Goresan Sang Pemimpi(n) Peradaban

adi's posts with tag: comdev

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag comdev
Blog EntryPENDIDIKAN UNTUK KEBERDAYAAN DESANov 29, '07 11:44 AM
for everyone
PENDIDIKAN UNTUK KEBERDAYAAN DESA

Setiap saat kita selalu mendapatkan berbagai informasi tentang pendidikan. Informasi yang menggembirakan selalu seputar prestasi “belajar”. Kita berbangga ketika bangsa kita yang diwakili oleh Oge si Mutiara Hitam, Septinus George Saa, seorang siswa dari Papua yang memenangkan The First Step to Nobel Prize in Physics 2004 di Warsawa, Polandia. Tanpa berpikir sebaliknya bagaimana kondisi sekian ratus juta bangsa kita minus 1 orang tersebut. Sebut saja laporan PBB dalam Human Development Report 2004, kualitas pendidikan Indonesia (Education Index= 0,80) berada di bawah Vietnam (0,82) atau terendah di antara negara-negara ASEAN lainnya. Terlebih dari penelitiannya Unesco-OECD dalam Programme of International Student Assesment (PISA), Kecakapan baca anak0anak kita (usia 15 tahun) sangatlah rendah (peringkat 39 dari 41 negara yang diteliti). Ini sungguh sangat memprihatinkan mengingat di era digital ini tuntutan kecakapan membaca sangatlah dibutuhkan untuk secara mandiri menyerap pengetahuan melalui media yang ada khususnya digital yang sudah tersedia tanpa batas ini.

    Sedangkan informasi yang menyedihkan selalu seputar anjlognya prestasi anak didik di samping rendahnya atau tidak memadainya sarana belajar (sekolah). Kita selalu sedih manakala melihat tayangan TV tentang gedung-gedung sekolah yang roboh akibat kualitas bangunan yang buruk atau akibat bencana alam. Anak-anak belajar berimpit-impitan di bawah tenda sehingga tidak bisa berkonsentrasi penuh mendengarkan penjelasan dari seorang guru. Tanpa pernah berpikir kenapa belajar harus tergantung dengan gedung yang pengadaannya dibiayai dari utang luar negeri.

    Sayang sekali, informasi seputar pendidikan yang berkontribusi langsung pada perbaikan kehidupan, pada perwujudan masyarakat yang berdaya, pendididikan yang secara mandiri diselenggarakan oleh komunitas setempat jarang sekali kita dapatkan.


PARADIGMA KONVENSIONAL

    Pada umumnya cara pandang terhadap pendidikan cenderung bias skulastik. Pendidikan telah terlembagakan sedemikian rupa menjadi sekolahan. Sekolah itu sendiri telah terjebak menjadi perusahaan bidang jasa. Para keluarga dengan anaknya yang datang ke sekolah tersebut tidak lebi hanyalah sebagai calon konsumen. Pola hubungan antara sekolah dan siswa mengikuti pola pasar kapitalistik. Ada penjual jasa dan ada pembeli jasa. Parameter keberhasilan sekolahan dilihat dari seberapa besar minat masyarakat yang menyekolahkan anaknya ke sekolah tersebut terlebih masyrakat dari golongan ekonomi kuat. Upaya sekolahan memobilisasi minat masyarakat dilakukan dengan strategi pemasaran yang jitu. Biasanya dengan menunjukkan bahwa di sekolahan itu tersedia guru-guru yang andal, sarana pendidikan yang memadai serta prestasi-prestasi yang sempat dicari.

    Sementara dari sisi masyarakat (pembeli) akan melihat seberapa besar biaya yang harus dikeluarkan, seberapa mungkin (setelah lulus nanti) dapat melanjutkan ke lembaga pendidikan yang paling favorit, dan akhirnya seberapa besar peluang lulusannya dapat bekerja di perusahaan (mendapat majikan) yang diidam-idamkan. Bahkan tidak jarang kita jumpai dapat bekerja di tempat yang “basah”, yang “sabetannya” banyak dan seterusnya. Yang sering dinilai lebih ideal lagi adalah dapat menciptakan lapangan kerja (menjadi majikan). Persoalan majikan itu majkan yang eksploitatif atau tidak, itu tidak penting.


