Halo pak Adi,
Saya mahasiswa semester 7 di Fakultas Hukum UPH. Saya membaca blog bapak mengenai psikotest, dan saya menemukan topik yg sedang saya cari mengenai pemecahan delapan gambar, menggambar manusia, pohon dan lainnya. Mungkin bapak bisa membantu saya mengenai topik tsb? Sebelumnya saya ucapkan terima kasih banyak atas kesediaan dan waktu bapak.
Salam sejahtera, Catherine Susantio Undergraduate Student Pelita Harapan University, Faculty of Law
Untuk tip mengenai pemecahan delapan gambar, menggambar manusia, pohon dan lainnya
Feminda Suryaning Indramayang kepada saya perlihatkan selengkapnya 26 Okt (3 hari yang lalu) hallo mas adi...
bisa minta tip pemecahan delapan gambar ..menggambar manusia pohon dan lainnya...kl bisa beserta gambar-gambarnya...
thanks -fenda-
hai aku mau dong tips tricknya ... thx before ..
Wahyu Nopa kepada saya perlihatkan selengkapnya 7 Sep Dear Mas Adi, Sebelumnya perkenalkan nama saya wahyu. Saya ingin dong tips untuk test gambar di psikotes itu.
makasih banyak ya mas
-- regards,
~wnes~ "Let the profits run"
Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan dengan nada seperti diatas.....Dan seperti inilah umpan balik yang bisa saya berikan.
JAWABAN SUBYEKTIF SAYA : Dalam kajian-kajian serta penelitian psikologi yang terbaru, memang penggunaan Psikotest model Lawrence tersebut ...sebenarnya sudah out of date. Tidak memanusiakan manusia. Coba lihat, bagaimana kepribadian-keimanan-kreativitas-integritas dan berbagai macam potensi lainnya hanya dilihat dari kualitas gambarnya saja (selain lamaran dan wawancara langsung).
Jelas nggak adil khan. Seperti melihat sebuah rumah hanya dari pintunya saja, trus kita mengatakan : "Rumah ini bagus!"
Saya sebagai pebisnis juga, lebih menggunakan wawancara langsung--rekomendasi orang terpercaya dan melihat hasil kerja langsung. Model penerimaan kerja konvensional konservatif seperti itu seyogyanya tak dipakai lagi. Sebagai seorang konsultan pendidikan saya sendiri tak memakai psikotes 'usang' ini.
Namun, dunia bisnis seolah latah memakai hal tersebut sebagai patokan penerimaan SDM mereka.
Oleh karena ketidak logisan tersebut, sampai hari ini saya tak berniat untuk melamar pekerjaan. Bahkan berkali-kali saya yang dilamar. Dan saya juga mendirikan bisnis diluar pendidikan, misal : bidang makanan. Sebagai pengusaha, kita akan bisa seberapa besar penghasilan yang akan kita terima. Bebas dalam banyak hal. Membuat lapangan pekerjaan. Beda dengan buruh atau pegawai, semuanya serba terbatas
Kalo, aNDA masih tetap ingin masuk sebagai PNS atau orang gajian. Saya dukung aja. Namun jangan menyesal kalo mendapati kebosanan yang amat sangat, trus kemudian gaji nggak naik-naik.
Model-model pemecahan psikotes sekarang sudah banyak dapat kita temui di Toko-toko buku setempat, kok. Silahkan hunting.....
Kalo ada yang ingin didiskusikan tentang isi buku tersebut, saya akan siap mendampingi.
Jawaban sederhana tentang Psikotes gambar. Pohon usahakan yang lebat dan banyak cabang. Pede aja, jangan banyak hapusan. Coret aja sesuka hati. Rileks. Kalo orang....gambar yang secakep mungkin.....
(saya ingatkan ...hal ini tak logis dan saya ulangi lagi, menyederhanakan manusia)
Senang bisa berbagi dengan aNDA
Ada blog yang bisa saya kunjungi. (kalo saya di adisubiyanto.multiply.com) Kalo anda? Kalo belum ada, silahkan buat di multiply. Gratis kok?
Kita akan kontak-kontakan terus nanti.
Saya berdoa semoga aNDA diberikan yang terbaik...
Kalo diterima, ya jadi orang gajian. Kalo tidak, kesempatan tuh jadi pengusaha..atawa jutawan.
TTD
ADI SUBIYANTO CDMA 031-71054887
 | hehehe.. Bener! Test spt itu mestinya sdh nggak perlu dipakai lg. Fungsinya apa to? Gambr bs dihafalin. Dilatih dulu di rumah, nyontek ke majalah atau buku, nyari yg paling bagus, terus pas tes digambar persis kayak contekan itu. Walah..
|
 | rekapuspa wrote on Oct 30, '07, edited on Oct 30, '07 jujur ya mas, aq tuh bosen deh masa tiap psikotest dsuruh gambar mulu. yang bisa gambar sih enak, aq ini ga bs gambar gmn toh hiks...
