 PENDIDIKAN UNTUK KEBERDAYAAN DESA Setiap saat kita selalu mendapatkan berbagai informasi tentang pendidikan. Informasi yang menggembirakan selalu seputar prestasi “belajar”. Kita berbangga ketika bangsa kita yang diwakili oleh Oge si Mutiara Hitam, Septinus George Saa, seorang siswa dari Papua yang memenangkan The First Step to Nobel Prize in Physics 2004 di Warsawa, Polandia. Tanpa berpikir sebaliknya bagaimana kondisi sekian ratus juta bangsa kita minus 1 orang tersebut. Sebut saja laporan PBB dalam Human Development Report 2004, kualitas pendidikan Indonesia (Education Index= 0,80) berada di bawah Vietnam (0,82) atau terendah di antara negara-negara ASEAN lainnya. Terlebih dari penelitiannya Unesco-OECD dalam Programme of International Student Assesment (PISA), Kecakapan baca anak0anak kita (usia 15 tahun) sangatlah rendah (peringkat 39 dari 41 negara yang diteliti). Ini sungguh s angat memprihatinkan mengingat di era digital ini tuntutan kecakapan membaca sangatlah dibutuhkan untuk secara mandiri menyerap pengetahuan melalui media yang ada khususnya digital yang sudah tersedia tanpa batas ini. Sedangkan informasi yang menyedihkan selalu seputar anjlognya prestasi anak didik di samping rendahnya atau tidak memadainya sarana belajar (sekolah). Kita selalu sedih manakala melihat tayangan TV tentang gedung-gedung sekolah yang roboh akibat kualitas bangunan yang buruk atau akibat bencana alam. Anak-anak belajar berimpit-impitan di bawah tenda sehingga tidak bisa berkonsentrasi penuh mendengarkan penjelasan dari seorang guru. Tanpa pernah berpikir kenapa belajar harus tergantung dengan gedung yang pengadaannya dibiayai dari utang luar negeri. Sayang sekali, informasi seputar pendidikan yang berkontribusi langsung pada perbaikan kehidupan, pada perwujudan masyarakat yang berdaya, pendididikan yang secara mandiri diselenggarakan oleh komunitas setempat jarang sekali kita dapatkan. PARADIGMA KONVENSIONAL Pada umumnya cara pandang terhadap pendidikan cenderung bias skulastik. Pendidikan telah terlembagakan sedemikian rupa menjadi sekolahan. Sekolah itu sendiri telah terjebak menjadi perusahaan bidang jasa. Para keluarga dengan anaknya yang datang ke sekolah tersebut tidak lebi hanyalah sebagai calon konsumen. Pola hubungan antara sekolah dan siswa mengikuti pola pasar kapitalistik. Ada penjual jasa dan ada pembeli jasa. Parameter keberhasilan sekolahan dilihat dari seberapa besar minat masyarakat yang menyekolahkan anaknya ke sekolah tersebut terlebih masyrakat dari golongan ekonomi kuat. Upaya sekolahan memobilisasi minat masyarakat dilakukan dengan strategi pemasaran yang jitu. Biasanya dengan menunjukkan bahwa di sekolahan itu tersedia guru-guru yang andal, sarana pendidikan yang memadai serta prestasi-prestasi yang sempat dicari. Sementara dari sisi masyarakat (pembeli) akan melihat seberapa besar biaya yang harus dikeluarkan, seberapa mungkin (setelah lulus nanti) dapat melanjutkan ke lembaga pendidikan yang paling favorit, dan akhirnya seberapa besar peluang lulusannya dapat bekerja di perusahaan (mendapat majikan) yang diidam-idamkan. Bahkan tidak jarang kita jumpai dapat bekerja di tempat yang “basah”, yang “sabetannya” banyak dan seterusnya. Yang sering dinilai lebih ideal lagi adalah dapat menciptakan lapangan kerja (menjadi majikan). Persoalan majikan itu majkan yang eksploitatif atau tidak, itu tidak penting.PARADIGMA QARYAH THAYYIBAH Arti Qaryah Thayyibah Secara harfiah, Qaryah Thayyibah diartikan dengan desa yang indah, baik, berdaya, dan seterusnya. Yang dimaksud desa di sini adalh kesatuan masyarakt dalam suatu wilayah yang lebih memungkinkan interaksi fisik antara satu dengan yang lainnya dalam waktu singkat. Qaryah bagian dari Baldah. Di Indonesia Baldah dapat diartikan dengan kecamatan, kota, atau kabupaten. Sedangkan Qaryah dapat diartikan dengan dusun, desa, kampung, atau kelurahan. Qaryah Thayyibah dirasakan lebih dekat dengan semangat dasar civil society dibanding dengan masyarakat madani. Madani lebih bias kota (urban). TUJUAN Tujuan pendidikan model Qaryah Thayyibah adalah tewujudnya desa yang berdaya. Tidak hanya pada masyrakatnya, tetapi juga pada sumberdaya alamnya. Pendidikan dalam perspektif ini tidak hanya ditujukan untuk mengantarkan individu-individu dalam masyarakat, membangun sistem sosial yang demokratis, mengembangkan sistem ekononomi yang berkeadilan, namun juga berorientasi pada kelestarian dan penguatan daya dukung sumber daya alam. STRATEGI Yang membedakan manusia dengan hewan adalah kesadaran yan dapat berkembang melalui proses belajar. Akan hilang ciri-ciri kemanusiaannya kalau tidak belajar. Belajar tidak perlu tergantung dengan adanya apa dan siapa, tidak adanya guru, gedung sekolah, bangku-kursi, seragam, sepatu, buku, komputer adalah hal yang wajar dan biasa, di