PARADIGMA QARYAH THAYYIBAH
    
Arti Qaryah Thayyibah
    Secara harfiah, Qaryah Thayyibah diartikan dengan desa yang indah, baik, berdaya, dan seterusnya. Yang dimaksud desa di sini adalh kesatuan masyarakt dalam suatu wilayah yang lebih memungkinkan interaksi fisik antara satu dengan yang lainnya dalam waktu singkat. Qaryah bagian dari Baldah. Di Indonesia Baldah dapat diartikan dengan kecamatan, kota, atau kabupaten. Sedangkan Qaryah dapat diartikan dengan dusun, desa, kampung, atau kelurahan. Qaryah Thayyibah dirasakan lebih dekat dengan semangat dasar civil society dibanding dengan masyarakat madani. Madani lebih bias kota (urban).

TUJUAN

Tujuan pendidikan model Qaryah Thayyibah adalah tewujudnya desa yang berdaya. Tidak hanya pada masyrakatnya, tetapi juga pada sumberdaya alamnya. Pendidikan dalam perspektif ini tidak hanya ditujukan untuk mengantarkan individu-individu dalam masyarakat, membangun sistem sosial yang demokratis, mengembangkan sistem ekononomi yang berkeadilan, namun juga berorientasi pada kelestarian dan penguatan daya dukung sumber daya alam.

STRATEGI

    Yang membedakan manusia dengan hewan adalah kesadaran yan dapat berkembang melalui proses belajar. Akan hilang ciri-ciri kemanusiaannya kalau tidak belajar. Belajar tidak perlu tergantung dengan adanya apa dan siapa, tidak adanya guru, gedung sekolah, bangku-kursi, seragam, sepatu, buku, komputer adalah hal yang wajar dan biasa, di mana punakan sangat mungkin terjadi, yang justru tidak masuk akal adalah ketika tidak tersedianya itu semua, manusia berhenti belajar. Kita tidak perlu risau ketika terjadi putus sekolah. Adalah bencana kemanusiaan ketika terjadi putus belajar termasuk bagi mereka yang ‘sekolahan’. Sementara yang dominan terjadi di sekolah justru bukan proses ‘belajar-mengajar’, tetapi lebih pada ‘mengajar-diajar’. Untuk belajar, dimulai saja dari sumber daya yang tersedia.

    Ketika dibutuhkannya media pendukung proses belajar, pikirkan sambil berjalan untuk memenuhinya dengan mengelola sumber daya yang tersedia. Jangan menunggu tersedianya perangkat pendukung baru berikutnya belajar. Suatu contoh SLTIP Alternatif Qaryah Thayyibah yang dikelola oleh Bachruddin. Setelah dianalis ternyata yang justru sangat dibutuhkan adalh tersedianya komputer bagi siswa. Maka, sambil belajar diupayakanlah mengelola uang saku anak per hari Rp. 2.000. kalau harga komuter itu Rp 1 juta per unitnya, tentunya dengan mengumpulkan uang slama 500 hari komputer itu akan dapat disediakan. Ternyata baru berjalan 200 hari pengelola sudah dapat mencarikan talangan untuk pengadaan komputer bahkan seharga Rp 1.400.000 per unitnya.

    Dengan demikian, pendidikan komunitas ini tidak berurusan dengan murah dan mahal. Pada kasus tidak ada uang sama sekali, tidak ada kepeduliandari negara dan dari manapun, belajar tidak harus berhenti. Berikutnya belajar harus dimulai dari semangat kebersamaan. Kemandirian komunitas adalah saling ketergantungan antara satu dengan yang lain.

METODE PEMBELAJARAN

    Konsep dasar pendiddikan komunitas meniadakan guru mengajar. Konsep Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) ditiadakan. Yang ada adalah belajar bersama. Persyaratan utama bagi guru adalah kemauan belajar dan memiliki pengalaman yang lebih dalam hal strategi belajar dan bukan metode mengajar. Posisi guru sebagai teman belajar bagi siswa. Dalam satu kelas cukup dibutuhkan satu orang guru yang akan menemani siswa dalam seluruh ‘mata pelajaran’. Seorang guru tidak perlu menguasai materi ‘pelajaran’. Ketika ada beberapa guru yang memiliki beberapa ‘kelebihan’ dalam hal penguasaan materi teteap tidak melakukan ‘mengajar’, tetapi lebih memposisikan sebagai resource person, sebagai salah satu obyek yang sewaktu-waktu siap di-‘eksploitasi’ oleh para murid. Resource yang lain bisa berada di kebu, di sawah, di lingkungan murid lainnya, di buku di compact disc, juga penjelajahan di internet.

