adi's posts with tag: pendidikan
 PENDIDIKAN UNTUK KEBERDAYAAN DESA Setiap saat kita selalu mendapatkan berbagai informasi tentang pendidikan. Informasi yang menggembirakan selalu seputar prestasi “belajar”. Kita berbangga ketika bangsa kita yang diwakili oleh Oge si Mutiara Hitam, Septinus George Saa, seorang siswa dari Papua yang memenangkan The First Step to Nobel Prize in Physics 2004 di Warsawa, Polandia. Tanpa berpikir sebaliknya bagaimana kondisi sekian ratus juta bangsa kita minus 1 orang tersebut. Sebut saja laporan PBB dalam Human Development Report 2004, kualitas pendidikan Indonesia (Education Index= 0,80) berada di bawah Vietnam (0,82) atau terendah di antara negara-negara ASEAN lainnya. Terlebih dari penelitiannya Unesco-OECD dalam Programme of International Student Assesment (PISA), Kecakapan baca anak0anak kita (usia 15 tahun) sangatlah rendah (peringkat 39 dari 41 negara yang diteliti). Ini sungguh s angat memprihatinkan mengingat di era digital ini tuntutan kecakapan membaca sangatlah dibutuhkan untuk secara mandiri menyerap pengetahuan melalui media yang ada khususnya digital yang sudah tersedia tanpa batas ini. Sedangkan informasi yang menyedihkan selalu seputar anjlognya prestasi anak didik di samping rendahnya atau tidak memadainya sarana belajar (sekolah). Kita selalu sedih manakala melihat tayangan TV tentang gedung-gedung sekolah yang roboh akibat kualitas bangunan yang buruk atau akibat bencana alam. Anak-anak belajar berimpit-impitan di bawah tenda sehingga tidak bisa berkonsentrasi penuh mendengarkan penjelasan dari seorang guru. Tanpa pernah berpikir kenapa belajar harus tergantung dengan gedung yang pengadaannya dibiayai dari utang luar negeri. Sayang sekali, informasi seputar pendidikan yang berkontribusi langsung pada perbaikan kehidupan, pada perwujudan masyarakat yang berdaya, pendididikan yang secara mandiri diselenggarakan oleh komunitas setempat jarang sekali kita dapatkan. PARADIGMA KONVENSIONAL Pada umumnya cara pandang terhadap pendidikan cenderung bias skulastik. Pendidikan telah terlembagakan sedemikian rupa menjadi sekolahan. Sekolah itu sendiri telah terjebak menjadi perusahaan bidang jasa. Para keluarga dengan anaknya yang datang ke sekolah tersebut tidak lebi hanyalah sebagai calon konsumen. Pola hubungan antara sekolah dan siswa mengikuti pola pasar kapitalistik. Ada penjual jasa dan ada pembeli jasa. Parameter keberhasilan sekolahan dilihat dari seberapa besar minat masyarakat yang menyekolahkan anaknya ke sekolah tersebut terlebih masyrakat dari golongan ekonomi kuat. Upaya sekolahan memobilisasi minat masyarakat dilakukan dengan strategi pemasaran yang jitu. Biasanya dengan menunjukkan bahwa di sekolahan itu tersedia guru-guru yang andal, sarana pendidikan yang memadai serta prestasi-prestasi yang sempat dicari. Sementara dari sisi masyarakat (pembeli) akan melihat seberapa besar biaya yang harus dikeluarkan, seberapa mungkin (setelah lulus nanti) dapat melanjutkan ke lembaga pendidikan yang paling favorit, dan akhirnya seberapa besar peluang lulusannya dapat bekerja di perusahaan (mendapat majikan) yang diidam-idamkan. Bahkan tidak jarang kita jumpai dapat bekerja di tempat yang “basah”, yang “sabetannya” banyak dan seterusnya. Yang sering dinilai lebih ideal lagi adalah dapat menciptakan lapangan kerja (menjadi majikan). Persoalan majikan itu majkan yang eksploitatif atau tidak, itu tidak penting.PARADIGMA QARYAH THAYYIBAH Arti Qaryah Thayyibah Secara harfiah, Qaryah Thayyibah diartikan dengan desa yang indah, baik, berdaya, dan seterusnya. Yang dimaksud desa di sini adalh kesatuan masyarakt dalam suatu wilayah yang lebih memungkinkan interaksi fisik antara satu dengan yang lainnya dalam waktu singkat. Qaryah bagian dari Baldah. Di Indonesia Baldah dapat diartikan dengan kecamatan, kota, atau kabupaten. Sedangkan Qaryah dapat diartikan dengan dusun, desa, kampung, atau kelurahan. Qaryah Thayyibah dirasakan lebih dekat dengan semangat dasar civil society dibanding dengan masyarakat madani. Madani lebih bias kota (urban). TUJUAN Tujuan pendidikan model Qaryah Thayyibah adalah tewujudnya desa yang berdaya. Tidak hanya pada masyrakatnya, tetapi juga pada sumberdaya alamnya. Pendidikan dalam perspektif ini tidak hanya ditujukan untuk mengantarkan individu-individu dalam masyarakat, membangun sistem sosial yang demokratis, mengembangkan sistem ekononomi yang berkeadilan, namun juga berorientasi pada kelestarian dan penguatan daya dukung sumber daya alam. STRATEGI Yang membedakan manusia dengan hewan adalah kesadaran yan dapat berkembang melalui proses belajar. Akan hilang ciri-ciri kemanusiaannya kalau tidak belajar. Belajar tidak perlu tergantung dengan adanya apa dan siapa, tidak adanya guru, gedung sekolah, bangku-kursi, seragam, sepatu, buku, komputer adalah hal yang wajar dan biasa, di mana punakan sangat mungkin terjadi, yang justru tidak masuk akal adalah ketika tidak tersedianya itu semua, manusia berhenti belajar. Kita tidak perlu risau ketika terjadi putus sekolah. Adalah bencana kemanusiaan ketika terjadi putus belajar termasuk bagi mereka yang ‘sekolahan’. Sementara yang dominan terjadi di sekolah justru bukan proses ‘belajar-mengajar’, tetapi lebih pada ‘mengajar-diajar’. Untuk belajar, dimulai saja dari sumber daya yang tersedia. Ketika dibutuhkannya media pendukung proses belajar, pikirkan sambil berjalan untuk memenuhinya dengan mengelola sumber daya yang tersedia. Jangan menu nggu tersedianya perangkat pendukung baru berikutnya belajar. Suatu contoh SLTIP Alternatif Qaryah Thayyibah yang dikelola oleh Bachruddin. Setelah dianalis ternyata yang justru sangat dibutuhkan adalh tersedianya komputer bagi siswa. Maka, sambil belajar diupayakanlah mengelola uang saku anak per hari Rp. 2.000. kalau harga komuter itu Rp 1 juta per unitnya, tentunya dengan mengumpulkan uang slama 500 hari komputer itu akan dapat disediakan. Ternyata baru berjalan 200 hari pengelola sudah dapat mencarikan talangan untuk pengadaan komputer bahkan seharga Rp 1.400.000 per unitnya.  Dengan demikian, pendidikan komunitas ini tidak berurusan dengan murah dan mahal. Pada kasus tidak ada uang sama sekali, tidak ada kepeduliandari negara dan dari manapun, belajar tidak harus berhenti. Berikutnya belajar harus dimulai dari semangat kebersamaan. Kemandirian komunitas adalah saling ketergantungan antara satu dengan ya ng lain. METODE PEMBELAJARAN Konsep dasar pendiddikan komunitas meniadakan guru mengajar. Konsep Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) ditiadakan. Yang ada adalah belajar bersama. Persyaratan utama bagi guru adalah kemauan belajar dan memiliki pengalaman yang lebih dalam hal strategi belajar dan bukan metode mengajar. Posisi guru sebagai teman belajar bagi siswa. Dalam satu kelas cukup dibutuhkan satu orang guru yang akan menemani siswa dalam seluruh ‘mata pelajaran’. Seorang guru tidak perlu menguasai materi ‘pelajaran’. Ketika ada beberapa guru yang memiliki beberapa ‘kelebihan’ dalam hal penguasaan materi teteap tidak melakukan ‘mengajar’, tetapi lebih memposisikan sebagai resource person, sebagai salah satu obyek yang sewaktu-wa ktu siap di-‘eksploitasi’ oleh para murid. Resource yang lain bisa berada di kebu, di sawah, di lingkungan murid lainnya, di buku di compact disc, juga penjelajahan di internet. Bagi masyarakat khususnya orang tua/wali murid tidak perlu mengejar-ngejar anak untuk ‘belajar’. Justru sebaliknya, yakni minta bantuan pada anak untuk menjawab persoalan yang dihadapi sehari-hari. Misalnya saja orang tua murid yang kebetulan sehari-harinya beternak kambing, minta saja pada anak agar dibahas bersama teman-temannya bagaimana mencari bibit kambng yang baik, bagaimana teknologi mengolah kulit kambing, bagaimana pemasarannya, dan seterusnya. Demikian juga bagi guru, justru selalu mengajak murid untuk terus melakukan assessment kebutuhan yang dihadapi oleh keluarga si murid. Kebutuhan tidak hanya melulu pada persolaan ekonomi atau teknologi, tetapi lebih luas dari itu termasuk kebutuhan berkeluarga dan berbangsa seingga pemahaman murid berikut masyarakat atas nilai-nilai keadilan, hak asasi manusia, demokrasi, keseteraan jender, kelestarian lingkungan, sampai dengan kewarganegaraan tertanamkan REKOMENDASI UNTUK PENGUASAFasilitasi jaringan ICT Tidak masuk akal jika 5.500 tahun yang laiu tepatnya di Mesopotami a tempat diketemukannya teknologi roda oleh bangsa Sumeria, kalau penguasa setempat masih setempat masih memfasilitasi media yang bertentangan dengan perkembangan teknologi. Demikian juga ketika setleah ditemukannya kertas oleh Ts’ai Lun pada aba  d ke-2. tidak lucu kalau kertas sudah bis menggantikan kulit kambing terutama setelah ditemukannya mesih cetak oleh Guttenberg sebagai media tulis menulis, penguasa setempat masih saja tidak mau memfasilitasi gerakan pencerdasan warganya dengan media yang sesuai dengan eranya. Demikian juga dengan