Goresan Sang Pemimpi(n) Peradaban

adi's posts with tag: keluarga

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag keluarga

AKU MASIH INGIN MELIHAT ANAKKU SUKSES !!!

 

Dalam hidup ini kita akan dihadapkan pada kenyataan-kenyataan yang akan selalu mengiterupsi kehidupan kita. Kenyataan-kenyataan tersebut dapat berupa kesenangan, musibah, ujian, kenaikan jabatan, naik haji, mendapatkan gelar S1 dan lain sebagainya---yang dapat dirangkum dalam dua kata sederhana yaitu; kenyataan pahit dan manis.

 

Seminggu yang lalu terjadi kecelakaan yang menimpa Bapak saya tercinta. Ada kebingungan kecil yang melanda pikiran. Dengan bekal pemahaman bahwa segala akan baik-baik saja, saya pun menghadapi aksiden tersebut dengan penuh ketenangan.

 

Walaupun kebanyakan sahabat, keluarga, teman kuliah, ikhwah, banyak yang menganggap kejadian tersebut adalah ’musibah’, saya sendiri lebih nyenyak dengan menyebutnya sebagai pembelajaran.

 

Ada hal-hal unik yang perlu saya tulis disini yang membuat saya menangis, tersenyum, maupun tertawa berkaitan dengan kecelakaan Bapak maupun manajemen pihak Rumah Sakit yang cukup menyesakkan dada.

 

Pertama, pihak manajemen RS yang ”Raja Tega”.

 

Coba, sahabat bayangkan.....saat Bapak sedang hampir kehabisan darah, dan mau masuk ruang UGD—kami dari pihak keluarga diminta oleh salah seorang perawat untuk menandatangani bahwa kami akan bertanggung jawab terhadap seluruh biaya yang dikeluarkan oleh RS atas perawatan maupun tindakan yang diberikan kepada Bapak.

 

Dan untuk tindakan tersebut, kami harus dapat menjamin dapat menyediakan uang 2 juta sebagai uang muka (DP) tindakan operasi. Gilaa......uang darimana malam-malam gitu. Sudah sekarat....masih aja bicara uang. Akhirnya Paman saya (yang tinggal di Mojokerto) telah melesat ke RS saat ada kabar bahwa ’adiknya’ (Bapak saya) kecelakaan---langsung saja menandatangani ”Perjanjian Raja Tega” tersebut. Beberapa ratus ribu yang ada di dompet pun diberikan ke pihak manajemen RS agar operasi dapat segera dilakukan.

 

Jadi, kalau ada yang menjamin---Bapak kemungkinan besar tidak akan segera ’ditindak’. Dari datang jam 02.00, Bapak dibiarkan diruang UGD dan tidak diapa-apakan sampai pukul 07.00. Menunggu dokter specialisnya datang. Saya nggak tahu bagaimana rasanya Bapak menahan sakitnya tersebut.

 

Paginya saat dioperasi dia sempat berkata,”Bu, kakiku jangan diamputasi, ya! Nanti kalau diamputasi nanti Ibu meninggalkan aku, lagi!” tuturnya dalam bahasa Suroboyo-an.

Ibu hanya tersenyum dan berkata,”Walah...insya Allah nggak punya kaki pun aku masih tetep sayang, kok! Ojo khawatir. Susah nyari orang koyo Bapak iki.”

”Bu....sakit bu!” rintih Bapak pra-operasi. Bapak saya kategorikan termasuk orang yang sangat kuat dan nggak cengeng. Orang lain dalam kondisi beliau pada umumnya sudah menjerit maupun pingsan. Beliau hanya mengatakan bahwa dia kesakitan dan hanya menetaskan air mata.

 

Bapak  : ”Aku pengen melihat anakku sukses......aku masih pengen melihat Mas Adi hidup mulia! Aku nggak pengen mati dulu, Bu!”

 

Pokoknya kaya sinetron banget. Air mata Ibu terus mengucur deras. Saya yang sedari tadi mencoba untuk tenang dan berlagak ‘tidak masalah’, langsung ambrol bendungan air mata yang kutahan dari tadi malam.

 

Wah…nggak kebayang deh kalau saat ini ditinggal Bapak dengan kondisi kehidupan yang masih berat ini.