mana punakan sangat mungkin terjadi, yang justru tidak masuk akal adalah ketika tidak tersedianya itu semua, manusia berhenti belajar. Kita tidak perlu risau ketika terjadi putus sekolah. Adalah bencana kemanusiaan ketika terjadi putus belajar termasuk bagi mereka yang ‘sekolahan’. Sementara yang dominan terjadi di sekolah justru bukan proses ‘belajar-mengajar’, tetapi lebih pada ‘mengajar-diajar’. Untuk belajar, dimulai saja dari sumber daya yang tersedia. Ketika dibutuhkannya media pendukung proses belajar, pikirkan sambil berjalan untuk memenuhinya dengan mengelola sumber daya yang tersedia. Jangan menu nggu tersedianya perangkat pendukung baru berikutnya belajar. Suatu contoh SLTIP Alternatif Qaryah Thayyibah yang dikelola oleh Bachruddin. Setelah dianalis ternyata yang justru sangat dibutuhkan adalh tersedianya komputer bagi siswa. Maka, sambil belajar diupayakanlah mengelola uang saku anak per hari Rp. 2.000. kalau harga komuter itu Rp 1 juta per unitnya, tentunya dengan mengumpulkan uang slama 500 hari komputer itu akan dapat disediakan. Ternyata baru berjalan 200 hari pengelola sudah dapat mencarikan talangan untuk pengadaan komputer bahkan seharga Rp 1.400.000 per unitnya.  Dengan demikian, pendidikan komunitas ini tidak berurusan dengan murah dan mahal. Pada kasus tidak ada uang sama sekali, tidak ada kepeduliandari negara dan dari manapun, belajar tidak harus berhenti. Berikutnya belajar harus dimulai dari semangat kebersamaan. Kemandirian komunitas adalah saling ketergantungan antara satu dengan ya ng lain. METODE PEMBELAJARAN Konsep dasar pendiddikan komunitas meniadakan guru mengajar. Konsep Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) ditiadakan. Yang ada adalah belajar bersama. Persyaratan utama bagi guru adalah kemauan belajar dan memiliki pengalaman yang lebih dalam hal strategi belajar dan bukan metode mengajar. Posisi guru sebagai teman belajar bagi siswa. Dalam satu kelas cukup dibutuhkan satu orang guru yang akan menemani siswa dalam seluruh ‘mata pelajaran’. Seorang guru tidak perlu menguasai materi ‘pelajaran’. Ketika ada beberapa guru yang memiliki beberapa ‘kelebihan’ dalam hal penguasaan materi teteap tidak melakukan ‘mengajar’, tetapi lebih memposisikan sebagai resource person, sebagai salah satu obyek yang sewaktu-wa ktu siap di-‘eksploitasi’ oleh para murid. Resource yang lain bisa berada di kebu, di sawah, di lingkungan murid lainnya, di buku di compact disc, juga penjelajahan di internet. Bagi masyarakat khususnya orang tua/wali murid tidak perlu mengejar-ngejar anak untuk ‘belajar’. Justru sebaliknya, yakni minta bantuan pada anak untuk menjawab persoalan yang dihadapi sehari-hari. Misalnya saja orang tua murid yang kebetulan sehari-harinya beternak kambing, minta saja pada anak agar dibahas bersama teman-temannya bagaimana mencari bibit kambng yang baik, bagaimana teknologi mengolah kulit kambing, bagaimana pemasarannya, dan seterusnya. Demikian juga bagi guru, justru selalu mengajak murid untuk terus melakukan assessment kebutuhan yang dihadapi oleh keluarga si murid. Kebutuhan tidak hanya melulu pada persolaan ekonomi atau teknologi, tetapi lebih luas dari itu termasuk kebutuhan berkeluarga dan berbangsa seingga pemahaman murid berikut masyarakat atas nilai-nilai keadilan, hak asasi manusia, demokrasi, keseteraan jender, kelestarian lingkungan, sampai dengan kewarganegaraan tertanamkan REKOMENDASI UNTUK PENGUASAFasilitasi jaringan ICT Tidak masuk akal jika 5.500 tahun yang laiu tepatnya di Mesopotami a tempat diketemukannya teknologi roda oleh bangsa Sumeria, kalau penguasa setempat masih setempat masih memfasilitasi media yang bertentangan dengan perkembangan teknologi. Demikian juga ketika setleah ditemukannya kertas oleh Ts’ai Lun pada aba  d ke-2. tidak lucu kalau kertas sudah bis menggantikan kulit kambing terutama setelah ditemukannya mesih cetak oleh Guttenberg sebagai media tulis menulis, penguasa setempat masih saja tidak mau memfasilitasi gerakan pencerdasan warganya dengan media yang sesuai dengan eranya. Demikian juga dengan era sekarang ini. Era digitalnya para millennials (generasi milenium) yang hadir di dunia pada awal 1980-an. Mereka adalh pemilik sah era ini, penghuni era ini. Kita yang hadir sebelum itu sudah sepantasnya harus menyesuaikan diri, karena kitalah sebagai pendatang. Sangat tidak masuk akal kalau masih saja ada guru yang mendiktekan materi pelajarannya pada anak didik. Samasaja perilaku itu menghambat bahkan merampas hak dan kesempatan berkembangnya anak-anak generasi millenials. Juga pemborosan yang semestinya tidak perlu terjadi. Banyak daerah (kabupaten/kota) yang membelanjakan puluah miliar rupiah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)-nya untuk pengadaan buku terbitan Balai Pustaka yang sudah out of date