Aq rasa test model ini sudah ga akurat lagi, cos dah bnyk tuh buku psikotest di pasar berarti dah bisa ngibulin org HRD Kan |
 | dufix wrote on Oct 30, '07 Tes .. tes .. chek sound .. 123 Tes itu langsung kerja, ya kayak chek sound ini |
 | Tes psikologi itu memang bisa diakali. Tapi nanti yang rugi kita sendiri. Karena setiap pekerjaan membutuhkan kepribadian tertentu, maka dari itulah ada tes psikologi |
 | dimak wrote on Nov 26, '07 mas adi, saya setuju kalo jadi kerja jadi orang gajian pasti akan membosansansansankan.. tapi rasanya kerja gajian lebih pasti deh, apalagi kalo pns.. soalnya mau bikin usaha kok susah ya, kepentok masalah dana melulu.. |
 | ini niy yang ga beres... alat test psikologi itu dibuat dengan susah payah oleh ahlinya.. tapi disebarkan begitu saja oleh para penerbit buku komersial. emang buat alat test itu gampang?! memang alat test psikologi itu senantiasa berkembang dan sulit untuk mengatakan ada yang sempurna. tetapi setiap psikolog atau biro psikologilah yang seharusnya tahu kelebihan dan kekurangan dari setiap alat tes agar dapat digunakan dengan sesuai. setiap alat tes itu ada tujuannya dan landasan teorinya. saya rasa Anda terlalu cepat untuk mengatakan alat tes itu sudah usang hanya berdasarkan isu dari luar tanpa memahami alat tes itu sendiri seperti apa dan untuk apa. kalo tes gambar dinilai bagus tow ga dan itu jadi penentu seseorang lolos atau tidak dalam lamaran pekerjaan, rasanya terlalu naif. memangnya yang meriksa dan yg ngasih test ga mikir apa kalo semua orang memiliki bakat menggambar yang berbeda-beda?! kualitas gambar bagus atau ga itu relatif ya tiap orang.. tapi apanya yang ada dalam gambar itu, apapun bentuknya menyiratkan sebagian dari diri orang yang menggambarnya. orang yang emang suka dan memiliki keahlian khusus dalam menggambar menjadi pertimbangan sendiri bagi psikolog dalam arti bukan dia yang memiliki peluang yang lebih untuk lolos, tetapi dalam menguraikan aspek2 kepribadiannya. jadi belum tentu orang yang gambarnya bagus kata kita bisa lolos. kita pikir kita bisa ngakalin tes psikologi? kita pikir kita punya pegangan dan bisa lebih siap hanya dengan membaca buku2 tes psikologi? percayalah, psikolog punya caranya sendiri. psikolog itu juga tahu dengan terbitnya buku2 "pengkhianat" itu. bisa ngibul di alat tes yang satu belum tentu di alat tes yang lain. malah kalo mo ngibul bisa aja ketahuan. adanya wawancara itu memperlengkap penilaian kita terhadap orang itu. alat tes psikologi, namanya juga cuma alat, ya setidaknya psikolog punya hipotesis2 tertentu pada orang yang bersangkutan. nah, di wawancara ini kan situasinya berbeda. berhadapan langsung lo.. bukan ma kertas2.. kira2 Anda semua bakal kayak gimana itu tentu akan dilihat oleh psikolog atau interviewernya. ya coba aja liat di cermin kalau mau lihat sebenernya Anda kayak apa kalo di wawancara. cari kerjaan emang lebih kompetitif di zaman ini. ada satu tips penting untuk ini. setiap perusahaan apalagi perusahaan besar pasti pengen ada orang yang sesuai (inget lo sesuai, bukan berarti hebat! ngapain naro orang cerdas di tempat kerjaan yang kegiatan itu2 saja?!). pastikan kalo Anda melamar pekerjaan, Anda tahu persis atau setidaknya punya gambaran pasti kerjaan itu bakal ngapain aja dan cek diri Anda sesuai atau tidak dengan itu. jangan asal masukin lamaran trus sakit hati lalu merasa rendah diri. nah, kalo merasa sesuai yakinkan terus diri Anda bahwa Anda memang layak untuk pekerjaan itu, sambil mikir2 juga kompetitor yang lain dan rencana alternatif juga kesiapan hati untuk menerima apapun dengan ikhlas. nah, kalo ga sesuai ya cari yang lebih sesuai, atau Anda yang tidak tahu diri Anda dan potensinya itu seperti apa. ini yang perlu diwaspadai! Temukan Diri Anda! ini penting! nah, kalo Anda melamar lalu ditolak oleh perusahaan, jangan mikir macam2 dulu tentang diri Anda atau malah menjelek-jelekkan perusahaan itu. seperti yang tadi saya bilang, perusahaan itu kan nyarinya