 

Masih ingat khan, tentang posting awal saya tentang kecelakaan Bapak ini. Dokter memberikan opsi, di amputasi atau di kembalikan seperti sediakala. Bapak menginginkan kalau bisa opsi yang kedua saja. Kalau begitu pilihan tersebut memiliki konsekuensi, biaya lebih mahal dengan operasi paling tidak 3 kali (pembersihan, daging, syaraf, otot) dan proses sembuhnya yang lebih lama.

 

Sampai hari ini Bapak alhamdulillah berangsur-angsur membaik. Namun, kondisi badannya sangat kurus. Kaki dan dadanya yang biasanya tampak penuh sekarang tampak tulang-tulangnya yang menonjol. Beliau cukup bahagia dan bersyukur masih diberikan oleh-Nya yang di-operasi hanya kakinya. Badannya utuh, hanya sedikit lecet-lecet di siku tangan dan kaki saja. Saya baru tahu sebelum Bapak dioperasi, bahwa ia di-srempet oleh mobil bus dengan kecepatan tinggi, kemudian motornya masuk kedalam kolongnya truk gandeng yang berada sebelah kirinya.

 

Bus tersebut menghilang entah kemana. Semoga supirnya diberikan kemudahan dan kesadaran.

 

Ibu selama seminggu penuh ini menjaga beliau siang malam di RS tersebut. Karena jaraknya satu jam dari rumah yang di Surabaya, untuk pakaian dan beberapa keperluan kecil harus saya ekspor langsung dari SBY.

 

Sistem yang terlalu birokratis dan kaku tersebut, telah menyulitkan saya dan keluarga. Ada tekad yang sangat kuat, suatu saat nanti saya akan mendirikan RS gratis untuk masyarakat Indonesia. Itu adalah hal yang aksiomatis. Kemutlakan.

 

 

Kedua, Ketemu dengan Orang Taiwan

 

Ibu termasuk orang yang sangat mudah akrab dengan orang lain. Waktu itu ada seorang anak kecil taiwan seumuran SD dan tampaknya ia sangat rewel dan susah tidur. Ibu yang tidak tega melihat kerewelan anak kecil dari Taiwan tersebut, akhirnya berinisiatif memijati si anak. Alhasil, si kecil tertidur pulas karena merasa nyaman. Sewaktu pulang Papanya (yang juga orang Taiwan dan nggak bisa ngomong Bahasa Indonesia sama sekali) menyalami ibu amplop. Dalamnya berisi Rp. 200 ribu. Bahagia banget bisa buat beli resep satu kali.

 

Ketiga, Tetangga dan keluarga jadi rukun kembali.

 

Di kampung kami, sudah menjadi hal yang biasa ketika beberapa keluarga tidak saling menyapa, dikarenakan kesalahpahaman tertentu. Beberapa tetangga yang sebelumnya bermuka masam, jadi mesra dan hangat kepada kami. Bahkan hampir ibu-ibunya senantiasa memaksa saya untuk makan dirumahnya kalau saya tiba di rumah. Hari Sabtu dan Ahad kemarin, warga di RT kami berbondong-bondong menjenguk Bapak di RS. Menggunakan truk TNI AL, karena ada tentangga akrab yang kerja di sana. Karang Taruna pun datang dengan iring-iringan motornya. Remas (remaja masjid) pun tak ingin kalah.

 

Paman yang berada jauh di Kalimantan yang sudah hampir 6 tahun tak pernah berjumpa, Ahad kemarin langsung ’terjun’ ke RS Anwar Medika di Krian tersebut. Pak Pri, namanya. Sekarang tinggal di Banjarmasin.

 

Keempat, Solidaritas offline dan online yang ‘ditest’

 

Beberapa ikhwah (saudara, sahabat) di Surabaya yang mendengar kabar kecelakaan Bapak—saling berebut membantu mencarikan dana di beberapa lembaga Sosial. LMI, Baziskaf Telkom, YDSF, Jasa Raharja, PKPU. Mengajukan proposal, dan sampai hari ini pun masih proses katanya. Semoga goal, agar biaya operasi bisa terlunasi.