dan tidak digunakan lagi. Sebu saja angka Rp 10 milliar sudah dapat diwujudkan compact disc sebanyak 10 juta keping atausetara 10 juta almari buku. Akankah para penguasa kita tidak mau menyadari terus bahwa tidak ada bedanya antara mereka dengan kaum Jahiliyah yang berkuasa? Ada satu contoh konkret yqng pernah Mas Bahruddin alami sendiri. Di Dusun Nglelo, Desa Batur, Kematan Getasa, Kabupaten Semarang SPPQT bersama Indo.net Salatiga telah mendampingi masyarakat setempat menyelenggarakan pendidikan alternatif. Sarana yang disediakan pertama kali adalah jaraingan internet. Ternyata hasilnya teramat fantastis. Betapa tidak, anak-anak yang tidak mungkin bisa sekolah karena harus naik turun gunung berkilo-kilo meter menuju sekolah terdekat itu, dengan difasilitasinya tempat belajar di rumah mereka sendiri, ternyata hasilnya mampu jauh mengungguli SMP induknya. Jaringan internet jauh lebih efektif kontribusinya dalam mencerdaskan anak bangsa dibanding membangun gedung SD Inpres dengan biaya tinggi yang kehadirannya tetap memposisikan sebagai barang asing bagi masyarakat di desa. Masyarakat hanya menjadi konsumen. Belajr saja dari Thailahnd yagn tengah berusaha sekuat tenaga memfasilitasi jaringan internet ke desa-desa. Pada penilaian terakhir tentang kalitas pendidkan pada 14 negara-negara berkembang di Asia Pasifik yang dilakukan oleh Unesco—ASPBAE, Thailand menduduki peringkat pertama. Sementara Indonesia berada di peringkat 10 dan khususn infput quality termasuk di dalamnya kualitas guru terlatih Indonesia berada di peringkat 14 dari 14 berkembang di Asia Pasifik. Fasilitasi kesejahteraan guruKendala guru pada konsep Qaryah Thayyibah ini adalah sekaligus murid, dia tetaplah seseorang yang harus meluangkan waktu khusus dan meninggalkan kewajiban terhadap keluarganya. Namun, guru tetap berbeda degnan konsep pekerja pada sebuah perusahaan jasa. Guru tetap sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pencerdasan anak bangsa. Konsep Qaryah Thayyibah dalam hal kesejahteraan guru menggunakan konsep ‘bengkok’. Konsep bengkok telah dikelalus masyarakat Jawa. Seorang lurah tidak mendapatkan bayaran bulanan (gaji), namun mendapatkan begnkok. Yakni sebidang tanah yang harus diproduktifkan.untuk bisa memproduktifkan tanah bengkok harsu melibatkan petani penggarap yang keuntungannya dibagi antara penerima hak bengkok dan petani penggarap. Artinya seorang lurah ketika berpikir bagaimana meningkatkan kesejahteraan dirinya secara otomatis harus juga berpikir bagaimana meningkatkan kesejahteraan para petani di desanya degnan mengembangkan manajemen produksi. Disamping sarana pendukung utama produktivitas tanah bengkok seperti sistem irigasi, konservasi air, kesuburan tanah yang harsu diupayakan pengembangannya, manajemen pasca produksi seperti pengolahan hasil pertanian dan perdagangan yang menguntungkan masyarakat juga harus dipikirkan oleh seorang lurah. Seorang guru pada sekolah komunitas sudah semestinya demikian juga. Dia tidak perlu dibayar bulanan sebagaimana berlaku bagi para pekerja di perusahaan-perusahaan, namun diberikan begnkok yang tidak harus berupa tanah. Bengkok bisa saja berupa kambing, atau alat produksi lain. Misalnya saja bengkok berupa kambing. Setarakan saja 5 tahun gaji seorang guru yang Rp 1 juta per bulan, maka bengkok bagi seorang guru cukup Rp 60 juta. Angka initaruh diwuudkan kambing seharga Rp 500 rib per ekornya, maka akan ada 120 ekor kambing. Kambing ini nantinya selanjutnya di-gaduh oleh para petani yang menjadi wali murid dengan bagi hasil misalnya 40 untuk guru : 60 untuk petani (lebih menguntungkan petani dibanding hitungan umunya yang 50 : 50). Karena umumnya dalam waktu satu tahun seekor kambing akan beranak 2 kalidan sering beranak kembar. Artinya dalam waktu satu tahun 100 ekor kambing akan beranak 240 ekor (dengan pengandaian hanya beranak 1). Dari 240 ekor kambing itu taruh diberikan ke petaniyang 140 ekor, maka sang guru akan mendapatkan keuntungan Rp 50 juta pertahun atau 4 juta per bulan ( 4 kali lipat dibanding gaji Rp 1 juta per bulan). Dari ilustrasi diatas, beban pemerintah akan diperingan karena hanya mengeluarkan untuk modal kerjayang setara gaji lima tahun. Bandingkan degnan sistem utang negara yang sangat membebani negara sehingga utang negara akan menumpuk. Bagi guru sendiri akan sangat menikmati karena ternyata terimanya bahkan mencapai 4 kali lipat. Bagi petani penggaduh juga dapat menikmati karena mendapatkan kesempatan berproduksi yang memang sudah biasa digeluti (artinya kemungkinan berhasil lebih besar karena bukan usaha rintisan bahkan bankable). Bagi desa tentunya konsep semacam inilah yang akan menggerakkan ekonomi yang produktif desa. Dibarengi dengan kegiatan pembelajran yang lebih membuka peluang berkembangnya daya kreasi dan inovasi masyarakat, pasti