kalau saya diberikan kebebasan memilih masuk IPS. “Khan, IPS itu bagi anak-anak yang prestasinya rendah!” tegasnya. “Sudah, jangan dibiarkan anak itu untuk semaunya sendiri. Entar melunjak!” imbuhnya. Esoknya saat si guru tersebut mengajar, saya dipanggil ke depan dan dimarah-marahi tanpa ampun. Ya..sekaligus dipermalukan di depan kelas. “Lihat si Hayyin, sudah sekolah nggak mbayar (karena beasiswa)….masih saja berlaku semaunya sendiri. Semuanya perhatikan….jangan ada yang mencontoh murid tak tahu diuntung!” kasar sekali si guru ini berbicara. Saya hanya diam saja. Kok ada guru seperti ini. “Sudah kamu kembali ke kelas IPA, dan jangan membantah…atau tidak usah masuk sekolah sekalian!” ancamnya. Saat jam pelajaran selesai, guru tersebut saya ajak bicara…mengapa ia melakukan hal seperti itu. Bagaimana mungkin seorang guru bisa menjatuhkan harga diri seorang murid didepan kelasnya sendiri? Hal ini sungguh tak bisa dimasukkan akal sehat. Guru ini benar-benar tak sehat akalnya. Terlalu dipenuhi emosi yang berasal dari sempitnya wawasan. Saya akhirnya menjalani kelas tiga tersebut dengan malas dan tak bergairah. Nilai-nilai pun turun drastis. Alhamdulillah lulus SMA…”


Apakah Anda juga pernah melihat, mendengar atau bahkan mengalami hal yang sama. Kasus-kasus serupa sudah seringkali saya dengar. Cerita tersebut masih panjang dan menurut saya cuplikan diatas tersebut yang paling menarik. Seringkali orang-orang ‘yang merasa tua, berpengalaman dan pintar’ disekitar kita seolah lebih tahu apa yang seharusnya kita lakukan dan apa yang terbaik bagi kita, tanpa memperhatikan kecenderungan potensial—bakat dan minat kita. Mereka seolah menutup mata dengan hobi maupun kegairahan kita disuatu bidang tertentu, karena mereka anggap tak ‘prospektif’ dalam menghasilkan uang di kedepan hari. Guru-guru akan bersorak gembira dan mendukung dengan penuh suka cita jika si murid memiliki obsesi yang ‘tampak menghasilkan’. Dokter, Notaris, Pengacara, Psikolog, Programmer dan lain sebagainya. Seolah dunia masih kekurangan dengan manusia-manusia berprofesi seperti itu. Tapi tak semua direspon dengan positif, banyak juga ‘orang-tua’ di sekitar kita lebih merasa tahu apa yang terbaik bagi kita dengan memaksakan impian mereka terhadap diri kita. Sebut saja Nanda, saya berkenalan dengannya disebuah warung kopi disebuah perumahan dekat rumah. Lama mengobrol dengannya terkuak beberapa fakta tentang lemahnya pelajar dan mahasiswa Indonesia tentang masalah visi dan manajemen kehidupan. Seperti dalam dialog-dialog hampir dengan semua remaja, saya selalu bertanya tentang beberapa hal pondasi.

Kenapa kamu kuliah di Hukum?’

Wah…kelihatannya prospek kedepannya bagus, Mas. Ya..cari kerjanya mudah-lah.’

O..gitu ya. Trus, memang kamu memang sangat menginginkannya? Apa yang sebenarnya kamu inginkan?’

Kalau aku sebenarnya ingin sekali masuk Otomotif, Mas. Cuma Papa tidak memperbolehkan. Papa mengatakan,”Mau jadi apa kamu, masuk Otomotif? Mau jadi kuli mesin yang belepotan oli. Kotor dan nggak jelas penghasilannya berapa. Sudah kamu masuk Hukum aja, seperti Papa. Biar nanti bisa jadi Notaris juga. Kalau kamu memaksa mau masuk otomotif, Papa nggak akan membiayai. Terserah kamu, pilih mana?’ Papa mengancam.”


Ya..akhirnya aku menurut aja deh. Daripada nanti kalau gagal malah disalahkan dan nggak dibantu membayar kuliahku, khan repot.