era sekarang ini. Era digitalnya para millennials (generasi milenium) yang hadir di dunia pada awal 1980-an. Mereka adalh pemilik sah era ini, penghuni era ini. Kita yang hadir sebelum itu sudah sepantasnya harus menyesuaikan diri, karena kitalah sebagai pendatang. Sangat tidak masuk akal kalau masih saja ada guru yang mendiktekan materi pelajarannya pada anak didik. Samasaja perilaku itu menghambat bahkan merampas hak dan kesempatan berkembangnya anak-anak generasi millenials. Juga pemborosan yang semestinya tidak perlu terjadi. Banyak daerah (kabupaten/kota) yang membelanjakan puluah miliar rupiah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)-nya untuk pengadaan buku terbitan Balai Pustaka yang sudah out of date dan tidak digunakan lagi. Sebu saja angka Rp 10 milliar sudah dapat diwujudkan compact disc sebanyak 10 juta keping atausetara 10 juta almari buku. Akankah para penguasa kita tidak mau menyadari terus bahwa tidak ada bedanya antara mereka dengan kaum Jahiliyah yang berkuasa? Ada satu contoh konkret yqng pernah Mas Bahruddin alami sendiri. Di Dusun Nglelo, Desa Batur, Kematan Getasa, Kabupaten Semarang SPPQT bersama Indo.net Salatiga telah mendampingi masyarakat setempat menyelenggarakan pendidikan alternatif. Sarana yang disediakan pertama kali adalah jaraingan internet. Ternyata hasilnya teramat fantastis. Betapa tidak, anak-anak yang tidak mungkin bisa sekolah karena harus naik turun gunung berkilo-kilo meter menuju sekolah terdekat itu, dengan difasilitasinya tempat belajar di rumah mereka sendiri, ternyata hasilnya mampu jauh mengungguli SMP induknya. Jaringan internet jauh lebih efektif kontribusinya dalam mencerdaskan anak bangsa dibanding membangun gedung SD Inpres dengan biaya tinggi yang kehadirannya tetap memposisikan sebagai barang asing bagi masyarakat di desa. Masyarakat hanya menjadi konsumen. Belajr saja dari Thailahnd yagn tengah berusaha sekuat tenaga memfasilitasi jaringan internet ke desa-desa. Pada penilaian terakhir tentang kalitas pendidkan pada 14 negara-negara berkembang di Asia Pasifik yang dilakukan oleh Unesco—ASPBAE, Thailand menduduki peringkat pertama. Sementara Indonesia berada di peringkat 10 dan khususn infput quality termasuk di dalamnya kualitas guru terlatih Indonesia berada di peringkat 14 dari 14 berkembang di Asia Pasifik. Fasilitasi kesejahteraan guruKendala guru pada konsep Qaryah Thayyibah ini adalah sekaligus murid, dia tetaplah seseorang yang harus meluangkan waktu khusus dan meninggalkan kewajiban terhadap keluarganya. Namun, guru tetap berbeda degnan konsep pekerja pada sebuah perusahaan jasa. Guru tetap sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pencerdasan anak bangsa. Konsep Qaryah Thayyibah dalam hal kesejahteraan guru menggunakan konsep ‘bengkok’. Konsep bengkok telah dikelalus masyarakat Jawa. Seorang lurah tidak mendapatkan bayaran bulanan (gaji), namun mendapatkan begnkok. Yakni sebidang tanah yang harus diproduktifkan.untuk bisa memproduktifkan tanah bengkok harsu melibatkan petani penggarap yang keuntungannya dibagi antara penerima hak bengkok dan petani penggarap. Artinya seorang lurah ketika berpikir bagaimana meningkatkan kesejahteraan dirinya secara otomatis harus juga berpikir bagaimana meningkatkan kesejahteraan para petani di desanya degnan mengembangkan manajemen produksi. Disamping sarana pendukung utama produktivitas tanah bengkok seperti sistem irigasi, konservasi air, kesuburan tanah yang harsu diupayakan pengembangannya, manajemen pasca produksi seperti pengolahan hasil pertanian dan perdagangan yang menguntungkan masyarakat juga harus dipikirkan oleh seorang lurah. Seorang guru pada sekolah komunitas sudah semestinya demikian juga. Dia tidak perlu dibayar bulanan sebagaimana berlaku bagi para pekerja di perusahaan-perusahaan, namun diberikan begnkok yang tidak harus berupa tanah. Bengkok bisa saja berupa kambing, atau alat produksi lain. Misalnya saja bengkok berupa kambing. Setarakan saja 5 tahun gaji seorang guru yang Rp 1 juta per bulan, maka bengkok bagi seorang guru cukup Rp 60 juta. Angka initaruh diwuudkan kambing seharga Rp 500 rib per ekornya, maka akan ada 120 ekor kambing. Kambing ini nantinya selanjutnya di-gaduh oleh para petani yang menjadi wali murid dengan bagi hasil misalnya 40 untuk guru : 60 untuk petani (lebih menguntungkan petani dibanding hitungan umunya yang 50 : 50). Karena umumnya dalam waktu satu tahun seekor kambing akan beranak 2 kalidan sering beranak kembar. Artinya dalam waktu satu tahun 100 ekor kambing akan beranak 240 ekor (dengan pengandaian hanya beranak 1). Dari 240 ekor kambing itu taruh diberikan ke petaniyang 140 ekor, maka sang guru akan mendapatkan keuntungan Rp 50 juta pertahun atau 4 juta per bulan ( 4 kali lipat dibanding gaji Rp 1 juta per bulan). Dari ilustrasi diatas, beban pemerintah akan diperingan karena hanya mengeluarkan untuk modal kerjayang setara gaji lima tahun. Bandingkan degnan sistem utang negara yang sangat membebani negara sehingga utang negara akan menumpuk. Bagi guru sendiri akan sangat menikmati karena ternyata terimanya bahkan mencapai 4 kali lipat. Bagi petani penggaduh juga dapat menikmati karena mendapatkan kesempatan berproduksi yang memang sudah biasa digeluti (artinya kemungkinan berhasil lebih besar karena bukan usaha rintisan bahkan bankable). Bagi desa tentunya konsep semacam inilah yang akan menggerakkan ekonomi yang produktif desa. Dibarengi dengan kegiatan pembelajran yang lebih membuka peluang berkembangnya daya kreasi dan inovasi masyarakat, pasti masyarakat tidak akan berhenti pada budidaya saja. Mereka pasti akan berpikir yang lebih dari itu. Mereka akan berpikir bagaimana kalau dikembangkan usaha pengolahan daging kambing, pengolahan kulit kambing pengelolaan pakan ternak, pengawetan rumput untuk persediaan pada musim kemarau, dan seterusnya. Bengkok bisa saja berupa mesin cetak, CD duplikator, kamera video shooting, dan lain-lain. TAWARAN BAGI SIAPA SAJASeorang kawan pernah mengatakan saya butuh berapa untuk menjalankan semua ini setiap bulannya. Saya katakan tidak lebih dari 7 jutaan per bulannya. Namun, yang menjadi masalahnya bukanlah sekedar keberadaan dananya saja. Saya tahu, bahwa tanpa adanya source of income yang memadai, proyek pencerdasan anak bangsa ini tidak akan berjalan. Tetap saja seluruh elemen dan variabel pendukung berdirinya proyek ini secara massif harus juga diperhatikan. Elemen penting tersebut adalah tersedianya Sumber Daya Manusia yang cukup, kapabel, komitmen dan memiliki ‘rasa haus’ yang tinggi terhadap perubahan. Dibutuhkan relawan (voulenteer) mau mendedikasikan dirinya dalam proyek ini.Oleh karena itu, melalui surat terbuka ini. Saya mengundang kawan-kawan semua; siapa saja—yang peduli dengan nasib anak-anak kita di masa depan—untuk ikut berpartisipasi dalam gerakan pencerdasan rakyat ini. Siapapun diri anda, apapun potensi anda, apapun organisasi anda—jika anda mampu berkontribusi terhadap proyek menuju peradaban yang revolusioner ini; maka saya persilahkan anda untuk terlibat langsung di setiap daerah yang ingin anda kembangkan di seluruh Nusantara. Kontribusi dalam pemikiran, dana, infrastruktur, jaringan/ network, tenaga, tools pembelajaran—akan sangat dinanti oleh adik-adik di seluruh Indonesia. Saya secara pribadi akan mensupport proyek yang sama yang akan anda rintis di daerah-daerah anda sekalian. Saya tekankan sekali lagi, bahwa gagasan ini bukan sekadar untuk mencari donasi dari kawan-kawan sekalian. Mencari donasi itu tak terlalu sulit, namun yang paling fundamental adalah para operator di lapangan. Mari berpartisipasi terhadap desa-desa di daearah Anda via pendidikan komunitas seperti ini. Saya berharap kawan-kawan sekalian bisa mengembangkan sekolah-sekolah komunitas--yang notabene sebagai Home Schooling yang dimodifikasi. Mari kita marakkan desa kita dengan sekolah-sekolah seperti ini. Referensi : 1. SLTP Alternatif Qaryah Thayyibah (Bahcruddin) 2. Makalah dan ceramah Bahruddin pada Forum Mangunwijaya 3. Kurikulum Yang Mencerdaskan : Visi 2030 dan Pendidikan Alternatif. Kompas. Forum Mangunwijaya 4. Lebih Baik Tidak Sekolah (Sujono Samba). LKIS 5. Lebih Baik Tidak Ada UAN (disertasi / tugas akhirnya siswa kelas 3-nya SLTP Alternatif Qaryah Thayyibah) 6. Sekolah Bukan Segalanya : Pendidikan Kritis ala Toto-Chan (Aprinalistria). Pustaka Pelajar 7. dan berbagai kliping koran Nasional Adi Subiyanto-----Pemerhati Pendidikan Kerakyatan----CDMA : 031-71054887Email : adi.subiyanto@gmail.com & asubiyanto@yahoo.com
Link: http://ec.europa.eu/education/programmes/mundus/projects/index_en.html... Erasmus Mundus List of Masters Courses selected under Action 1
Interested students are invited to contact the coordinators of the courses concerned for further information on admission conditions, application forms and scholarships. Erasmus Mundus scholarships are available for all courses published on this site.