    Bagi masyarakat khususnya orang tua/wali murid tidak perlu mengejar-ngejar anak untuk ‘belajar’. Justru sebaliknya, yakni  minta bantuan pada anak untuk menjawab persoalan yang dihadapi sehari-hari. Misalnya saja orang tua murid yang kebetulan sehari-harinya beternak kambing, minta saja pada anak agar dibahas bersama teman-temannya bagaimana mencari bibit kambng yang baik, bagaimana teknologi mengolah kulit kambing, bagaimana pemasarannya, dan seterusnya. Demikian juga bagi guru, justru selalu mengajak murid untuk terus melakukan assessment kebutuhan yang dihadapi oleh keluarga si murid. Kebutuhan tidak hanya melulu pada persolaan ekonomi atau teknologi, tetapi lebih luas dari itu termasuk kebutuhan berkeluarga dan berbangsa seingga pemahaman murid berikut masyarakat atas nilai-nilai keadilan, hak asasi manusia, demokrasi, keseteraan jender, kelestarian lingkungan, sampai dengan kewarganegaraan tertanamkan


REKOMENDASI UNTUK PENGUASA

Fasilitasi jaringan ICT

    Tidak masuk akal jika 5.500 tahun yang laiu tepatnya di Mesopotami a tempat diketemukannya teknologi roda oleh bangsa Sumeria, kalau penguasa setempat masih setempat masih memfasilitasi media yang bertentangan dengan perkembangan teknologi. Demikian juga ketika setleah ditemukannya kertas oleh Ts’ai Lun pada abad ke-2. tidak lucu kalau kertas sudah bis menggantikan kulit kambing terutama setelah ditemukannya mesih cetak oleh Guttenberg sebagai media tulis menulis, penguasa setempat masih saja tidak mau memfasilitasi gerakan pencerdasan warganya dengan media yang sesuai dengan eranya.

    Demikian juga dengan era sekarang ini. Era digitalnya para millennials (generasi milenium) yang hadir di dunia pada awal 1980-an. Mereka adalh pemilik sah era ini, penghuni era ini. Kita yang hadir sebelum itu sudah sepantasnya harus menyesuaikan diri, karena kitalah sebagai pendatang.

    Sangat tidak masuk akal kalau masih saja ada guru yang mendiktekan materi pelajarannya pada anak didik. Samasaja perilaku itu menghambat bahkan merampas hak dan kesempatan berkembangnya anak-anak generasi millenials. Juga pemborosan yang semestinya tidak perlu terjadi. Banyak daerah (kabupaten/kota) yang membelanjakan puluah miliar rupiah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)-nya untuk pengadaan buku terbitan Balai Pustaka yang sudah out of date dan tidak digunakan lagi. Sebu saja angka Rp 10 milliar sudah dapat diwujudkan compact disc sebanyak 10 juta keping atausetara 10 juta almari buku.

    Akankah para penguasa kita tidak mau menyadari terus bahwa tidak ada bedanya antara mereka dengan kaum Jahiliyah yang berkuasa? Ada satu contoh konkret yqng pernah Mas Bahruddin alami sendiri. Di Dusun Nglelo, Desa Batur, Kematan Getasa, Kabupaten Semarang SPPQT bersama Indo.net Salatiga telah mendampingi masyarakat setempat menyelenggarakan pendidikan alternatif. Sarana yang disediakan pertama kali adalah jaraingan internet. Ternyata hasilnya teramat fantastis. Betapa tidak, anak-anak yang tidak mungkin bisa sekolah karena harus naik turun gunung berkilo-kilo meter menuju sekolah terdekat itu, dengan difasilitasinya tempat belajar di rumah mereka sendiri, ternyata hasilnya mampu jauh mengungguli SMP induknya.

    Jaringan internet jauh lebih efektif kontribusinya dalam mencerdaskan anak bangsa dibanding membangun gedung SD Inpres dengan biaya tinggi yang kehadirannya tetap memposisikan sebagai barang asing bagi masyarakat di desa. Masyarakat hanya menjadi konsumen. Belajr saja dari Thailahnd yagn tengah berusaha sekuat tenaga memfasilitasi jaringan internet ke desa-desa. Pada penilaian terakhir tentang kalitas pendidkan pada 14 negara-negara berkembang di Asia Pasifik yang dilakukan oleh Unesco—ASPBAE, Thailand menduduki peringkat pertama. Sementara Indonesia berada di peringkat 10 dan khususn infput quality termasuk di dalamnya kualitas guru terlatih Indonesia berada di peringkat 14 dari 14 berkembang di Asia Pasifik.