Jadi, kamu kuliah karena maunya orang tuamu.

Ya…begitulah. Ya…daripada durhaka. Hitung-hitung berbakti, ya..khan!


Nah, jelas sekali kondisi kepribadian mahasiswa ini. Silahkan dinilai, bagaimana tingkat kemandiriannya, kepercayaan dirinya, keberaniannya dalam bersikap dan mengambil keputusan buat masa depannya. Mahasiswa pelajar ‘dengan cita-cita pesanan’ seperti tak akan pernah sepenuh hati dalam menjalani apa yang ia kerjakan. Memang selalu ada perkecualian. Beberapa kawan bisa selesai menjalani ‘cita-cita pesanan’ ortu dan sampai doktor. Namun, sebenarnya hatinya tetap tidak disana. Para ‘orang tua’ (guru, ortu) sebenarnya bermaksud baik, ingin melihat anaknya sukses dan jelas dalam hidupnya. Sukses dan jelas dalam artian nantinya profesi yang akan digeluti tersebut dapat menghasilkan income (penghasilan materi) yang besar, yang diharapkan akan membuat hidup si anak akan bahagia dengan kecukupan tersebut. Anak-anak yang menjalani mimpinya orang lain tersebut tak akan mencapai yang dinamakan---menurut Anis Matta---- cita-cita tertinggi. Sehingga menimbulkan kegelisahan dan selanjutnya menimbulkan kemauan dan tekad. Ruh inilah yang tidak saya lihat pada kebanyakan mahasiswa dan pelajar Indonesia. Dalam Mencari Pahlawan Indonesia, Anis Matta menyatakan :


          "..mimpi mempunyai basis rasionalitas, struktur dan susunan yang solid,terbangun dari proses perenungan yang panjang dan mendalam,terbentuk melalui  pengalaman-pengalaman hidup yang terhayati dalam jiwa dan terolah dalam pikiran.Karena faktor-faktor pembentuk mimpi ini begitu kuat mengakar dalam kepribadian kita,maka mmpi biasanya tervisualisasi secara sangat jelas,sejelas maket bangunan bagi seorang insinyur."



Model pendidikan yang dilandasi dengan pola pikir materialistis akan menghasilkan intelektual-intelektual yang materialis pula. Akhirnya para pelajar hanya akan belajar dan melakukan semuanya itu (sekolah, kuliah, bimbel, nilai bagus dll) dalam bingkai untuk sekedar mencari uang. Selebihnya tidak. Doktrin untuk sukses (kaya dan mendapatkan pekerjaan enak) harus sekolah dan kuliah tinggi menjadi wejangan setiap hari yang dihembuskan ke setiap siswa di kelas-kelas.


Naif mengejek dalam liriknya ‘Uang’ :

Aku mau pulang

Aku mau pulang dan membawa uang, segudang..segudang..

Uuuu…uang….uu..uang!


Aku ingin lekas pulang

Dan membawa banyak uang


Anak dianggap sebagai aset oleh para orang tua dan guru. Sehingga anak yang sudah sekian lama dibiayai harus dapat ‘menghasilkan untung balik’ bagi ‘pemodal’ yang bernama orang tua.


Kisah nyata

Saya jadi teringat sebuah kisah yang dipaparkan oleh Bu Lupi, teman saya dalam penelitian. Beliau bercerita tentang kebakaran yang dialami oleh tetangganya. Si anak tetangga yang masih SD, ditinggal sendirian oleh kedua ortunya untuk bekerja. Entah apa penyebab kebakaran tersebut, tiba-tiba saja rumah sudah terbakar dan si anak yang panik kebingungan untuk membuka pintu. Kunci satu set tersebut ternyata menyulitkannya untuk menemukan kunci yang benar. Mungkin posisi panik membuatnya jadi nggak konsentrasi dan tubuhnya pun terbakar sedikit demi sedikit. Bu Lupi yang melihat kepulan asap langsung meminta seorang Bapak mendobrak pintu rumah tersebut. Bapak tersebut berkata,”Nanti kalau pintunya rusak bagaimana?” Bu Lupi menjawab,”Lho, penting mana anak sama rumah. Kalau nanti anaknya mati sampeyan mau tanggung jawab? Pokoknya anaknya diselamatkan dulu.” bantah Bu Lupi.