Itu Mimpimu…Ini Mimpiku! “….Sesungguhnya amal (action) itu tergantung pada niat (visi, misi, obsesi, impian) dan setiap orang hanya memperoleh apa yang ia niatkan. Barang siapa yang hijrahnya (bepergian, beraktivitas) karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa ayang hijrahnya karena dunia yang ditujunya atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu kepada apa yang dihijrahkannya.” ------(Hadist riwayat Bukhori dan Muslim)------- Saat minggu pertama kuliah di Ma’had Umar saya bertemu dengan seorang senior yang berparas lembut dan pendiam. Berdialog dengan beliau suatu kesempatan yang menarik bagi saya. Setelah ditraktir makan siang, beliau bercerita tentang pengalaman dan ‘dendam’-nya pada dunia sekolah. ‘Saat itu saya kelas dua SMA mau naik kelas tiga dan tentunya telah tiba waktu untuk memutuskan mau mengambil jurusan apa. Berdasarkan pengalaman dan ketertarikan saya dalam dunia sosial dan pendidikan, saya memutuskan untuk mengambil IPS. Mantap pokoknya. Ketika ia sampaikan pada pihak wali kelas, ternyata semua keputusan siapa saja yang akan masuk jurusan IPA dan IPS sudah ditentukan oleh rapat pihak guru, tanpa konfirmasi dari siswa itu sendiri. Ada keputusan sepihak disana. Saya yang sangat berminat masuk IPS, ternyata dalam keputusan dan pertimbangan (atau lebih tepat ke-soktahu-an) guru..dinyatakan masuk IPA. Kenapa para guru tak pernah bertanya kepada saya, saya mau masuk apa. Akhirnya saya menyampaikan kepada pihak wali kelas tentang hal tersebut, dan beliau sepakat. Guru-guru rapat dan ada seorang guru angkuh yang tak setuju kalau saya diberikan kebebasan memilih masuk IPS. “Khan, IPS itu bagi anak-anak yang prestasinya rendah!” tegasnya. “Sudah, jangan dibiarkan anak itu untuk semaunya sendiri. Entar melunjak!” imbuhnya. Esoknya saat si guru tersebut mengajar, saya dipanggil ke depan dan dimarah-marahi tanpa ampun. Ya..sekaligus dipermalukan di depan kelas. “Lihat si Hayyin, sudah sekolah nggak mbayar (karena beasiswa)….masih saja berlaku semaunya sendiri. Semuanya perhatikan….jangan ada yang mencontoh murid tak tahu diuntung!” kasar sekali si guru ini berbicara. Saya hanya diam saja. Kok ada guru seperti ini. “Sudah kamu kembali ke kelas IPA, dan jangan membantah…atau tidak usah masuk sekolah sekalian!” ancamnya. Saat jam pelajaran selesai, guru tersebut saya ajak bicara…mengapa ia melakukan hal seperti itu. Bagaimana mungkin seorang guru bisa menjatuhkan harga diri seorang murid didepan kelasnya sendiri? Hal ini sungguh tak bisa dimasukkan akal sehat. Guru ini benar-benar tak sehat akalnya. Terlalu dipenuhi emosi yang berasal dari sempitnya wawasan. Saya akhirnya menjalani kelas tiga tersebut dengan malas dan tak bergairah. Nilai-nilai pun turun drastis. Alhamdulillah lulus SMA…” Apakah Anda juga pernah melihat, mendengar atau bahkan mengalami hal yang sama. Kasus-kasus serupa sudah seringkali saya dengar. Cerita tersebut masih panjang dan menurut saya cuplikan diatas tersebut yang paling menarik. Seringkali orang-orang ‘yang merasa tua, berpengalaman dan pintar’ disekitar kita seolah lebih tahu apa yang seharusnya kita lakukan dan apa yang terbaik bagi kita, tanpa memperhatikan kecenderungan potensial—bakat dan minat kita. Mereka seolah menutup mata dengan hobi maupun kegairahan kita disuatu bidang tertentu, karena mereka anggap tak ‘prospektif’ dalam menghasilkan uang di kedepan hari. Guru-guru akan bersorak gembira dan mendukung dengan penuh suka cita jika si murid memiliki obsesi yang ‘tampak menghasilkan’. Dokter, Notaris, Pengacara, Psikolog, Programmer dan lain sebagainya. Seolah dunia masih kekurangan dengan manusia-manusia berprofesi seperti itu. Tapi tak semua direspon dengan positif, banyak juga ‘orang-tua’ di sekitar kita lebih merasa tahu apa yang terbaik bagi kita dengan memaksakan impian mereka terhadap diri kita. Sebut saja Nanda, saya berkenalan dengannya disebuah warung kopi disebuah perumahan dekat rumah. Lama mengobrol dengannya terkuak beberapa fakta tentang lemahnya pelajar dan mahasiswa Indonesia tentang masalah visi dan manajemen kehidupan. Seperti dalam dialog-dialog hampir dengan semua remaja, saya selalu bertanya tentang beberapa hal pondasi. ‘Kenapa kamu kuliah di Hukum?’ ‘Wah…kelihatannya prospek kedepannya bagus, Mas. Ya..cari kerjanya mudah-lah.’ ‘O..gitu ya. Trus, memang kamu memang sangat menginginkannya? Apa yang sebenarnya kamu inginkan?’ “Kalau aku sebenarnya ingin sekali masuk Otomotif, Mas. Cuma Papa tidak memperbolehkan. Papa mengatakan,”Mau jadi apa kamu, masuk Otomotif? Mau jadi kuli mesin yang belepotan oli. Kotor dan nggak jelas penghasilannya berapa. Sudah kamu masuk Hukum aja, seperti Papa. Biar nanti bisa jadi Notaris juga. Kalau kamu memaksa mau masuk otomotif, Papa nggak akan membiayai. Terserah kamu, pilih mana?’ Papa mengancam.” Ya..akhirnya aku menurut aja deh. Daripada nanti kalau gagal malah disalahkan dan nggak dibantu membayar kuliahku, khan repot. Jadi, kamu kuliah karena maunya orang tuamu. Ya…begitulah. Ya…daripada durhaka. Hitung-hitung berbakti, ya..khan! Nah, jelas sekali kondisi kepribadian mahasiswa ini. Silahkan dinilai, bagaimana tingkat kemandiriannya, kepercayaan dirinya, keberaniannya dalam bersikap dan mengambil keputusan buat masa depannya. Mahasiswa pelajar ‘dengan cita-cita pesanan’ seperti tak akan pernah sepenuh hati dalam menjalani apa yang ia kerjakan. Memang selalu ada perkecualian. Beberapa kawan bisa selesai menjalani ‘cita-cita pesanan’ ortu dan sampai doktor. Namun, sebenarnya hatinya tetap tidak disana. Para ‘orang tua’ (guru, ortu) sebenarnya bermaksud baik, ingin melihat anaknya sukses dan jelas dalam hidupnya. Sukses dan jelas dalam artian nantinya profesi yang akan digeluti tersebut dapat menghasilkan income (penghasilan materi) yang besar, yang diharapkan akan membuat hidup si anak akan bahagia dengan kecukupan tersebut. Anak-anak yang menjalani mimpinya orang lain tersebut tak akan mencapai yang dinamakan---menurut Anis Matta---- cita-cita tertinggi. Sehingga menimbulkan kegelisahan dan selanjutnya menimbulkan kemauan dan tekad. Ruh inilah yang tidak saya lihat pada kebanyakan mahasiswa dan pelajar Indonesia. Dalam Mencari Pahlawan Indonesia, Anis Matta menyatakan : "..mimpi mempunyai basis rasionalitas, struktur dan susunan yang solid,terbangun dari proses perenungan yang panjang dan mendalam,terbentuk melalui pengalaman-pengalaman hidup yang terhayati dalam jiwa dan terolah dalam pikiran.Karena faktor-faktor pembentuk mimpi ini begitu kuat mengakar dalam kepribadian kita,maka mmpi biasanya tervisualisasi secara sangat jelas,sejelas maket bangunan bagi seorang insinyur." Model pendidikan yang dilandasi dengan pola pikir materialistis akan menghasilkan intelektual-intelektual yang materialis pula. Akhirnya para pelajar hanya akan belajar dan melakukan semuanya itu (sekolah, kuliah, bimbel, nilai bagus dll) dalam bingkai untuk sekedar mencari uang. Selebihnya tidak. Doktrin untuk sukses (kaya dan mendapatkan pekerjaan enak) harus sekolah dan kuliah tinggi menjadi wejangan setiap hari yang dihembuskan ke setiap siswa di kelas-kelas. Naif mengejek dalam liriknya ‘Uang’ : Aku mau pulang Aku mau pulang dan membawa uang, segudang..segudang.. Uuuu…uang….uu..uang! Aku ingin lekas pulang Dan membawa banyak uang Anak dianggap sebagai aset oleh para orang tua dan guru. Sehingga anak yang sudah sekian lama dibiayai harus dapat ‘menghasilkan untung balik’ bagi ‘pemodal’ yang bernama orang tua. | Kisah nyata | | Saya jadi teringat sebuah kisah yang dipaparkan oleh Bu Lupi, teman saya dalam penelitian. Beliau bercerita tentang kebakaran yang dialami oleh tetangganya. Si anak tetangga yang masih SD, ditinggal sendirian oleh kedua ortunya untuk