masyarakat tidak akan berhenti pada budidaya saja. Mereka pasti akan berpikir yang lebih dari itu. Mereka akan berpikir bagaimana kalau dikembangkan usaha pengolahan daging kambing, pengolahan kulit kambing pengelolaan pakan ternak, pengawetan rumput untuk persediaan pada musim kemarau, dan seterusnya. Bengkok bisa saja berupa mesin cetak, CD duplikator, kamera video shooting, dan lain-lain. TAWARAN BAGI SIAPA SAJASeorang kawan pernah mengatakan saya butuh berapa untuk menjalankan semua ini setiap bulannya. Saya katakan tidak lebih dari 7 jutaan per bulannya. Namun, yang menjadi masalahnya bukanlah sekedar keberadaan dananya saja. Saya tahu, bahwa tanpa adanya source of income yang memadai, proyek pencerdasan anak bangsa ini tidak akan berjalan. Tetap saja seluruh elemen dan variabel pendukung berdirinya proyek ini secara massif harus juga diperhatikan. Elemen penting tersebut adalah tersedianya Sumber Daya Manusia yang cukup, kapabel, komitmen dan memiliki ‘rasa haus’ yang tinggi terhadap perubahan. Dibutuhkan relawan (voulenteer) mau mendedikasikan dirinya dalam proyek ini.Oleh karena itu, melalui surat terbuka ini. Saya mengundang kawan-kawan semua; siapa saja—yang peduli dengan nasib anak-anak kita di masa depan—untuk ikut berpartisipasi dalam gerakan pencerdasan rakyat ini. Siapapun diri anda, apapun potensi anda, apapun organisasi anda—jika anda mampu berkontribusi terhadap proyek menuju peradaban yang revolusioner ini; maka saya persilahkan anda untuk terlibat langsung di setiap daerah yang ingin anda kembangkan di seluruh Nusantara. Kontribusi dalam pemikiran, dana, infrastruktur, jaringan/ network, tenaga, tools pembelajaran—akan sangat dinanti oleh adik-adik di seluruh Indonesia. Saya secara pribadi akan mensupport proyek yang sama yang akan anda rintis di daerah-daerah anda sekalian. Saya tekankan sekali lagi, bahwa gagasan ini bukan sekadar untuk mencari donasi dari kawan-kawan sekalian. Mencari donasi itu tak terlalu sulit, namun yang paling fundamental adalah para operator di lapangan. Mari berpartisipasi terhadap desa-desa di daearah Anda via pendidikan komunitas seperti ini. Saya berharap kawan-kawan sekalian bisa mengembangkan sekolah-sekolah komunitas--yang notabene sebagai Home Schooling yang dimodifikasi. Mari kita marakkan desa kita dengan sekolah-sekolah seperti ini. Referensi : 1. SLTP Alternatif Qaryah Thayyibah (Bahcruddin) 2. Makalah dan ceramah Bahruddin pada Forum Mangunwijaya 3. Kurikulum Yang Mencerdaskan : Visi 2030 dan Pendidikan Alternatif. Kompas. Forum Mangunwijaya 4. Lebih Baik Tidak Sekolah (Sujono Samba). LKIS 5. Lebih Baik Tidak Ada UAN (disertasi / tugas akhirnya siswa kelas 3-nya SLTP Alternatif Qaryah Thayyibah) 6. Sekolah Bukan Segalanya : Pendidikan Kritis ala Toto-Chan (Aprinalistria). Pustaka Pelajar 7. dan berbagai kliping koran Nasional Adi Subiyanto-----Pemerhati Pendidikan Kerakyatan----CDMA : 031-71054887Email : adi.subiyanto@gmail.com & asubiyanto@yahoo.com
 | Thanks atas infonya... tapi, saya perlu waktu untuk menelaahnya... mudah2an gak terlalu lama, namun sekilas alternatif ini menjanjikan... |
 | ass, wah mas saya begitu terharu membacanya, sebuah pemikiran yang sangat baik. Saran saya Mungkin lebih tepat klo diajukan ke pemerintah daerah yang memang sesuai dengan program ini, atau klo bisa ke departemen pendidikan langsung, supaya bisa jadi solusi alternatif. |
 | Semua alternatif pendidikan yang datangnya bukan dari pemerintah jelas memiliki peluang 80% lebih baik daripada yang pemerintah galakan. Hal ini disebabkan oleh pemerintah melihat pendidikan hanya sebagai salah satu perangkat pemerintahan saja. Bukan sebagai sarana untuk memajukan budi pekerti bangsanya. Dan semuanya memang selalu dikaitkan dengan uang. uang, dan uang. Maka tidak salah jika sampai generasi usia 20thn-an sekarang menjadi pemimpin kelak, dan tetap bodoh dan tetap menjadi koruptor, ya memang salah semua fihak. |
 | Alhamdulillah kami di Malang sudah merintis dengan Homeschool, dan ingin sekali bisa mengembangkan seperti Qaryah Thoyyibah... Ada saran? |
 | sureukis wrote on Nov 29, '07, edited on Nov 29, '07 Jelas sekali. Pantas kalau predikat-predikat itu melekat di dunia pendidikan Indonesia. Tingkat ke-concern-an pemerintah kepada masalah-masalah rakyatnya sudah berkurang, khususnya pendidikan. prestasi2 seperti Oge si Mutiara Hitam, Septinus George Saa dll., seperti lebih ke prestasi yang diusahakan oleh mereka pribadi, bukan hasil dari sistem pendidikan di Indonesia. Lihat saja, masalah gonta-ganti kurikulum, standar kelulusan, sarana dan prasarana pendidikan (gedung dll) yang membuat para pelajar sendiri menjadi malas untuk belajar. Lha wong dengan masalah2 pendidikan yang menurunkan predikat bangsa ini, Presidennya malah bikin album, seperti lari dari masalah.