 

Beberapa sahabat online yang biasanya hanya bertemu di dunia maya –ingin sekali membantu saya. Ada seseorang ‘malaikat’ yang membukakan rekening untuk saya agar yang lain mudah untuk transfer uang. Dan sekaligus uang untuk setoran pertama, sebesar gaji bulanan saya sebagai guru. Subhanallah. Padahal kami tak pernah bertemu kopi darat sebelumnya. Namun, saat bertemu—seolah kami sudah lama saling kenal. Saling percaya. Saling ingin menguatkan dan meringankan. “Terima kasih, Kak!”

 

Saya hanya bisa membalasnya dengan doa. Biar Allah dan niat sahabat sekalian yang menjadi penentu kebaikan tersebut. Bantuan seolah ada saja.

 

 

RENCANA PINDAH

 

Biaya di RSU Anwar Medika, saya pikir sangat memberatkan. Beberapa sahabat yang juga dokter, menyarankan agar dirujuk ke RS Pemerintah, (ex: RS Dr. Soetomo, dan RS Haji), agar biaya dapat ditekan. Paling tidak ada sedikit subsidi dari pemerintah. Obat-obat pun bisa sedikit lebih murah. Trus, ibu dan saya pun bisa kembali kerja dan kuliah seperti sediakala. Ambulance, alhamdulillah ada yang menawari dari PKPU dan PLASMA  YDSF siap melayani dengan gratis sampai rumah sakit tujuan (antar jemput gitu).


Banyak hal-hal unik yang terjadi pasca kecelakaan Bapak. Hal tersebut adalah :

  1. Posisi ‘Kepala Keluarga’ yang prestisius
  2. Azzam yang kuat tentang ‘daya cipta material’
  3. Jadi pengen mendirikan RS yang gratis untuk masyarakat
  4. Semakin dekat dengan si Dia

 

[Topik ”Yang Membuatku Tersenyum” diatas akan saya jabarkan pada posting berikut)

 

 

Surabaya, Monday, September 03, 2007

Rumah Baca Az-Zahra Telkom Divre V

 

 


Blog EntryInnalillahi........., Bapak saya?Aug 27, '07 7:22 AM
for everyone
Sahabat tersayang,  Innalillahi wa inna ilahi  roji'un.  Terjadi kecelakaan yang menimpa keluarga  saya.  Ahad, 26 Agustus 2007 pukul 11.45 (saya ingat betul) motor yang dinaiki Bapak terlindas mobil truk gandengan. Pada awalnya saya tidak menyangka kemacetan yang ada di depan kami (kami berangkat beriringan menggunakan dua motor, saya dengan ibu. Dan Bapak sendirian)--adalah kecelakaan Bapak saya.

Motornya hancur, pecah jadi dua. Saat menoleh ke kiri jalan, kami berdua langsung sadar bahwa beliau memang Bapak. "Endi anak ambek bojoku?" tanyanya pada warga setempat yang menolong. (baca jawa : Mana anak dan istriku?). Di saat nyawanya sedang terancam beliau masih saja mengingat dan lebih mempedulikan kami berdua, anak dan istrinya. Sungguh besar cinta-kasih sayangnya pada keluarga. Entah itu karena rasa cinta dan kekhawatiran atas dirinya karena butuh bantuan. Yang pasti beliau sangat tenang saat itu. Tidak menjerit maupun mengeluh. Santai saja.

Paha kanannya utuh, namun lutut kebawah sudah tinggal tulang--putih bersih. Kelihatan tulang kecilnya yang putih bersih. Dagingnya terbang entah kemana. Seperti cakar ayam yang dimasukkan air mendidih dan diangkat. Mengerikan. Darahnya deras mengalir di atas pasir. Alhamdulillah, ada yang menarik tubuh Bapak keluar dari bawah mobil truk gandengan tersebut setelah terlindas dan terseret sejauh 100 meter.

Saat tahu si korban adalah Bapak, Ibu langsung berlari menuju beliau dengan histeris dan memeluknya dengan amat erat dan berkata,"Pak..pak wis tak kandani ojo budal bengi...la kok sik ngotot!" (baca jawa: Pak..pak sudah dibilangi jangan berangkat malam hari, kok masih juga keras kepala!)

Saat itu Bapak hanya terlihat sangat sok dan diam seribu bahasa. Beberapa menit kemudian beliau langsung lemas karena kehabisan darah mungkin.

Pelukan Ibu semakin erat dan seolah ak mau kehilangan Bapak. Dalam saat-saat seperti itulah rasa cinta dan rasa memiliki di antara keluarga akan tampak sekali. Ibu sangat panik, berbeda dengan saya. Saya panik, namun dalam hati saja. Saya berusaha tampak tenang agar tak memperparah keadaan.