bekerja. Entah apa penyebab kebakaran tersebut, tiba-tiba saja rumah sudah terbakar dan si anak yang panik kebingungan untuk membuka pintu. Kunci satu set tersebut ternyata menyulitkannya untuk menemukan kunci yang benar. Mungkin posisi panik membuatnya jadi nggak konsentrasi dan tubuhnya pun terbakar sedikit demi sedikit. Bu Lupi yang melihat kepulan asap langsung meminta seorang Bapak mendobrak pintu rumah tersebut. Bapak tersebut berkata,”Nanti kalau pintunya rusak bagaimana?” Bu Lupi menjawab,”Lho, penting mana anak sama rumah. Kalau nanti anaknya mati sampeyan mau tanggung jawab? Pokoknya anaknya diselamatkan dulu.” bantah Bu Lupi. Anak yang sudah setengah terbakar, kulit-kulitnya banyak yang terkelupas—rambutnya bau sangit segera dilarikan ke UGD RS setempat. Orangtuanya ternyata masih dikantor. Setelah dihubungi si ortu malah nggak langsung menjenguk anaknya yang sudah ngamar di UGD, namun lebih memilih dan mengkhawatirkan rumahnya. Si Ibu yang baru tiba langsung menangis dan terpaku melihat rumahnya habis terbakar. “Waduh,….gimana rumahku? Nanti tidur dimana? Nggak ada duit untuk merenovasi.” Si Ibu tak segera bergerak menuju UGD. ‘Bu, sampeyan itu gimana, sih? Anaknya sampeyan itu lho di UGD terbakar? Wis, langsung aja kesana. Sudah saya urus sedikit.” kata Bu Lupi mengingatkan. | Kisah tersebut sempat membuat saya dan Bu Lupi tertawa. Kok ada ya orang tua yang lebih mementingkan rumahnya daripada anaknya. Lebih panik dan merasa rugi kalau rumahnya terbakar daripada anaknya yang terbakar. Rumah dipandang aset dan anak dipandang sebagai pengeluaran. Ironis sekali matematika seorang materialis. Orang tua dan guru akan merasa gagal jika si anak (murid) tak jadi orang yang sukses secara materiil. Anak akan dianggap menyusahkan dan tidak berguna apabila belum menghasilkan uang alias bekerja. Kalau sudah kerja pun, masih saja ada intervensi….harusnya gaji sekian-lah, jabatan ini-lah. Tak ada acungan jempul kalau semua aktivitas si murid dan anak belum menghasilkan rupiah. Sekalipun itu atas nama sosial, dakwah dan lain sebagainya akan ditanggapi dengan muka ‘sinis’ dan dianggap tak berguna. Dan kebanyakan orang-orang disekitar kita ya..bersikap kurang lebih seperti itu. Maka, tidak berlebihan apabila Tonny D. Widiastono memberikan komentar dengan frase Memasarkan Sekolah dan Menyekolahkan Pasar. Beliau melanjutkan tidaklah mengherankan bila banyak orang tua sekarang mulai membuat kalkulasi. Berapa uang yang harus dikeluarkan untuk menyekolahkan anaknya, dan berapa uang yang bisa diperoleh anaknya setelah bekerja nanti. Pandangan ini secara tidak langsung menempatkan anak bukan sebagai subyek didik, tetapi aset. Anak pun dilihat sebagai modal (human capital). Ayolah..apakah kita akan selamanya jadi robot yang harus dikendalikan remote kontrol oleh orang lain. Setiap manusia diciptakan oleh Yang Kuasa dengan potensi dan keunikan-keunikan tersendiri. Apakah dengan begitu saja kita akan mengabaikan amanah ‘langit dan bumi’.
Seorang teman ibu saya, Pak Dedy juga pernah mengingatkan hal terlucu dan terunik yang pernah saya dengar. Saya masih ingat betul beliau mengatakan, “Sampeyan itu khan Anak Gadang (anak yang paling diharapkan), kalau bisa kuliahnya diselesaikan dengan cepat. Terus, kerja….dan kalau bisa jadi PNS. Semua orang pasti menginginkan jadi PNS, ya tho? Gajinya tetap dan lumayan. Coba lihat yang wiraswasta..banyak yang gagal. Tul khan? Trus juga, jangan buru-buru menikah. Entar, kalau buru-buru nikah, lupa sama Bapak Ibu. Bapak ibu dienakkan dulu. Nanti kalau sudah mapan, sudah punya kerjaan yang enak…rumah lumayan bagus, silahkan mulai memikirkan untuk berkeluarga.” Dalam batin aku ingin tertawa terbahak-bahak, namun saya tahan. Pendapatnya ada beberapa yang bagus, namun bagi saya hal tersebut terlalu konvensional dan ‘permukaan’ sekali. Walaupun saat itu saya diam dan seolah mengiyakan apa yang disampaikan, pikiran saya yang kritis tak bisa disuruh mengangguk begitu saja. Memang definisi sukses menurut dia bagaimana? Apakah kalau sudah jadi PNS itu bisa dikatakan sukses? Apakah benar apabila kita sudah berkeluarga akan lupa dengan orang tua. Ingin saya katakan bahwa saya akan memiliki perusahaan makanan terbesar se-Indonesia 15 tahun lagi. Mungkin saja model orang seperti Pak Dedy akan mengatakan, “Untuk apa? Dan apa untungnya bagi kamu?” Namun itulah yang menurut saya sebut sebagai ‘panggilan jiwa’ yang akan membuat hidup saya lebih bermakna. Dan saya akan mendirikan sekolah-sekolah termurah (bahkan gratis) disetiap kecamatan di Indonesia. Dan saya akan menulis100 buku sebagai warisan seperti apa yang diikrarkan Andrias Harefa. Saya hanya ingin surga Allah. Untuk apa juga manusia hidup kalau tak ada manfaat bagi diri dan dunia pada umumnya? Apakah semua itu salah? Tak ada yang salah. Itu mimpimu dan inilah mimpiku. Perbedaan keyakinan yang berasal dari perbedaan ideologi, referensi, pengalaman hidup dan lingkungan membuat impian kami begitu berbeda. Yang satu berkutat pada materi, yang lain lebih pada kebermaknaan (spiritual). Dan kenapa dari sekian banyak manusia yang saya kenal, lebih banyak mereka memikirkan ‘perut sendiri’. Menjadi manusia-manusia kecil yang tak berharga dimata manusia maupun dimata Allah. Saya ingin menjadi manusia besar itu. Saya akan “…..mulai belajar meninggalkan diri,” kata Anis Matta mengenang pahlawan, “meninggalkan kekerdilannya, meninggalkan kelayakannya untuk hilang fana, menuju kebesaran, menuju keabadian, menuju dunia orang lain, menuju kenyataan bahw ia takkan mati selamanya. Kata-kata Pak Dedy,“Jangan begini ..begitu”, “Harus begini..” terdengar terlalu memaksa dan tak bijak. Seolah meremehkan bahwa kita tak tahu apa yang harus diimpikan. Tak tahu peran kepahlawanan yang akan diambil, sehingga kita harus menjalanan ‘impian pesanan’ yang terpaksa kita ambil…daripada tidak ada. Ayolah….jangan pernah biarkan impian—obsesi kepahlawanan yang sudah ada dalam dirimu direnggut oleh seorang manusia. Walaupun itu adalah orang terdekat kita. Saya yakin kita bisa melebihi aksi Muhammad Yunus, yang mendirikan Grameen Bank : Bank Para Pengemis dan Miskin. Juga Muhammad Fatih Murad ‘modern’ yang tidak saja mampu menaklukkan Konstantinopel, melainkan Eropa—China, Jepang dan Amerika. Dunia menunggumu untuk engkau taklukkan. Tidakkah engkau mendengar teriakan permintaan itu. Apapun mimpimu, keresahanmu, obesesi atau apapun istilah yang mendefinisikan tentang visi….periksalah; apakah cita-cita tersebut benar-benar bisa membuatmu lebih baik dan dunia lebih baik? Bisakah cita-cita tersebut membuat dunia dan Allah tersenyum puas dan ridho padamu? Saya percaya bahwa setiap manusia diciptakan Allah untuk ‘menduduki’ kursi kepahlawanan tertentu di dunia ini. Melakukan aksi-aksi revolusioner untuk membuat dunia lebih baik dunia akhirat. Namun, kebanyakan orang hanya tertarik untuk jadi orang biasa yang hidup dengan kenyamanan pribadi. Hanya orang-orang dengan jiwa-jiwa besar dan obsesi kepahlawanan yang akan merebut mahkota kemuliaan tersebut. Andakah itu? Latihan Praktis : Jawab dan lakukan beberapa pertanyaan dan statemen dibawah ini. Ambil kertas kosong dan tuliskan jawabannya di atasnya. Darimana saya berasal? Dan untuk apa saya hidup? Apakah agama dapat memberikan jawabannya? (Silahkan tanyakan pada Ustadz yang kompeten) Ingin dikenal sebagai siapa dan apa nanti setelah saya meninggal? Karya-karya apa yang membuat diri saya dan dunia lebih baik? Apa yang saya sangat sukai dan hal tersebut bermanfaat bagi diri saya, dunia dan agama? (Sebutkan satu saja apa yang Anda sangat sukai, dan saya akan tunjukkan dan dampingi bahwa Anda bisa menjadi terbaik di bidang Anda.) Kemudian yakini, terjun dan fokuslah kepada apa yang Anda impikan.