*kecewa mode : on*
BTW... pemikiran yang dituangkan, bagus untuk solusi di tengah keterpurukan sistem pendidikan Indonesia. Sebuah SOLUSI ALTERNATIF.... :D |
 | coba anda buka www.awi.web.id, www.anakwayang.nl atau www.anakwayangindonesia.org. Dulu saya sempat terlibat di sana. Lembaga ini concern pada pendidikan anak kampung dan dari dana awal yang sangat minim lembaga ini punya cukup banyak prestasi dan membawa anak-anaknya berprestasi. Semoga berguna... |
 | Assalamualaikum Wr Wb Terimakasih atas infonya. "Insya Allah" saya akan ikut berpartisipasi,tetapi karena keterbatasan kemampuan mungkin saya hanya jadi pemberi bantuan dana saja. Wassalamaualaikum Wr Wb |
 | Pndidikan priority, tidak terbatas waktu dan ruang..jangan erlalu terganutng terhadap pemerintah, kita yg mampu ikut menyadarkan masyarakat pntingnya pendidikan utk masa depan anak-2 kita. Selalu berganti-2 kurikulum tidak tepat, jadi mungkin slah satu tugas kita mensosialisasikan lebih tentang pentingnya pendidikan. Homeschooling sprt yg Mustikadh samapikan salah satu alternatif bagus. Utk menyadarkan masyarakat bawah utamanya perlu sosialisasi yg gencar dan sering. anak-2 yg seharusnya mengenyam pendidiakn malah berjualan utk menopang kebutuhan hidup menyayat hati kita memang, karena tidak ada sosial security dari pemerintah. Sosialisasi homeschooling sbg alternatif ato mengajak jadi org pinter,rajin,bijak, berilmu utk maju |
 | Tahap pembentukkan memang perlu pendidikan luar "kelas" . Anak diknalkan kehidupan "nyata" . Dalam membentuk adab , tutur kata pernah dilakukan oleh kedua orang tua rosulullah SAW . Rosul di ungsikan ke desa yang hanif saat masih balita. Nabi ibrahim hidup di go'a tatkala masih kanak kanak. kayaknya perlu di wujudkan pemikiran ini. Tak perlu dana besar asal ada niat bersama untuk menjadi bangsa yang besarm memiliki masyarakat yang trampil hidup dengan bekal iman. http://wimbo.wordpress.com http://petiksmada.wordpress.com |
 | Qaryah thayyibah....such a great idea. Tetapi memang harus ada SDM yang bisa mengembangkan dan mengaplikasikan ide ini. Walaupun dana ada tetapi SDM tidak ada, program sulit berjalan. Kepikiran juga untuk mengaplikasikan di kabupaten Tangerang, karena walau bisa dikatakan daerah perkotaan, tetapi masyarakatnya masih banyak yang kurang memperhatikan masalah pendidikan. Ada info yang lebih detil mengenai program ini? |
 | benar bung..ajukan saja ke pemerintah daerah ide ini! |
 | mas adi..ku cetak dulu ya....mesti dibaca pelan - pelan nih... maklum memory dah mendekati penuh hehehehe |
 | pak, numpang ngopy ye... kudu dibaca dirumah ni pelan-2.. |
 | bagus akh.... Tapi biasanya dalam pelaksanaannya yang agak sulit. Jangan sampe seperti "Rapat Tikus" (baca di multiply saya) Apa yang bisa saya bantu....!!! |
Comment deleted at the request of the author.
 | terima kasih atas informasinya pak...
sebenarnya utk pendidikkan bisa dibilang susah susah gampang ya pak.......PENDIDIKAN itu amat sangat penting, memang seharusnya pemerintah wajib menggencarkan memperhatikan rakyat yang kurang mampu....eksploitasi anak..dlll.....dana kucuran, dll....sepertinya janji tinggalah janji... |
 | salut untuk tulisannya... saya jadi terharu.... lebih2 karena orang tua saya adalah petani dan guru SD di kota kecil di jawa tengah, mungkin sekitar 2jam perjalanan ke sekolah Bachruddin dan 20 menit ke SD mangunan. konsep bengkok menjadi hal yang sangat menarik bagi saya dalam hal ini. Bapak saya sebagai petani, sering mengeluh 5th terakhir ini. sawah yg sebenarnya cukup luas, rasanya menjadi tidak ada harganya sekarang karena permainan harga gabah dan beras. bayangkan jika seorang petani harus modal sekitar 500rb untuk benih dan pupuk, dsb... kemudian 3 bulan kemudian dipanen dan hanya laku kurang dari 2juta.... hem... kita masih merasa sangat bersyukur bahwa kita masih bisa makan nasi, tapi nasib petani :) seorang lurah dengan bengkok saja untuk jaman sekarang saya yakin tidak akan sejahtera... ada banyak hal yg men support kesejahteraannya misalnya birokrasi, perijinan, dsb, juga mungkin sekarang tidak hanya bengkok yg didapat. hehe, saya juga geli menyadari bahwa ternyata pendidikan di Indonesia itu sangat mahal... saya yg tidak pernah dapat menikmati pendidikan di sekolah negri karena keterbatasan otak saya, harus bersekolah di sekolah swasta... dan untuk mensekolahkan saya ke perguruan tinggi swasta, orang tua saya harus ngutang... dan gelinya, sudah sekitar 4 tahun lalu saya lulus, utang tersebut belum lunas, hiks..... seperti beli rumah saja.