Anak yang sudah setengah terbakar, kulit-kulitnya banyak yang terkelupas—rambutnya bau sangit segera dilarikan ke UGD RS setempat. Orangtuanya ternyata masih dikantor. Setelah dihubungi si ortu malah nggak langsung menjenguk anaknya yang sudah ngamar di UGD, namun lebih memilih dan mengkhawatirkan rumahnya. Si Ibu yang baru tiba langsung menangis dan terpaku melihat rumahnya habis terbakar. “Waduh,….gimana rumahku? Nanti tidur dimana? Nggak ada duit untuk merenovasi.” Si Ibu tak segera bergerak menuju UGD.


Bu, sampeyan itu gimana, sih? Anaknya sampeyan itu lho di UGD terbakar? Wis, langsung aja kesana. Sudah saya urus sedikit.” kata Bu Lupi mengingatkan.


Kisah tersebut sempat membuat saya dan Bu Lupi tertawa. Kok ada ya orang tua yang lebih mementingkan rumahnya daripada anaknya. Lebih panik dan merasa rugi kalau rumahnya terbakar daripada anaknya yang terbakar. Rumah dipandang aset dan anak dipandang sebagai pengeluaran. Ironis sekali matematika seorang materialis. Orang tua dan guru akan merasa gagal jika si anak (murid) tak jadi orang yang sukses secara materiil. Anak akan dianggap menyusahkan dan tidak berguna apabila belum menghasilkan uang alias bekerja. Kalau sudah kerja pun, masih saja ada intervensi….harusnya gaji sekian-lah, jabatan ini-lah. Tak ada acungan jempul kalau semua aktivitas si murid dan anak belum menghasilkan rupiah. Sekalipun itu atas nama sosial, dakwah dan lain sebagainya akan ditanggapi dengan muka ‘sinis’ dan dianggap tak berguna. Dan kebanyakan orang-orang disekitar kita ya..bersikap kurang lebih seperti itu. Maka, tidak berlebihan apabila Tonny D. Widiastono memberikan komentar dengan frase Memasarkan Sekolah dan Menyekolahkan Pasar. Beliau melanjutkan tidaklah mengherankan bila banyak orang tua sekarang mulai membuat kalkulasi. Berapa uang yang harus dikeluarkan untuk menyekolahkan anaknya, dan berapa uang yang bisa diperoleh anaknya setelah bekerja nanti. Pandangan ini secara tidak langsung menempatkan anak bukan sebagai subyek didik, tetapi aset. Anak pun dilihat sebagai modal (human capital).


Ayolah..apakah kita akan selamanya jadi robot yang harus dikendalikan remote kontrol oleh orang lain. Setiap manusia diciptakan oleh Yang Kuasa dengan potensi dan keunikan-keunikan tersendiri. Apakah dengan begitu saja kita akan mengabaikan amanah ‘langit dan bumi’.

Seorang teman ibu saya, Pak Dedy juga pernah mengingatkan hal terlucu dan terunik yang pernah saya dengar. Saya masih ingat betul beliau mengatakan,

Sampeyan itu khan Anak Gadang (anak yang paling diharapkan), kalau bisa kuliahnya diselesaikan dengan cepat. Terus, kerja….dan kalau bisa jadi PNS. Semua orang pasti menginginkan jadi PNS, ya tho? Gajinya tetap dan lumayan. Coba lihat yang wiraswasta..banyak yang gagal. Tul khan? Trus juga, jangan buru-buru menikah. Entar, kalau buru-buru nikah, lupa sama Bapak Ibu. Bapak ibu dienakkan dulu. Nanti kalau sudah mapan, sudah punya kerjaan yang enak…rumah lumayan bagus, silahkan mulai memikirkan untuk berkeluarga.”