Adi Subiyanto Koordinator Sekolah Komunitas Super Murah Berkualitas Dunia ---Peradaban Mulia mulai dari Anak-anak Terpelajar— CDMA 031-71054887
“Kami hanya bicara tentang hasil. Di setiap pulau-perkota-perkecamatan seluruh Indonesia mulai 2008 ini akan didirikan sekolah alternatif berkualitas global dengan biaya supermurah berbasis komunitas. Bergabunglah bersama kami dalam pencarian pendidikan universal.”
|  | Pelatihan Researcher Assistant oleh Pusham UBaYA bekerja sama dengan Raul Wallenberg Institute (Swedia) Menarik sekali....belajar bersama kawan-kawan peneliti se-Jawa Timur...
Berlangsung selama 1 minggu (September) di Kampus III Ubaya, Trawas Mojokerto (kaki Gunung Welirang)
Penelitian tersebut akan kami lakukan sampai Desember 2007 ini. "Penelitian Hak Ekosob dalam rangka reduksi Kemiskinan di Jawa Timur"
berkutat pada bidang pendidikan dan kesehatan.. |
BUTUH CEPAT !!! : KURIKULUM YANG MENCERDASKAN BANGSA by : Adi Subiyanto “Memperbaiki diri sendiri, sehingga ia menjadi orang orang yang kuat fisiknya, kokoh akhlaknya, luas wawasannya, mampu mencari penghidupan, selamat akidahnya, benar ibadahnya, melakukan mujahadah terhadap dirinya sendiri, penuh perhatian akan waktunya, rapi urusannya, dan bermanfaat bagi orang lain. Itu semua adalah kewajiban bagi setiap al-akh.”
(Hasan Al-Banna dalam Maj’muatur Rasail—memberikan formulasi kepribadian cerdas yang dicari-cari dunia)
Ketertarikan dan keingintahuan yang sangat besar terhadap apa yang sekarang sedang dilakukan kawan-kawan pemerintah—terutama dalam hal pendidikan membuat saya harus melahap berbagai macam referensi yang berkaitan dan begadang sampai pagi.
Menarik untuk mendiskusikan pandangan berbagai macam pemikiran tentang pendidikan dari pemikir-pemikir Barat, Islam, Umum (kiri—lokal Indonesia). Di antara masalah yang menonjol adalah bahwa seluruh dunia sedang mencari-cari konsep & praksis pendidikan yang dapat mencerdaskan dan memajukan bangsanya. Ada hal menarik yang dapat kita kaji di Declaration of Independence-nya Amerika Serikat yang keberadaan negaranya berfungsi untuk menjamin hak-hak dasar manusia dan warga negara. Bunyinya seperti ini :
“We hold these truth to be self-evident, that all men all created equal, that they are endowed by their Creator with certain unalienable rights: that among these are Life, Liberty, and the Pursuit of Happines. That to secure these rights, government are instituted among men, deriving their just powers from the consent of the governed; that, whenever any form of government becomes destructive of these end, it is the right of the people to alter or abolish it, and to institute a new government”
Bandingkan dan sejajarkan deklarasi diatas dengan Pembukaan UUD ’45. Pemerintah kita secara konseptual struktural (aturan nasional) memiliki fungsi yang lebih efektif, bukan hanya menjamin terlindunginya hak-hak asasi manusia warga negara, tetapi melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, serta mencerdaskan kehidupan bangsa. Dari Pembukaan UU tersebut jelaslah bahwa ukuran utama bagi keberhasilan Pemerintah RI, telah dirumuskan oleh para pioner pendiri RI seharusnya adalah : (1) terlindunginya segenap bangsa Indonesia & tumpah darah Indonesia, di mana pun darah Indonesia tumaph termasuk darahnya para TKI, harus terlindungi, (2) majunya kesejahteraan umum dan kemakmuran rakyat, (3) cerdasnya kehidupan bangsa; dan (4) bermartabatnya kedudukan Indonesia dalam percaturan global dalam Polek-sains-iptek; dan bukan hanya terlaksana tidaknya demokrasi sebagai suatu sarana untuk mencapai tujuan.
Berangkat dari ukuran diatas kita dapat memahami kekecewaan Presiden Soekarno pada tahun 1957 dalam Pidato Tahun Ketentuan (dalam buku “Dari Proklamasi Sampai Resopim”) dalam hal industri, pertanian, dan kebudayaan. Dan ternyata setelah hampir 50 tahun setelah beliau kecewa, kita dapat melihat sendiri bahwa kondisi Indonesia masih tak banyak perubahan yang signifikan. Ada yang menarik disini, kondisi kehidupan bangsa secara ekonomi dan iptek masih tertinggal jauh dari perkembangan global (The Economist—Sumber IMF). Indonesia tak termasuk 10 besar ekonomi (Sept 2006). Disana tertera negara-negara supereconomic (AS, Jep, Jerman, China, UK, France, Italia, Canada, Spanyok, Brazil—urutan peringkat) dan ada ramalan bahwa pada tahun 2040 China akan memimpin membawahi AS dan yang lainnya. Dan salah satu faktor yang digunakan untuk meramalkan meningkatnya kedudukan China adalah perkembangan pendidikan tingginya yang pada tahun 2004 telah mampu menghasilkan pada tahun 1990-1991 baru 200.000 sarjan IPA & teknik, pada tahun 2004 menghasilkan lebih dari 500.000 sarjana IPA & teknik, mendahului semua negara-negara maju lain.
Kenyataan yang diungkap mengandung makna bahwa pendidikan, termasuk & terutama pendidikan tinggi merupakan faktor yang menentukan keberhasilan pembangunan suatu negara, terutama ekonomi. Ada beberapa hal yang akan diulas dalam tulisan ini: (1) makna amanat mencerdaskan kehidupan nasional Indonesia dan implikasinya thd penyelenggaraan sistem pendidikan (persekolahan) nasional?; (2) karakteristik sistem diknas yg relevan dg tuntutan mencerdaskan bangsa & memajukan kebudayaan nasional di era globalisasi; & (3) strategi penyelenggaraan diknas dalam kaitannya dg Visi Indonesia 2030
Makna Mencerdaskan Kehidupan Bangsa dan Implikasinya “Mencerdaskan kehidupan bangsa bermakna membangun Indonesia menjadi negara bangsa yang maju, modern, dan demokratis, makmur dan sejahtera, berdasarkan Pancasila……. berorientasi Iptek, rasional dan demokratis daari suatu masyarakat yg berbudaya feodal tradisional, & paternalistik diperlukan suatu proses transformasi budaya yang memerlukan sejumlah revolusi dalam satu generasi, yaitu revolusi dalam cara berpikir dan bersikap baik dlm bidang politik, ekonomi, industri, sos-bud, dan iptek.”
-----Prof. Dr. H. Soedijarto, M.A (Guru Besar Ilmu Pendidikan, UNJ, Ketum ISPI, Ketua DD Cinaps). Jerman, China, Jepang bisa maju karena meletakkan sistem persekolahan (sistem pengajaran) sebagai wahana untuk terjadinya proses transformasi budaya. Dan sebenarnya Indonesia lebih unggul dalam tataran ketentuan tentang pendidikan dalam UUD. Tak banyak negara yang melakukannya.
Pendidikan atau yang lebih luas pembangun SDM, merupakan unsur yg paling strategis bagi pembangunan negara bangsa, walaupun dlm praktik penyelenggaran negara di Indonesia , terutama pascalengsernya para pendiri Republik dari gelanggang penyelenggaraan negara tampak kurang dipahami, para pemikir ekonomi dan para pemikir negara lain di dunia masih yakin akan kebenaran keyakinan para pendiri Republik Indonesia. Apabila kita ingin melihat perkembangan Indonesia selama 61 tahun, dengarkan pernyataan keras dari Harbison & Myers dalam Manpower and Education bahwa “bila suatu negara tidak dapat mengembangkan SDM-nya, negara itu tidak akan dapat mengembangka apa pun, baik sistem politik yg modern, rasa kesatuan bangsa, maupun kemakmuran.” Oleh karena itu dana yang besar dalam proyek pembangunan SDM ini adalah suatu keniscayaan. Sekurangnya 20% APBN & APBD (lihat pasal 31 UUD ’45). Intinya Indonesia secara struktural formal (aturan), memiliki kelebihan dibanding negara lain dalam masalah pendidikan. Namun, ‘kocar-kacir’ terjadi ditataran proses dan implementasinya.
Karakteristik Sisdiknas yg Relevan dg Tuntutan Mencerdaskan Kehidupan Bangsa & Memajukan Kebudayaan Nasional
Mencari jawaban “bagaimana wujud sisdik (persekolahan) yg relevan dg tuntutan mencerdaskan kehidupan bangsa & memajukan kebudayaan nasional”, pada intinya sama saja dengan menjawab pertanyaan, “Pendidikan seperti apa yang dapat melahirkan manusia Indonesia yang mampu mendukung terwujudnya kehidupan bangsa yang cerdas yang maju kebudayaan nasionalnya.” Agar dapat menjawab pertanyaan tersebut, terlebih dahulu harus dapat digambarkan karakteristik manusia Indonesia yg mampu mendukung terwujudnya masyarakat Indonesia yang cerdas kehidupannya dan maju kebudayaan nasionalnya. Telah digambarkan dalam : (1) UU No 2 / 1989 (Tentang Sisdiknas—pasal 4) menggambarkan dalam rumusan : “manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berbudi luhur, memiliki pengetahuan & keterampilan, kesehatan jasmani & rohani, kepribadian yg mantap & mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan & kebangsaan” (2) UU No 20/2003 (tentang Sisdiknas)menggambarkannya dalam rumusan berikut : “manusia beriman & bertaqwa kpd Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, & menjadi warga Negara yg demokratis serta bertanggung jawab.”
Mari kita bersama-sama mempertanyakan apa karakteristik manusia manusia Indonesia yang dirumuskan dalam UU Sisdiknas relevan dg tuntutan pembangunan bangsa sebagai yg diamanatkan para pendiri Republik? Untuk itu, kita perlu mencoba memperoleh gambaran tentang wujud dari manusia yang cerdas kehidupannya.