namun tetap saja, konsep pendidikan alternative seperti ini harus dikembangkan... apapun tantangannya... pendidikan murah yg bukan murahan sangat diharapkan oleh generasi2 sesudah kita, juga oleh keluarga-keluarga kurang mampu secara ekonomi.... Saya belum tau bisa berbuat apa atau menyumbang apa... tapi paling tidak saya sepakat dengan konsep pendidikan yg membebaskan. |
 | thanks infonya bRo 
tp skr gwe lg kondisi gak fit neh, jd blm smpt baca ni artikel,
klo dilihat kyaknya asik dan perlu pembahasan lebih.
So! gwe mo blng sory dulu deh, blm bisa kasih pendapat.
gwe hanya bs sumbang Doa aja dulu. semoga kita selalu diberi yg terbaik, aMin.  |
 | great idea,, saia mau ikutan bantu,, apapun yg saia bisa,, tapi nanti habis UN,,
|
 | Qaryah thayyibah....such a great idea. Tetapi memang harus ada SDM yang bisa mengembangkan dan mengaplikasikan ide ini. Walaupun dana ada tetapi SDM tidak ada, program sulit berjalan. Kepikiran juga untuk mengaplikasikan di kabupaten Tangerang, karena walau bisa dikatakan daerah perkotaan, tetapi masyarakatnya masih banyak yang kurang memperhatikan masalah pendidikan. Ada info yang lebih detil mengenai program ini?  Yup. Memang dalam rangka menggalang 'aktivis pendidikan' yang berserakan, saya menulis artikel ini. Saya berharap kita bisa bekerja sama. Saya dan tim memang mencoba membuat 'cabang-cabang' sekolah komunitas seperti ini se-Indonesia. Agar masif, para aktivis-aktivis dari daerah tersebut seharusnya menjadi penggeraknya. Kami hanya menyiapkan sistemnya. Untuk dana--infrastruktur, guru-gurunya; hal tersebut akan kita lihat lebih lanjut--terkait potensi daerah dan akan ada kunjungan dari kami paling tidak. Saya secara pribadi akan siap sedia untuk membantu mewujudkan sekolah komunitas di daerah Anda (khususnya di Tangerang).... Kalau perlu saya akan berkunjung kesana untuk memdampingi prosesi perintisan tersebut... Anda ada no telp atau HP yg bisa dihubungi? Wassalam Adi Subiyanto (balas di sini aja ya, agar diskusi kita bisa juga dibaca kawan-kawan yang lain) http://adisubiyanto.multiply.com/journal/item/61/PENDIDIKAN_UNTUK_KEBERDAYAAN_DESA |
 | mustikadh wrote on Dec 2, '07, edited on Dec 2, '07 Kami anggota Asahpena Malang memang berencana membentuk semacam QT, tapi sementara ini masih bingung untuk mulai me-menej, masih sibuk dengan HS keluarga masing2. Tentang hubungan sosial tergantung metode HS yang dipilih, tapi kebanyakan keluarga HS punya banyak kesempatan untuk bersosialisasi dan merasa tidak bermasalah dengan hubungan sosial (menurut penelitian bahkan anak2 HS memiliki hub sosial yang lebih baik dibandingkan siswa sekolah formal). Tentu kami siap menjadi volunteer. Untuk nomor tlp dan email silakan PM saya. MAs Adi apa dul ikut silaturahim MPers Jatim di malang? |
 | wahhhh kayaknya kita semua harus melakukan yang terbaik, paling tidak untuk lingkungan kita .... agar penerus kita memiliki peluang untuk lebih maju lagi ......... (nyambung nggak sich???) ....... he he he .......... anyway .... good luck ......... |
 | Berada di komunitas ini, membuat saya gembira dan makin optimis terkait masa depan pendidikan qt. Salut buat ide2 n perjuangan mas Adi!!. Btw, sy sedang mengumpulkan data ttg sejauh mana kualitas pendidikan guru di Indonesia (PGSD cs). Sayang rasanya, melihat ribuan calon guru yang di produk di Indonesia, belum kompeten dan belum siap/layak untuk mengajar. Salah satu obsesi saya, 'mesin produksi' guru di universitas2 itu harus lebih efektif dan efisien...ada yang bisa bantu?(apa aja, info, saran, kritik, kontak person, dll) |
 | Gagasan yang cerdas dan cukup bisa diterapkan. Selanjutnya yang harus dipikirkan adalah bagaimana membuat suprastruktur lokal dan nasional kita membuka ruang bagi gagasan alternatif ini, karena beberapa pendidikan alternatif mandeg karena tidak cukup memiliki daya tahan (padahal gagasan utamanya adalah kemandirian...sayang kadang-kadang faktor kemandirian ini sangat dipangaruhi oleh lingkungan juga). Ganbatte! Terus, kalo menurut Mas Adi, mungkin ga mengadaptasikan sistem pendidikan kita dengan gagasan ini? Sayang juga kalo ada guru2 idealis yang terjebak dalam sistem yang tidak mendukung... |
 | Sukses buat aktifitasnya. |
Comment deleted at the request of the author.