Fasilitasi kesejahteraan guru

Kendala guru pada konsep Qaryah Thayyibah ini adalah sekaligus murid, dia tetaplah seseorang yang harus meluangkan waktu khusus dan meninggalkan kewajiban terhadap keluarganya. Namun, guru tetap berbeda degnan konsep pekerja pada sebuah perusahaan jasa. Guru tetap sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pencerdasan anak bangsa. Konsep Qaryah Thayyibah dalam hal kesejahteraan guru menggunakan konsep ‘bengkok’. Konsep bengkok telah dikelalus masyarakat Jawa. Seorang lurah tidak mendapatkan bayaran bulanan (gaji), namun mendapatkan begnkok. Yakni sebidang tanah yang harus diproduktifkan.untuk bisa memproduktifkan tanah bengkok harsu melibatkan petani penggarap yang keuntungannya dibagi antara penerima hak bengkok dan petani penggarap. Artinya seorang lurah ketika berpikir bagaimana meningkatkan kesejahteraan dirinya secara otomatis harus juga berpikir bagaimana meningkatkan kesejahteraan para petani di desanya degnan mengembangkan manajemen produksi.

    Disamping sarana pendukung utama produktivitas tanah bengkok seperti sistem irigasi, konservasi air, kesuburan tanah yang harsu diupayakan pengembangannya, manajemen pasca produksi seperti pengolahan hasil pertanian dan perdagangan yang menguntungkan masyarakat juga harus dipikirkan oleh seorang lurah.

    Seorang guru pada sekolah komunitas sudah semestinya demikian juga. Dia tidak perlu dibayar bulanan sebagaimana berlaku bagi para pekerja di perusahaan-perusahaan, namun diberikan begnkok yang tidak harus berupa tanah. Bengkok bisa saja berupa kambing, atau alat produksi lain. Misalnya saja bengkok berupa kambing. Setarakan saja 5 tahun gaji seorang guru yang Rp 1 juta per bulan, maka bengkok bagi seorang guru cukup Rp 60 juta. Angka initaruh diwuudkan kambing seharga Rp 500 rib per ekornya, maka akan ada 120 ekor kambing. Kambing ini nantinya selanjutnya di-gaduh oleh para petani yang menjadi wali murid dengan bagi hasil misalnya 40 untuk guru : 60 untuk petani (lebih menguntungkan petani dibanding hitungan umunya yang 50 : 50). Karena umumnya dalam waktu satu tahun seekor kambing akan beranak 2 kalidan sering beranak kembar. Artinya dalam waktu satu tahun 100 ekor kambing akan beranak 240 ekor (dengan pengandaian hanya beranak 1). Dari 240 ekor kambing itu taruh diberikan ke petaniyang 140 ekor, maka sang guru akan mendapatkan keuntungan Rp 50 juta pertahun atau 4 juta per bulan ( 4 kali lipat dibanding gaji Rp 1 juta per bulan).

    Dari ilustrasi diatas, beban pemerintah akan diperingan karena hanya mengeluarkan untuk modal kerjayang setara gaji lima tahun. Bandingkan degnan sistem utang negara yang sangat membebani negara sehingga utang negara akan menumpuk. Bagi guru sendiri akan sangat menikmati karena ternyata terimanya bahkan mencapai 4 kali lipat. Bagi petani penggaduh juga dapat menikmati karena mendapatkan kesempatan berproduksi yang memang sudah biasa digeluti (artinya kemungkinan berhasil lebih besar karena bukan usaha rintisan bahkan bankable). Bagi desa tentunya konsep semacam inilah yang akan menggerakkan ekonomi yang produktif desa. Dibarengi dengan kegiatan pembelajran yang lebih membuka peluang berkembangnya daya kreasi dan inovasi masyarakat, pasti masyarakat tidak akan berhenti pada budidaya saja. Mereka pasti akan berpikir yang lebih dari itu. Mereka akan berpikir bagaimana kalau dikembangkan usaha pengolahan daging kambing, pengolahan kulit kambing pengelolaan pakan ternak, pengawetan rumput untuk persediaan pada musim kemarau, dan seterusnya. Bengkok bisa saja berupa mesin cetak, CD duplikator, kamera video shooting, dan lain-lain.