Menoleh pada “Kurikulum yang dipandang sinis oleh Barat”
Melihat intensnya revisi yang dibuat untuk membuat standar nilai dan karakter ‘manusia cerdas’, menunjukkan tak adanya titik kepribadian yang pakem dalam hal ini dikarenakan tak ada rujukan yang pasti. Hasan Al-Banna sejak 1928-an telah merumuskan tahap-tahap menuju sebuah peradaban. Dan langkah-langkah peradaban tersebut adalah
(1) Pembentukan Individu Muslim, (2) Pembentukan Keluarga Muslim, (3) Pembentukan Masyarakat Muslim, (4) Pembentukan Pemerintahan Muslim, (5) Pembentukan Umat Muslim dengan menggabungkan bebagai bagian negara Islam yang telah dicerai-beraikan oleh sistem politik, (6) Mengembalikan neger-negeri Islam yang telah dirampas musuh, seperti Andalusia, Sicilia, Balkan, dan lain sebagainya. (7) Menyampaikan dakwah ke seluruh alam Kali ini saya tidak akan membahas kesemua fase perjuangan tersebut. Yang ingin saya angkat adalah langkah pertama pembentukan peradaban ; Pembentukan Individu Muslim. Apakah Anda penasaran dengan seperti apakah wujud pribadi tersebut. Hal tersebut akan menjawab polemik diatas.
“Memperbaiki diri sendiri, sehingga ia menjadi orang orang yang kuat fisiknya, kokoh akhlaknya, luas wawasannya, mampu mencari penghidupan, selamat akidahnya, benar ibadahnya, melakukan mujahadah terhadap dirinya sendiri, penuh perhatian akan waktunya, rapi urusannya, dan bermanfaat bagi orang lain. Itu semua adalah kewajiban bagi setiap al-akh.”
Dalam risalah tersebut tak terlalu dibahas hal detailnya, hanya pada rumusan globalnya. Baru-baru ini sebuah organisasi gerakan ‘pencerdasan’ Partai Keadilan Sejahtera juga telah mengadopsi rumusan diatas menjadi ‘patokan’ kepribadian setiap kadernya. Karakteristik ini disebut sebagai muwashofat tarbawiyah. Secara umum proses tarbiyah (pembinaan, pendidikan) berpaya membentuk kepribadian seperti yang disampaikan Hasan Al-Banna awal abad 19-an. Departemen Kaderisasi PK Sejahtera, sebagai elemen pengkaderan, telah merumusakan tujuh karakter khusus sebagai Profil Kader PK Sejahtera 2009. Ketujuh karakter tersebut itu adalah:
(1) Kokoh dan Mandiri, (2) Dinamis, Kreatif dan Inovatif, (3) Spesialis berwawasan global, (4) Murobbi produktif, (5) Mahir ber’amal jamai (6) Pelopor pengubahan (7) Kepemimpinan masyarakat
Tujuh karakter khusus tersebut merefleksikan, 3 pertama sebagai kapasitas internal seorang kader yang memahami dinamika global kehidupan saat ini, tetapi memiliki kemampuan spesialis yang profesional. Aktivitas kerja dan dakwahnya senantiasa ditandai oleh kekokohan dan kemandirian diri, gerak yang dinamis serta ide-ide yang kreatif dan inovatisf. Kapasitas internal ini diperkuat dengan dua karakter berikutnya yang merefleksikan kapasitas sosial-nya. Yaitu orang yang mampu mendidik masyarakat dan menjadikannya kader dakwah, dengan pola kerja ‘amal jama’I sesuai prinsip-prinsip dakwah Islam. Ia dikenal dengan di masyarakat sebagai orang shalih yang mampu menyebarkan dan menularkan keshalihannya.
Dan akhirnya, 2 kapasitas tersebut disempurnakan dengan dua karakter berikut, pelorpor pengubahan dan kepemimpinan masyarakatnya. Ini adalah kapasitas politik yang dituntut dari setiap kader. Artinya kebaikan diri dan sosialnya dijadikan modal untk menjadi aktor politik yang salih dinegerinyal. Ia senantiasa memelopori pengubahan dengan bergam program, dengan menghimpun segala potensi masyrakat dan dakwah yang ada di sekitarnya, mengarahkannya sesuai prinsip dan sasaran dakwah, lalu menggerakkan potensi itu menjadi energi pengubahan yang positif.
Dalam Buku “Profil Kader Partai Keadilan 2009” kesepuluh aspek kualitas manusia tersebut dicapai dengan pembinaan (ansyitah tarbawiyah) di berbagai sarana yang digariskan oleh manhaj tarbiyah. Halaqoh (pertemuan rutin pekanan) sebagai sarana pembentukan akidah, fikrah, ‘ibadah, akhlak dan penguasaan ‘amal jama’i. Mabit sebagai sarana tarbiyah ruhiyah, riyadhah jama’I sebagai sarana tarbiyah jasadiyah, rihlah sebagai sarana tarbiyah ukhrawiyah, daurah dan sejenisnya sebagai sarana tarbiyah fikriyah. Selain itu, pembentukan kualitas manusia juga dilakukan melalui tarhib wa taujih al ‘amal atau pelatihan dan pengarahan kerja diberbagai bidang. Seorang Murabbi (guru, ustadz, mentor) berkeharusan untuk melatih dan mengarahkan para mutarabbi-nya (murid, mentee) untuk terlibat dalam kerja dakwah, kerja akademik, kerja profesi, kerja ekonomi, kerja politik, kerja media dan informasi, kerja kemasyarakatan, dan lain sebagainya. Sehingga setiap manusia (yang dikader) bukan saja berkualitas secara normatif-teoritis tetapi juga berkualitas secara praktis-aplikatif.
Ikhwanul Muslimin dan Partai Keadilan Sejahtera di Indonesia tampaknya telah mendahului merumuskan dan menjalankan sistem pendidikan yang lebih baik daripada konsepsi UNESCO yang merancang pembelajaran yang dapat moulding the mind and character young generation. Rumusan dari Komisi Internasional Unesco yag memasuki abad ke-21 merekomendasikan empat pilar belajar yaitu : (1) Learning to know, (2) Learning to do, (3) Learning to live together (4) Learning to be. Yang kalau kita teliti lagi rumusan ini memiliki banyak sekali kelemahan. Uniknya, rumusan ‘retak’ tersebut banyak di adopsi para profesor di dunia, termasuk Indonesia dalam rangka mencari pola pendidikan yang lebih baik. Pilar-pilar belajar yang direkomendasikan oleh Ikhwanul Muslimin dalam Risalah Ta’lim (Hasan Al-Banna) secara ilmiah jauh lebih baik dari konsep pembelajaran manapun. Ada sepuluh pilar-pilar belajar tersebut, yaitu: Pemahaman, Al-Ikhlas, Al-Jihad, Pengorbanan, Ketaatan, Keteguhan, Totalitas, Persaudaraan, Kepercayaan. Silahkan me-link and match-kan masuk mana saja keempat pilar belajar buatan Unesco terbut dalam sepuluh pilar belajar tersebut.
Beberapa prototype juga sudah dibuat oleh beberapa kawan. Misalnya SMP Alternatiaf Qaryah Thayyibah di Salatiga oleh Mas Bachruddin, SOKOLA (sekolah) Rimba oleh Butet Manurung di Pulau Irian, SD Mangun dan masih banyak lagi...yang ternyata konsep-praksisnya sangat sesuai dengan kondisi bangsa Indonesia yang notabene secara finansial lemah.
Kalau ada pertanyaan—mengapa setelah 57 tahun Pemerintah RI dapat sepenuhnya menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional untuk seluruh wilayah Indonesia (terhitung sejak pengakuan kedaulatan) kita belum mampu mewujudkan manusia Indonesia seperti yang diharapkan? Dalam pandangan Prof. Dr. H. Soedijarto, M.A telah menulis “Pendidikan Nasional Dalam Sistem Pendidikan Nasional untuk Mencerdaskan Kehidupan Bangsa dan Memajukan Kehidupan Nasional”, karena penyelenggaraan pendidikan nasional baik dari segi manajemen, pembiayaan, proses pembelajaran, sistem evaluasi, sistem seleksi, sistem promosi, maupun dari materi pendidikan yang merupakan ciri esensial dari suatu sistem pendidikan yang relevan dengan amant UUD 1945 belum terwujud. Kalau memang begitu mengapa tidak mencoba pola pendidikan yang telah diterapkan Ikhwanul Muslimin dan Partai Keadilan Sejahtera selama berpuluh-puluh tahun? Tentang hal ini Winarno Surakhmad (pengamat pendidikan) berkomentar, “Dengan mengambil dari sejarah tersebut, maka sesungguhnya sudah sangat penting bahwa pemerintah dengan berbagai komponen masyarakat peduli pendidikan bersama-sama merencanakan desain peta perencanaan pendidikan di dalam dimensi ruang dan waktu yang bermakna. Tanpa konsensus semacam itu akan senantiasa timbul permasalahan yang sukar dipahami dan yang tidak memberikan manfaat kepada siapapun kecuali dalam jangka pendek dan untuk kepentingan tertentu.”
Saturday, October 13, 2007
Adi Subiyanto Penggagas Sekolah Murah Berkualitas Dunia ---Peradaban Mulia mulai dari Anak-anak Terpelajar— CDMA 031-71054887
“Kami hanya bicara tentang hasil. Di setiap pulau-perkota-perkecamatan seluruh Indonesia mulai 2008 ini akan didirikan sekolah alternatif berkualitas global dengan biaya supermurah berbasis komunitas. Bergabunglah bersama kami dalam pencarian pendidikan universal.”