 | melyda balas via PM, begini tulisannya :
melyda wrote on Dec 2
klo saya kerjanya dinational plus scholl akhi, sekolah swasta untuk kalangan menengah keatas dilampung, jadi afwan klo saya secara pribadi tidak pernah merasakan keterbatasan dalam situasi belajar mengajar sehari-hari, kami didukung fasilitas yang memadai. afwan klo ana hanya bisa membantu dengan memberikan wacana atau komentar saja, ana belum bisa untuk turun ketataran praktek karena jam kerja dan tuntutan pekerjaan yang cukup tinggi harus ana hadapi setiap harinya. Sekolah kami full dengan aktivitas tetap tiap tahunnya .Sekali lagi ana mohon maaf, cuma bisa membantu dengan cara diskusi saja, tapi saya berdoa semoga Alloh memberikan kemudahan untuk solusi yang akhi sedang rancang dan semoga berhasil.
Wassalamulaikum wr wb. |
 | Berada di komunitas ini, membuat saya gembira dan makin optimis terkait masa depan pendidikan qt. Salut buat ide2 n perjuangan mas Adi!!. Btw, sy sedang mengumpulkan data ttg sejauh mana kualitas pendidikan guru di Indonesia (PGSD cs). Sayang rasanya, melihat ribuan calon guru yang di produk di Indonesia, belum kompeten dan belum siap/layak untuk mengajar. Salah satu obsesi saya, 'mesin produksi' guru di universitas2 itu harus lebih efektif dan efisien...ada yang bisa bantu?(apa aja, info, saran, kritik, kontak person, dll)  Mbak Lik, saya kenal banyak kawan yang aktif di Konsorsium Pendidikan di Surabaya. Silahkan kontak saya. Mungkin saya bisa memberikan kontak atau beberapa informasi mengenai yang Mbak Lik butuhkan.
Sekarang lagi riset ya? Kerja dimana?
|
 | Gagasan yang cerdas dan cukup bisa diterapkan. Selanjutnya yang harus dipikirkan adalah bagaimana membuat suprastruktur lokal dan nasional kita membuka ruang bagi gagasan alternatif ini, karena beberapa pendidikan alternatif mandeg karena tidak cukup memiliki daya tahan (padahal gagasan utamanya adalah kemandirian...sayang kadang-kadang faktor kemandirian ini sangat dipangaruhi oleh lingkungan juga). Ganbatte! Terus, kalo menurut Mas Adi, mungkin ga mengadaptasikan sistem pendidikan kita dengan gagasan ini? Sayang juga kalo ada guru2 idealis yang terjebak dalam sistem yang tidak mendukung...  Seperti yang kita ketahui bersama bahwa segala formalitas dan piramida struktural pemerintah (khususnya yang berkaitan dg pendidikan) terlalu panjang, maka mengajukan proyek ini ke pemerintah merupakan sesuatu yang mungkin dilakukan namun sulit untuk mendapatkan apresiasi---apalagi dukungan infrastruktur dll.
Berbagai aktivis LSM Pendidikan sudah mencoba hal tersebut dan hasilnya tak terlalu signifikan. Kalau saja saya yang menjadi menteri pendidikannya, model sekolah seperti ini akan menjadi proyek megah Indonesia dalam menjemput peradaban yang lebih maju.
Untuk melibatkan pemerintah, tampaknya masih terlalu 'berat loading'nya. Maka, yang dapat dilakukan oleh kawan-kawan aktivis gerakan pendidikan kerakyatan seperti saya adalah dengan 1. Membuktikan konsep pendidikan tersebut 2. Melengkapi spesifikasi desainnya 3. Menyelesaikan prototypenya 4. Mendapatkan modal (baik dari personal maupun dari lembaga--pemerintah dan swasta) 5. Luncurkan versi percobaan kepada masyarakat 6. Luncurkan versi final kepada masyarakat 7. Mencapai titik impas
Saat ini sudah banyak kawan-kawan yang meng-create sekolah serupa di hampir seluruh Indonesia, namun tetap dengan usaha mandiri yang didanai dari (1)dana pribadi--(2)donatur personal, (3) unit-unit usaha. Kalau untuk mengakses Lembaga Sosial seperti YDSF, DD Republika, LMI--masih belum dilakukan.
Untuk langkah terdekat (tanpa menunggu respon pemerintah yang entah kapan datangnya), mendekati Lembaga Sosial diatas adalah langkah yang cukup brilian dalam hal penyelesaian dana dan SDM. Ya, membuat cantolan dari Lembaga Sosial 'pengumpul dana umat' tersebut merupakan suatu keniscayaan agar proyek ini dapat dijalankan dengan massif--cepat. Semoga proses pencatolan dan pencangkokkan tersebut berhasil.