Dalam batin aku ingin tertawa terbahak-bahak, namun saya tahan. Pendapatnya ada beberapa yang bagus, namun bagi saya hal tersebut terlalu konvensional dan ‘permukaan’ sekali. Walaupun saat itu saya diam dan seolah mengiyakan apa yang disampaikan, pikiran saya yang kritis tak bisa disuruh mengangguk begitu saja. Memang definisi sukses menurut dia bagaimana? Apakah kalau sudah jadi PNS itu bisa dikatakan sukses? Apakah benar apabila kita sudah berkeluarga akan lupa dengan orang tua. Ingin saya katakan bahwa saya akan memiliki perusahaan makanan terbesar se-Indonesia 15 tahun lagi. Mungkin saja model orang seperti Pak Dedy akan mengatakan, “Untuk apa? Dan apa untungnya bagi kamu?” Namun itulah yang menurut saya sebut sebagai ‘panggilan jiwa’ yang akan membuat hidup saya lebih bermakna. Dan saya akan mendirikan sekolah-sekolah termurah (bahkan gratis) disetiap kecamatan di Indonesia. Dan saya akan menulis100 buku sebagai warisan seperti apa yang diikrarkan Andrias Harefa. Saya hanya ingin surga Allah. Untuk apa juga manusia hidup kalau tak ada manfaat bagi diri dan dunia pada umumnya? Apakah semua itu salah? Tak ada yang salah. Itu mimpimu dan inilah mimpiku. Perbedaan keyakinan yang berasal dari perbedaan ideologi, referensi, pengalaman hidup dan lingkungan membuat impian kami begitu berbeda. Yang satu berkutat pada materi, yang lain lebih pada kebermaknaan (spiritual).


Dan kenapa dari sekian banyak manusia yang saya kenal, lebih banyak mereka memikirkan ‘perut sendiri’. Menjadi manusia-manusia kecil yang tak berharga dimata manusia maupun dimata Allah. Saya ingin menjadi manusia besar itu. Saya akan “…..mulai belajar meninggalkan diri,” kata Anis Matta mengenang pahlawan, “meninggalkan kekerdilannya, meninggalkan kelayakannya untuk hilang fana, menuju kebesaran, menuju keabadian, menuju dunia orang lain, menuju kenyataan bahw ia takkan mati selamanya. Kata-kata Pak Dedy,“Jangan begini ..begitu”, “Harus begini..” terdengar terlalu memaksa dan tak bijak. Seolah meremehkan bahwa kita tak tahu apa yang harus diimpikan. Tak tahu peran kepahlawanan yang akan diambil, sehingga kita harus menjalanan ‘impian pesanan’ yang terpaksa kita ambil…daripada tidak ada. Ayolah….jangan pernah biarkan impian—obsesi kepahlawanan yang sudah ada dalam dirimu direnggut oleh seorang manusia. Walaupun itu adalah orang terdekat kita. Saya yakin kita bisa melebihi aksi Muhammad Yunus, yang mendirikan Grameen Bank : Bank Para Pengemis dan Miskin. Juga Muhammad Fatih Murad ‘modern’ yang tidak saja mampu menaklukkan Konstantinopel, melainkan Eropa—China, Jepang dan Amerika. Dunia menunggumu untuk engkau taklukkan. Tidakkah engkau mendengar teriakan permintaan itu. Apapun mimpimu, keresahanmu, obesesi atau apapun istilah yang mendefinisikan tentang visi….periksalah; apakah cita-cita tersebut benar-benar bisa membuatmu lebih baik dan dunia lebih baik? Bisakah cita-cita tersebut membuat dunia dan Allah tersenyum puas dan ridho padamu? Saya percaya bahwa setiap manusia diciptakan Allah untuk ‘menduduki’ kursi kepahlawanan tertentu di dunia ini. Melakukan aksi-aksi revolusioner untuk membuat dunia lebih baik dunia akhirat. Namun, kebanyakan orang hanya tertarik untuk jadi orang biasa yang hidup dengan kenyamanan pribadi. Hanya orang-orang dengan jiwa-jiwa besar dan obsesi kepahlawanan yang akan merebut mahkota kemuliaan tersebut. Andakah itu?



Latihan Praktis :

Jawab dan lakukan beberapa pertanyaan dan statemen dibawah ini. Ambil kertas kosong dan tuliskan jawabannya di atasnya.