CERDAS CERMAT : Pembentuk Manusia EnsiklopediAhad, 9 September 2007. Saya sempat mengikuti cerdas cermat yang dikemas cantik oleh ANTV kerja sama dengan sebuah perusahaan susu ternama di Indonesia. Terlihat seru sekali. Penonton di studio dan dirumah pun selah sok pintar karena tahu jawabnnya--saat MC memberikan sebuah pertanyaan tertentu dan tim yang ditanya tak mampu menjawab. Beberapa tim dari perwakilan beberapa semi finalis se-Indonesia. Helmy Yahya, sang raja kuis dengan tampilan yang modis dan performance pembawaan acara yang khas, terlihat sibuk memberikan pertanyaan kepada para tim peserta. Jika dilihat sekilas, acara-acara dan kompetisi seperti ini tampak sangat bermanfaat. (Dan memang bermanfaat) Tatkala kita bertanya tentang alasan digelarnya acara kompetisi "Bintang Pintar" tersebut, Sang Konseptor (Helmy Yahya) akan menjawab," Ini sebagai ajang adu wawasan anak bangsa!" dan "Ini sebagai sarana silaturahim antar pelajar se-Indonesia". Ada juga "sebagai ajang mencari bakat dari pelajar-pelajar potensial". Dari semua alasan-alasan yang dikemukakan (sampai saat ini). Saya masih belum menemukan alasan konkret yang dapat membuat adik-adik pelajar sadar akan posisi strategisnya. Sadar akan kondisi bangsanya yang semakin terpuruk. Sadar akan permasalahan-permasalahan yang menimpa Ibu pertiwi yang telah melahirkan manusia-manusia seperti mereka. Sehingga nantinya nantinya diharapkan setelah ada kesadaran tanggung jawab karena informasi yang memadai, para pelajar-pelajar tersebut secara kritis dan analitis saling memberikan kontribusi terbaiknya agar Indonesia semakin hari semakin lebih baik, dan menjadi "super multipower state". Banyak sekali analisa yang muncul, namun ada beberapa hal yang dapat saya sebutkan disini. Adapun kelemahan program Cerdas Cermat "Bintang Pintar" tersebut adalah :
1. Pelajar tak diajari menjadi pribadi yang kritis dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengembangkan nalar. Pelajar tak ubahnya seperti dididik menjadi ensiklopedia berjalan. Pertanyaan tersebut hanya akan menguji wawasan daya ingatnya saja. Apa bedanya dengan ensiklopedia setebal 1000 halaman di toko buku? Masih ingatkah Anda dengan perkataan Henry Ford, ketika diajak seorang teman melihat kejuaran Olimpiade sejenis cerdas cermat di Amerika kala itu. Saat orang lain terkagum-kagum dan ingin anak-anaknya seperti para peserta Olimpiade tersebut, Henry Ford hanya berkomentar sinis saat ditanya oleh sahabatnya, "Berapa Anda akan menggaji Tim Juara Olimpiade tersebut apabila bekerja di tempat Anda?" Dia menjawab enteng, "Aku akan menggaji bocah itu tak lebih dari 20 dollar!"
sahabatnya tersebut langsung kaget dan bingung "Aku tidak membutuhkan ensiklopedi berjalan seperti itu, kalau perlu aku hanya perlu membeli ensiklopedi terbaru berharga kurang dari 20 dollar di toko buku setempat. Yang kubutuhkan saat ini adalah kumpulan konseptor-konseptor handal yang memiliki ide-ide kreatif revolusioner dan aneh, pemikir-pemikir kreatif solutif yang mampu memecahkan problema di perusahaan dan negara ini." "Bocah ensiklopedi seperti tersebut tak akan pernah mampu menjawab tantangan zamannya."2. Acara ini sarat dengan kepentingan politis komoditi atau perdagangan. Iklan menjadi hal utama dibalik semua ini. Pelajar hanya dijadikan 'alat sekunder' agar promosi berjalan dari produk susu tersebut. Misi utamanya adalah iklan dan propaganda produk. Dan "Bintang Pintar" tersebut adalah mainan yang berfungsi sebagai penunjang. Sebenarnya yang salah bukan Cerdas Cermatnya. Yang kurang berbobot dan mengena adalah model acaranya. Yang didominasi oleh pertanyaan-pertanyaan hafalan yang kurang mutu dan tidak berdampak langsung bagi kemajuan bangsa. Saya lebih mengusulkan kompetisi-kompetisi debat terbuka dengan tema-tema sosial masyarakat sekarang, yang berkaitan dengan kondisi bangsa kita yang anjlok. Menurut Anda, bagaimana? ttd Bapu Adi (di Rumca Az-Zahra Baziskaf Telkom Divre V SBY)
Guru Inspiratif
Dalam hidup ini kita mengenal dua jenis guru, guru kurikulum dan guru inspiratif. Yang pertama amat patuh kepada kurikulum dan merasa berdosa bila tidak bisa mentransfer semua isi buku yang ditugaskan. Ia mengajarkan sesuatu yang standar (habitual thinking). Guru kurikulum mewakili 99 persen guru yang saya temui. Jumlah guru inspiratif amat terbatas, kurang dari 1 persen. Ia bukan guru yang mengejar kurikulum, tetapi mengajak murid-muridnya berpikir kreatif (maximum thinking). Ia mengajak murid-muridnya melihat sesuatu dari luar (thinking out of box), mengubahnya di dalam, lalu membawa kembali keluar, ke masyarakat luas. Jika guru kurikulum melahirkan manajer-manajer andal, guru inspiratif melahirkan pemimpin-pembaru yang berani menghancurkan aneka kebiasaan lama. Dunia memerlukan keduanya, seperti kita memadukan validitas internal (dijaga oleh guru kurikulum) dengan validitas eksternal (yang dikuasai guru inspiratif) dalam penjelajahan ilmu pengetahuan. Sayang, sistem sekolah kita hanya memberi tempat bagi guru kurikulum. Keberadaan guru inspiratif akan amat menentukan berapa lama suatu bangsa mampu keluar dari krisis. Semakin dibatasi, akan semakin lama dan semakin sulit suatu bangsa keluar dari kegelapan. "Freedom Writers"Karya-karya pembaruan, baik temuan spektakuler keilmuan, produk komersial, maupun gerakan sosial, akan tampak di masyarakat. Namun tak dapat dimungkiri, semua itu berawal dari sekolah. Dari tangan dan pikiran guru-guru inspiratif yang gelisah dan melihat perlunya kreativitas. Ia memperbaiki hal-hal yang dipercaya banyak orang tidak bisa diperbaiki dan menghubungkan hal-hal yang tidak terhubung (connecting the unconnected). Kisah dan karya guru inspiratif antara lain dapat dilihat pada Erin Gruwell, perempuan guru yang ditempatkan di sebuah kelas "bodoh", yang murid-muridnya sering terlibat kekerasan antargeng. Berbeda dengan kelas sebelah yang merupakan kumpulan honors students, yang memiliki DNA pintar dan disiplin. Di honors class yang dibutuhkan adalah guru kurikulum. Erin Gruwell memulai dengan segala kesulitan. Selain katanya "bodoh" dan tidak disiplin, mereka banyak melawan, saling melecehkan, temperamental, dan selalu rusuh. Di pinggang anak-anak SMA ini hanya ada pistol atau kokain. Di luar sekolah mereka saling mengancam dan membunuh. Itu adalah kelas buangan. Bagi para guru kurikulum, anak-anak supernakal tak boleh disekolahkan bersama distinguished scholars. Tetapi Erin Gruwell tak putus asa, ia membuat "kurikulum" sendiri yang bukan berisi aneka ajaran pengetahuan biasa (hard skill), tetapi pengetahuan hidup. Ia mulai dengan sebuah permainan (line games) dengan menarik sebuah garis merah di lantai, membagi mereka dalam dua kelompok kiri dan kanan. Kalau menjawab "ya" mereka harus mendekati garis. Dimulai dengan beberapa pertanyaan ringan, dari album musik kesayangan, sampai keanggotaan geng, kepemilikan narkoba, dan pernah dipenjara atau ada teman yang mati akibat kekerasan antargeng. Line games menyatukan anak-anak nakal yang tiba-tiba melihat bahwa mereka senasib. Sama-sama waswas, hidup penuh ancaman, curiga kepada kelompok lain dan tak punya masa depan. Mereka mulai bisa lebih relaks terhadap guru dan teman- temannya serta sepakat saling memperbarui hubungan. Setelah berdamai, guru inspiratif membagikan buku, mulai dari biografi Anne Frank yang menjadi korban kejahatan Nazi sampai buku harian. Anak-anak diminta menulis kisah hidupnya, apa saja. Mereka menulis bebas. Tulisan mereka disatukan, dan diberi judul Freedom Writers. Murid-murid berubah, hidup mereka menjadi lebih baik dan banyak yang menjadi pelaku perubahan di masyarakat. Kisah guru inspiratif dan perubahan yang dialami anak-anak ini didokumentasikan dalam film Freedom Writers yang dibintangi Hilary Swank. Keluar dari belengguApa yang dilakukan Erin Gruwell sebenarnya tidak hanya terbatas pada dunia pendidikan dasar, tetapi juga pada pendidikan tinggi. Namun, entah mengapa belakangan ini dunia pendidikan kita kian mengisolasi diri dari dunia luar dan hanya ingin menghasilkan lulusan yang terbelenggu kurikulum. Yang disebut dosen teladan adalah dosen yang patuh mengikuti kurikulum, menulis karya ilmiah di jurnal-jurnal tertentu yang sudah ditentukan, meski pembacanya belum tentu memadai, dan rajin mengisi daftar absensi. Dengarlah protes Kazuo Murakami PhD, pemenang penghargaan Max Planck (1990) yang menulis buku Tuhan dalam Gen Kita: The Devine Message of The DNA (2007). Ia terpaksa hijrah ke AS saat menyaksikan dominasi guru- guru kurikulum di Jepang membangun benteng hierarki. Universitas, katanya, telah menjadi menara gading yang tak peduli dengan apa yang terjadi di luar. Meski belum menonjol di masyarakat, peran guru-guru inspiratif ini amat dibutuhkan. Terlebih anggaran pendidikan kita masih terbatas dan lulusannya banyak yang tidak bisa bekerja sesuai dengan bidang studi yang ditempuhnya. Kita tidak bisa mendiamkan lahirnya generasi yang patuh kurikulum, pintar secara akademis, tahu kebenaran internal, tetapi kurang kreatif mendulang kesempatan dan buta kebenaran eksternal. Ada dua masalah yang harus direnungkan. Pertama, dosen kurikulum hanya membentuk kompetensi (student’s ability), hanya membentuk beberapa orang, untuk kepentingan orang itu sendiri. Guru inspiratif membentuk bukan hanya satu atau sekelompok orang, tetapi ribuan orang. Satu orang yang terinspirasi menginspirasi lainnya sehingga sering terucap kalimat "Aku ingin jadi seperti dia" atau "Aku bisa lebih hebat lagi". Kedua, ketidakmampuan para pendidik merespons aneka tekanan eksternal dapat membuat mereka membentengi diri secara berlebihan dengan mengunci kurikulum secara sakral. Tiap upaya yang dilakukan para guru kreatif untuk meremajakannya dianggap ancaman, bahkan sebagai perbuatan tidak bermoral Masih teringat jelas, kejadian yang menimpa seorang guru inspiratif yang saya kenal. Pada tahun 2005 ia menerima penghargaan dari Yayasan Pengembangan Kreativitas atas karya-karyanya di bidang pendidikan. Saat itu, penghargaan serupa dalam setiap bidang juga diberikan kepada Helmi Yahya, Jaya Suprana, Bang Yos, dan Guruh Soekarno Putra. Akan tetapi, tak banyak yang tahu hari-hari itu ia baru saja menerima ancaman pemecatan karena dianggap melanggar "kurikulum". Kesalahannya adalah telah memperbarui metode pengajaran agar murid-murid menjadi lebih artikulatif. Murid senang, tidak berarti guru-guru lain senang. Mereka merasa terganggu oleh penyajian di luar kurikulum dan mereka menuntut agar guru ini ditarik. Semester berikutnya nama dia dicoret dari daftar pengajar. Karier guru besarnya pun dipersulit oleh guru-guru kurikulum yang menggunakan kaca pembesar menguji kebenaran internal. Kata Jagdish N Sheth, begitu orang- orang lama menyangkal realitas baru, mereka dapat menjadi arogan, terperangkap dengan kompetensi masa lalu, ingin hidupnya nyaman, dan membangun batas-batas kekuasaan teritorial. Perilaku internal itu adalah belenggu inertia, yang disebutnya destructive habits. Mereka menggunakan mikroskop untuk memperbesar hal-hal kecil yang tidak dimiliki. Sudah saatnya benteng inertia seperti ini dihapus dengan "memanusiawikan" kurikulum dan memberi ruang lebih memadai bagi guru-guru kreatif.