Ada saran? Untuk Lembaga Dana Sosial di luar Jawa Timur saya belum ada pendekatan yang nyata. Ada kontak yang dapat mengapresiasi proyek ini?
|
 | Pak Adi kalo tgl 13 masih di surabaya mungkin kita bisa ketemu karena ada undangan dari BPPLSP diknas untuk acara ke surabaya. Saya dan rombongan teman2 asahpena malang mungkin berusaha menyempatkan mampir ke teman2 pemerhati HS. Well, soal sosialisasi (atau seperti yang anda bilang, partisipasi) memang tergantung pada keluarga masing-masing. Saya sendiri karena selama in concern pada lingkungan jadi mungkin sedikit banyak anak-anak juga saya arahkan kesana, termasuk edukasi pada masyarakat sekitar. Tapi tentunya bertahap karena anak2 saya masih kecil-kecil. Untuk ijasah juga kami pribadi tidak mempermasalahkan, tetapi untuk mengantisipasi kalo suatu saat anak2 ingin bersekolah/kuliah di institusi formal, tentu kami akan mengusahakan. Sementara ini sih ancang-ancangnya ke kejar paket dan cambridge (kami tidak memaksa). Untuk anak2 yang mengambil kurikulum dari luar negeri malah biasanya diwajibkan community service lho pak, minimal sekian ratus jam ato berapa gitu. Sampai kapan HS? We'll see.... |
 | salut untuk tulisannya... saya jadi terharu.... lebih2 karena orang tua saya adalah petani dan guru SD di kota kecil di jawa tengah, mungkin sekitar 2jam perjalanan ke sekolah Bachruddin dan 20 menit ke SD mangunan. konsep bengkok menjadi hal yang sangat menarik bagi saya dalam hal ini. Bapak saya sebagai petani, sering mengeluh 5th terakhir ini. sawah yg sebenarnya cukup luas, rasanya menjadi tidak ada harganya sekarang karena permainan harga gabah dan beras. bayangkan jika seorang petani harus modal sekitar 500rb untuk benih dan pupuk, dsb... kemudian 3 bulan kemudian dipanen dan hanya laku kurang dari 2juta.... hem... kita masih merasa sangat bersyukur bahwa kita masih bisa makan nasi, tapi nasib petani :) seorang lurah dengan bengkok saja untuk jaman sekarang saya yakin tidak akan sejahtera... ada banyak hal yg men support kesejahteraannya misalnya birokrasi, perijinan, dsb, juga mungkin sekarang tidak hanya bengkok yg didapat. hehe, saya juga geli menyadari bahwa ternyata pendidikan di Indonesia itu sangat mahal... saya yg tidak pernah dapat menikmati pendidikan di sekolah negri karena keterbatasan otak saya, harus bersekolah di sekolah swasta... dan untuk mensekolahkan saya ke perguruan tinggi swasta, orang tua saya harus ngutang... dan gelinya, sudah sekitar 4 tahun lalu saya lulus, utang tersebut belum lunas, hiks..... seperti beli rumah saja.
namun tetap saja, konsep pendidikan alternative seperti ini harus dikembangkan... apapun tantangannya... pendidikan murah yg bukan murahan sangat diharapkan oleh generasi2 sesudah kita, juga oleh keluarga-keluarga kurang mampu secara ekonomi.... Saya belum tau bisa berbuat apa atau menyumbang apa... tapi paling tidak saya sepakat dengan konsep pendidikan yg membebaskan.  Senang sekali mendapatkan testimoni dari Anda. Apalagi dari warga asli sekitar Kalibening.
Kehidupan Anda tampaknya 'ndeso' banget, ya. Bersyukur sekali sekarang sudah menempuh pendidikan yang lebih layak..
Sekarang di Australi,ya? Sedang kuliah atau kerja?
Terimakasih atas apresiasi dan percikan api motivasinya. Ini akan kami perjuangkan, kawan. Apapun tantangannya......
|
 | pak adi bisa di ringkas nggak saya nggak ngerti PR nya apa, belum baca jurnalnya,.
moga kegiatan yang diusahakan berjalan lancar amiin,. |
 | Ass. maap ni .. baru sempat mampir lagi. Klo yg Mas Adi maksud KPI, sy dulu sempat berinteraksi cukup intens dg teman2 KPI dan sempat skolah di DGSD-nya. Skrang karena di jkt, kadang2 aja kontak dg mereka. Sambil kuliah, sy di komunitas HS Kak Seto n saat ini sedang'taaruf' dg teman2 di Sekolah Alam. Dg komunitas2 tersebut skali lagi sy katakan sy optimis, termasuk rencana untuk daerah sy di Kediri. Namun yg masih berat di pikiran saya adalah bagian besar komunitas pendidikan kt di sekolah2 negeri. Sy yakin, multipyer effect dr sekolah2 alternatif yang kt bangun kelak akan membawa perubahan besar. Tapi, sambil menunggu waktu itu tiba, sy tidak rela jutaan pelajar, ribuan guru, serta masyarakat kt terjebak dalam sistem pendidikan yang rusak |
 | he..he.. kok jd emosional gini yach! Oya, klo ada kenalan di kampus2 'pencetak' guru yg concern juga, kenalin ke sy ya Mas.. matur nuwun .. |
 | TFS, sy sangat concern sekali dengan pendidikan terutama anak-anak dan memberikan pendidikan yang tidak memberatkan adalah mimpi dan cita0-cita sy. Hanya sj sy belum tau gimana memulainya dengan potensi sy dan segala kesibukan sy saat ini. Sy akan coba telaah artikel Mas Adi. |
 | ehm...senengnya masih banyak orang idealis ditengah-tengah kehidupan kapitalistik |
| |