  1. Darimana saya berasal? Dan untuk apa saya hidup? Apakah agama dapat memberikan jawabannya? (Silahkan tanyakan pada Ustadz yang kompeten)

  2. Ingin dikenal sebagai siapa dan apa nanti setelah saya meninggal? Karya-karya apa yang membuat diri saya dan dunia lebih baik?

  3. Apa yang saya sangat sukai dan hal tersebut bermanfaat bagi diri saya, dunia dan agama? (Sebutkan satu saja apa yang Anda sangat sukai, dan saya akan tunjukkan dan dampingi bahwa Anda bisa menjadi terbaik di bidang Anda.)

  4. Kemudian yakini, terjun dan fokuslah kepada apa yang Anda impikan.




Adi Subiyanto
Koordinator Sekolah Komunitas Super Murah Berkualitas Dunia
---Peradaban Mulia mulai dari Anak-anak Terpelajar—
CDMA 031-71054887

“Kami hanya bicara tentang hasil. Di setiap pulau-perkota-perkecamatan seluruh Indonesia mulai 2008 ini akan didirikan sekolah alternatif berkualitas global dengan biaya supermurah berbasis komunitas. Bergabunglah bersama kami dalam pencarian pendidikan universal.”




terbangkelangit wrote on Oct 20, '07
Ini toh artikel yg anda janjikan?
*mikir serius*
adisubiyanto wrote on Oct 20, '07
Bukan ini...
Kalau 'pesanan' Bang Wahyu baru itu yang seri 3-nya.....

Ini masih bersifat 'memanas-manasi' dan masih terkesan banyak berbicara konseptual, walaupun ada sisi praktisnya.

Tentang sharing Bang Wahyu; "Sebenarnya saya ingin ingin dan harus jadi apa?" akan coba saya bicarakan dalam "POSITIONING" (The Next Artikel) ...Maaf belum sempat up load...
adisubiyanto wrote on Oct 20, '07
Waduh...kaya konsultan aja, nih! Jadi gimana gitu....

Ya..moga artikel pendek yang penuh dengan kekurangan sana-sini bisa memberikan pencerahan kpd saya dan juga kawan-kawan semua!!!

Silahkan ...dibantah dengan artikel yang lebih bagus yg 'Third alternative' (Covey)
emsichalimi wrote on Oct 21, '07
mimpiku mimpimu. kamu boleh kok ikuti mimpiku!
ukhlayla wrote on Nov 4, '07
Artikelnya Cukup lumayan dahsyat Pak.....
adisubiyanto wrote on Nov 8, '07
Artikelnya Cukup lumayan dahsyat Pak.....
Seri Transitive Student ini saya khususkan untuk menjadi buletin pekanan buat SMKN 11. Silahkan dicopy dan diprint aja..trus digandakan deh.

Ada dana,khan? Kalau nggak ada bilang deh. Nanti ana kirimin.

Jadi akan ada Seri Transitive Student 2,3 dst...untuk SMKN 11.

Insya Allah akan sangat bermanfaat deh.

Untuk format dan desainnya saya serahkan pada dik Layla. Mungkin nanti akan sedikit saya tambahkan untuk bagian bawahnya.

Kalau udah nerima surat ini. Mohon SMS, ya?
Saya amat sangat super suiiibuk untuk bulan-bulan ini. Mohon pengertiannya. Saya hanya paling banter bisa menjadi kontributor buletin SMKN 11. Saya mengusulkan namanya GENIUZ...
Menarik dan unik kedengarannya. Siapa sangka nanti juga bisa jadi majalah pelajar se-Indonesia. Ingat, belum ada lho majalah yang khusus berbicara tentang dunia pelajar dan berkualitas. Paling terbatas hanya dunia remaja saja.

Saya tunggu kabarnya.
ihlasuddini wrote on Nov 10, '07
ikutan latihan praktisnya ah...
ciciimut wrote on Nov 13, '07
baca artikel ini, mengingatkan saya kepada salah seorang teman saya. dia kuliah jurusan farmasi (keinginan Bapaknya), tapi sebenarnya ia hobby design graphis.

Tapi terkadang anak seperti buah simalakama. kalau tdk turutin keinginan org tua, dibilang ngelawan. kalau di ikutin, hati jg berontak. serba salah
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help