Warga sekitar tempat kejadian dan pengemudi yang berhenti hanya sibuk bertanya, "Ada apa?" tanpa melakukan banyak hal. Pikiran saya berpikir sangat cepat dengan melakukan beberapa hal.
1. MEncari kantor polisi terdekat. Polisi datang dengan mobil dan mencarikan ambalance untuk ke RS
2. Menghubungi RUmah sakit terdekat
3. Melakukan Pertolongan Pertama pada Bapak.

Saya berusaha untuk sedikit mengehentikan darah yang mengalir deras dari kaki Bapak dengan mengikat pahanya dengan tali buatan.

Ambulance datang lama sekali, katanya lagi cari sopir. Konyol sekali menurut saya. Bapak sampai hampir tak sadarkan diri. Ambulance datang, itu pun tanpa awak yang lengkap. Ibu saya persilahkan untuk ikut dalam mobil ambulance untuk mengurusi segala hal di RS. Saya sendiri langsung meluncur ke rumah nenek, tujuan kami. Kami pulang sebenarnya untuk coblosan pemilihan lurah di kampung kami, di Gedeg, Mojokerto--Jawa Timur.

Saya sudah ada firasat nggak enak dan sangat ngantuk malam itu. Sampai saya harus menenggak satu gelas kopi. Bapak sangat ingin sekali berangkat malam itu dan istirahat di rumah nenek. Akhirnya, jadi tidur di rumah-- bukan rumah nenek tapi RUmah sakit Anwar Medika. Jalan By Pass Krian, Sidoarjo---Arah Mojokerto.

Saat ini Bapak sudah di operasi 1kali. Rencananya akan dioperasi 3 kali. KEmungkinan terbesar kaki kanannya akan diamputasi. Biaya operasi diperkirakan 16 juta-an. Itu belum obat hariannya.

Masya Allah, di saat Bapak terkena PHK--sekarang mendapat kecelakaan. Semoga Allah SWT memberikan kemudahan dan segala sesuatu yang terbaik untuk Bapak dan kami semua. Mohon doa'nya Sahabat semua.

Beberapa hari ini saya harus berputar-putar untuk mencari uang tersebut. Saya yakin akan mendapat kemudahan. Jasa Marga dan beberapa lembaga dana sosial di Surabaya menjadi harapan. Alhamdulillah beberapa ikhwah (sahabat) dari Surabaya langsung sigap dan datang kesana menjenguk. Uang obat sampai hari ini masih bisa ditebus, entah besok. Satu hari saja obatnya saja sampai 400 ribu.

Besok saya akan mengurus itu semua dibantu rekan-rekan di Surabaya. Hari ini saya harus ijin untuk tidak menghadiri kuliah perdana di kampus.


Barokallah...semoga Allah memberikan yang terbaik dan kemudahan.

Sekarang Bapak dirawat di RSU Anwar Medika Jl. By Pass Krian,Sewamut, Balong Bendo--SIDOARJO
Telp. 031--8972052, 8974943 Fax. 8988313

Bapak : Tn. Sumani bin Nur Rachmat

Kalau sahabat sempat dan lewat sana, silahkan menjenguk. Kami sekeluarga akan sangat senang sekali, walaupun sekedar datang saja. Itu sudah menyejukkan jiwa. Berikut doa'nya.

Karena desakan sahabat tersayang di MP yang tanya rekening. Siang ini (29/8) saya coba nyari rekening BRI ibu di kontrakan, insya Allah masih bisa dipakai. Dan ternyata rekening di BRI tidak bisa online untuk tranfer.

Pagi ini (31/8/07) seorang sahabat membukakan rekening untuk saya, juga atas nama saya di Bank Niaga. "Saya ingin mengirim sedikit bantuan. Agar bisa tranfer online, pake Bank ini saja!" katanya

Rekening yang baru di buka tanggal 31/08/2007 tersebut adalah :

Bank Niaga
Nama            : ADI SUBIYANTO
No. Rek         : 033-01-19113-13-7
Nama Cabang :SBY-IBC Dharmahusada

Telp saya         : 031-71054887


wass

ttd

Keluarga Besar Adi Subiyanto


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help