orang yang sesuai. bisa jadi Anda terlalu lebih atau memang kurang untuk perusahaan itu. pastinya Anda bukanlah orang yang tanpa potensi baik. setiap orang punya potensi baik. mungkin kalo memang Anda merasa cocok dengan pekerjaan itu, bisa jadi potensi yang Anda miliki belum seoptimal yang diinginkan perusahaan itu. yah begitulah, panjang ya.. tapi ini baru secuplik. oiya, perlu saya ingatkan kalo psikolog itu bukan dewa atau sesuatu yang menakutkan. hanya saja dia punya ilmunya. sebagaimana Anda belajar dengan spesifikasi tertentu, Ekonomi misalnya ya tentu saja Anda akan lebih memahami teori-teori perekonomian, dinamikanya dan sebagainya. begitu pula psikolog. dan kerjanya psikolog itu sebenarnya adalah untuk mensejahterakan orang lain. mungkin di Indonesia pandangan orang tentang psikolog itu cuma sebagai tukang ngasih psikotes tow didatangi orang2 yang ga beres. datang ke psikolog jadi aib. semoga saya salah sepenuhnya. psikolog lebih dari itu dan psikolog juga manusia lah ya... saya di sini berbicara sebagai mahasiswa psikologi. kalo ada yang salah mohon diperbaiki oleh ahlinya. maklum masih idealis dan lagi anget2nya... pengennya saya sih himpsi bertindak tegas terhadap pengedar buku-buku psikolog itu.. |
 | arifwachyu wrote on Dec 15, '07, edited on Dec 15, '07 jgn taqlid gitu dunk mbak, gk usah muter2 dulu. pertanyaan simpel: psikologi merupakan ilmu pasti atau bukan?
menyimpulkan apa yang ada dalam "diri" seseorang hanya berdasarkan statistik dan gambar menurut saya terlalu simplifik. bukannya saya menafikan psikologi sebagai satu disiplin ilmu, tapi jangan jadikan dia sebagai "dewa". untuk teori2 yg lain ada beberapa kisi yang saya sepakati, tp untuk teori psikotes, saya keberatan.
saya bisa melukis. saya bisa menggambar orang dengan beragam gaya, pake sepatu atau tidak. dekat atau jauh posisinya dengan gambar rumah. dibikin jelek kayak tukul arwana atawa cakep kayak saya.
dalam dua kali psikotes, saya bisa menggambar manusia dan pohon dengan tampilan yang berbeda-beda. tergantung mood. lalu bagaimana psikologi menyimpulkan fenomena itu..? bukankah yang diukur oleh psikologi adalah kepribadian? bukan mood seseorang?
apakah psikolog merasa bisa mengukur seorang pelukis hanya dari lukisannya? tidakkah itu berarti psikologi telah mencoba melampaui wilayah pembelajarannya? jangan2 psikolog bisa jadi kurator juga ya? ;)
salam dr jogja |
 | taqlid? saya berkata itu karena saya pegang ilmunya.. ga cuma ikut2an aja.. psikologi itu yang pasti memang ilmu (science) bukan knowledge... ilmu pasti? kalo disamakan dengan ilmu2 eksak yang harus dijabarkan ke dalam angka.. psikologi bukan ilmu eksak.. tapi psikologi punya dasar2 ilmiahnya.. statistik bisa jadi sarana penjabarannya.. itu bisa jadi alat, misalnya dalam penelitian memang jadi terlalu simpel kalo manusia diliat cuma dari gambar dan statistik.. manusia memang kompleks.. itu mah salah satu cara aja melihat apa yang ada di dalam manusia itu.. pemakaian tes gambar juga disesuaikan dengan tujuannya.. tergantung klien juga butuhnya mpe mana.. saya juga sepakat ilmu psikologi bukan "dewa", tentu saja... kita juga butuh bantuan dari ilmu2 lain kok... memang iya manusia punya mood yang berubah ubah... tapi kepribadian kan relatif tidak gambar2 memang bisa dirubah.. tapi, tentu saja ada hal2 yang menjadi ciri dari si pelukis itu yang relatif menetap.. ini bisa saja disadari atau tidak oleh si pelukis psikologi memiliki pendekatan dan cara yang bermacam-macam... mengukur keseluruhan pribadi pelukis hanya dari lukisannya? mungkin bisa saja, tergantung pendekatannya.. misalnya pakai fenomenologi, atau psikoanalisa, atau behavioristik.. iya niy..karena psikologi intinya itu adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dan proses mental yang melatarbelakanginya, kalo bisa mpe jadi kurator.. itu tergantung orangnya juga kali ya?! =) secara disiplin ilmu mungkin bisa nyangkut2 dikit..
salam juga dari bandung thx for the comment..
|
| |