TAWARAN BAGI SIAPA SAJA

Seorang kawan pernah mengatakan saya butuh berapa untuk menjalankan semua ini setiap bulannya. Saya katakan tidak lebih dari 7 jutaan per bulannya. Namun, yang menjadi masalahnya bukanlah sekedar keberadaan dananya saja. Saya tahu, bahwa tanpa adanya source of income yang memadai, proyek pencerdasan anak bangsa ini tidak akan berjalan. Tetap saja seluruh elemen dan variabel pendukung berdirinya proyek ini secara massif harus juga diperhatikan. Elemen penting tersebut adalah tersedianya Sumber Daya Manusia yang cukup, kapabel, komitmen dan memiliki ‘rasa haus’ yang tinggi terhadap perubahan. Dibutuhkan relawan (voulenteer) mau mendedikasikan dirinya dalam proyek ini.

Oleh karena itu, melalui surat terbuka ini. Saya mengundang kawan-kawan semua; siapa saja—yang peduli dengan nasib anak-anak kita di masa depan—untuk ikut berpartisipasi dalam gerakan pencerdasan rakyat ini. Siapapun diri anda, apapun potensi anda, apapun organisasi anda—jika anda mampu berkontribusi terhadap proyek menuju peradaban yang revolusioner ini; maka saya persilahkan anda untuk terlibat langsung di setiap daerah yang ingin anda kembangkan di seluruh Nusantara. Kontribusi dalam pemikiran, dana, infrastruktur, jaringan/ network, tenaga, tools pembelajaran—akan sangat dinanti oleh adik-adik di seluruh Indonesia. Saya secara pribadi akan mensupport proyek yang sama yang akan anda rintis di daerah-daerah anda sekalian. 
    Saya tekankan sekali lagi, bahwa gagasan ini bukan sekadar untuk mencari donasi dari kawan-kawan sekalian. Mencari donasi itu tak terlalu sulit, namun yang paling fundamental adalah para operator di lapangan. Mari berpartisipasi terhadap desa-desa di daearah Anda via pendidikan komunitas seperti ini. Saya berharap kawan-kawan sekalian bisa mengembangkan sekolah-sekolah komunitas--yang notabene sebagai Home Schooling yang dimodifikasi. Mari kita marakkan desa kita dengan sekolah-sekolah seperti ini.




Referensi :
1.    SLTP Alternatif Qaryah Thayyibah (Bahcruddin)
2.    Makalah dan ceramah Bahruddin pada Forum Mangunwijaya
3.    Kurikulum Yang Mencerdaskan : Visi 2030 dan Pendidikan Alternatif. Kompas. Forum Mangunwijaya
4.    Lebih Baik Tidak Sekolah (Sujono Samba). LKIS
5.    Lebih Baik Tidak Ada UAN (disertasi / tugas akhirnya siswa kelas 3-nya SLTP Alternatif Qaryah Thayyibah)
6.    Sekolah Bukan Segalanya : Pendidikan Kritis ala Toto-Chan (Aprinalistria). Pustaka Pelajar
7.    dan berbagai kliping koran Nasional





Adi Subiyanto
-----Pemerhati Pendidikan Kerakyatan----
CDMA : 031-71054887
Email   : adi.subiyanto@gmail.com & asubiyanto@yahoo.com


ddd
dThumbnaild
ddd
Pelatihan Researcher Assistant oleh Pusham UBaYA bekerja sama dengan Raul Wallenberg Institute (Swedia)
Menarik sekali....belajar bersama kawan-kawan peneliti se-Jawa Timur...

Berlangsung selama 1 minggu (September) di Kampus III Ubaya, Trawas Mojokerto (kaki Gunung Welirang)

Penelitian tersebut akan kami lakukan sampai Desember 2007 ini.
"Penelitian Hak Ekosob dalam rangka reduksi Kemiskinan di Jawa Timur"

berkutat pada bidang pendidikan dan kesehatan..

LinkRaoul Wallenberg InstituteOct 1, '07 7:47 AM
for everyone
Link: http://www.rwi.lu.se/index.shtml

Fundingnya tempat kami riset Hak Ekosob di Jatim....

Link.::PUSDAKOTA.orgSep 29, '07 12:40 PM
for everyone
Link: http://pusdakota.org/htmlInd/index.htm

salah satu tempat saya belajar....bersama masyarakat...
Mari lakukan perubahan dengan beraksi langsung dalam medan riil di masyarakat bawah....

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help