Peluang dimasukkannya materi lingkungan hidup sebagai pelajaran muatan lokal sangat dimungkinkan dengan diberlakukannya kurikulum tingkat satuan pendidikan atau KTSP. Kurikulum baru ini mengatur, setiap satuan tingkat pendidikan atau sekolah diberi kebebasan menambah empat jam pelajaran tambahan per minggu.
Materi lingkungan hidup sebaiknya masuk di sini. Permendiknas (Permendiknas Nomor 22 tentang Standar Isi Satuan Pendidikan) memperbolehkan, setiap satuan tingkat pendidikan menambah jam pelajaran maksimal empat jam per minggunya. Jam pelajaran ini bisa diisi pelajaran apa saja, baik yang wajib atau sifatnya hanya muatan lokal, ujar anggota Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) Furqon, Jumat (13/10).
Menurut Furqon, jam pelajaran tambahan ini berlaku baik untuk satuan tingkat pendidikan dasar maupun menengah. Sesuai prinsip fleksibilitas KTSP, tiap-tiap sekolah diberi keleluasaan untuk mengembangkan kurikulumnya sendiri. Termasuk, dalam hal pemilahan kurikulum wajib maupun lokal.
Meski demikian, pemberlakuannya tetap harus diimbangi dengan potensi sekolah masing-masing serta pemenuhan standar minimum isi seperti yang telah digariskan BSNP. Jadi, bisa saja empat jam waktu tambahan ini diisi mulok LH sekaligus. Namun, tentunya kan tidak ujug-ujug demikian. Melainkan, harus diimbangi dengan potensi dan kebutuhan masing-masing sekolah; ucap ahli pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) ini.
Jadi, tambah Furqon, sekolah tidak perlu lagi kebingungan mencari celah untuk memasukkan mulok LH ini ke dalam kurikulum masing-masing. Termasuk, mengenai opsi penggunaan jatah jam pelajaran pengembangan diri yang marak diwacanakan sebelumnya.
Penggunaan opsi yang disebut terakhir ini dikhawatirkan justru berpotensi bermasalah. Sebabnya, alokasi jam pengembangan diri ini khusus dipergunakan hal-hal yang sifatnya konsuler, yaitu tentang penelusuran minat, bakat maupun perencanaan pengembangan studi siswa.
Budaya sekolah
Secara terpisah, Ketua Musyarawarah Kerja Kepala Sekolah SMP Negeri se-Kota Bandung, Nandi Supriyadi, menyambut gembira rencana diberlakukannya mulok LH di Kota Bandung. Keberadaan mulok LH diyakini bakal lebih komprehensif meningkatkan pengetahuan maupun pengalaman siswa tentang permasalahan lingkungan hidup.
Kebijakan ini merupakan hal yang paling kami tunggu-tunggu. Saya yakin, setidaknya dengan mewujudkan lingkungan hidup yang sehat di sekitar sekolah, secara tidak langsung ini bakal mendorong prestasi akademik siswa. Anak jadi dibiasakan betah di sekolah, ujar Kepala SMAN 7 Kota Bandung yang pernah mendapatkan penghargaan penerapan manajemen sekolah berwawasan lingkungan ini.
Meski demikian, ia mengingatkan, efektivitas pendidikan lingkungan hidup nantinya tidaklah terlepas dari upaya mewujudkan budaya sekolah yang berperspektif lingkungan. Untuk mewujudkannya, diperlukan komitmen dan kesadaran seluruh stakeholder sekolah maupun orangtua siswa.
Komitmen ini sangat penting. Misalnya, mengenai penyediaan sarana mulai dari tong sampah. Berbicara tentang pemilahan sampah, tentunya tidak lucu jika sekolah sendiri tidak menyediakan tong sampah yang mendukung. Serta, banyak contoh lainnya. Pokoknya, pola pembiasaan cinta lingkungan ini harus mulai digalakkan sejak tingkat sekolah, ucapnya kemudian.
Pendidikan telah melenceng dari makna hakiki. Dari sesuatu yang menyenangkan menjadi beban yang memuakkan. Celakanya masyarakat sudah terkontaminasi sedemikian dalam --bahkan rela saja diperas habis-habisan oleh para pebisnis pendidikan-- sehingga menuhankan sekolah sebagai satu-satunya syarat mutlak bagi kesuksesan, padahal banyak sekali contoh yang membuktikan bahwa gelar akademik tidak terlalu penting untuk mencapai kesuksesan. Kalau misalnya cuma diukur dari kekayaan, 10 orang terkaya di dunia itu drop-out perguruan tinggi, tidak terkecuali Bill Gates, bosnya Microsoft. Tim penulis buku Sukses Setelah PHK menuturkan kisah menarik tentang Paijo. Berbekal ijazah SD ia jadi satpam sebuah perusahaan. Sayang ketika perusahaan berkembang, syarat jabatan satpam meningkat, minimum lulus SLTP. Paijo ikut ujian persamaan dan tidak lulus. Ia di PHK. Setelah sempat terpukul, Paijo memilih dagang. Usahanya berkembang. Paijo jadi konglomerat mini. Wartawan pun mulai nyinyir menanyakan kiat suksesnya. "Di mana Bapak menimba ilmu?" "Tidak di mana-mana. Saya cuma tamat SD. Prinsip saya hanya berdagang, cari untung. Bukan cari ilmu. Bukan pula cari pengalaman." "Tamat SD saja bisa sukses mempunyai banyak perusahaan. Bagaimana kalau tamat SMP?" "Kalau tamat SMP, sekarang saya pensiunan satpam!" Terlihat di sini sekolah --termasuk universitas-- bukanlah faktor penentu keberhasilan hidup satu-satunya. Apalagi bila sekolah itu diselenggarakan secara militeristik, sarat baris-berbaris, upacara, amanat inspektur upacara, laporan komandan upacara, penataran, dan seterusnya. Yang terjadi --seperti sering disentil Romo Mangun-- bukanlah proses pendidikan ataupun pengajaran, tapi indoktrinasi dan pembodohan sistematis. Imajinasi, kreativitas, keberanian menyatakan perbedaan pendapat dipasung selama lebih dari tiga dekade. Kasus Angket Seks Remaja yang "mengkafirkan" Eko Sulistyo, siswa sebuah SMA di Yogyakarta, di tahun 80-an, menjadi bukti sejarah bagaimana anak-anak berbakat dan kreatif justru tidak mendapatkan tempat yang seharusnya di sekolah-sekolah kita. Untung masih ada Prof. Dr. Andi Hakim Nasution, yang memutuskan untuk menerima Eko tanpa tes di IPB. Sekolah dan universitas tanpa pendidikan dan pengajaran telah terbukti "berhasil" melestarikan budaya korupsi-kolusi-nepotisme oleh orang-orang berdasi dan bertitel tinggi, yaninggu, sekolah Gelandangan (Sesame Street School), sekolah Terbuka dan Jarak Jauh, Taman Kakek-Nenek, Ak sekedar makelar penerbitan buku dan kursus-kursus serta les privat, atau komandan yang tak boleh dibantah. Mereka gagal jadi pengganti ayah, ibu, kakak, dan sahabat peserta didik. Sampai akhirnya, meminjam lagu Ebiet G. Ade, "Tuhan mulai bosan/melihat tingkah kita/yang selalu salah dan bangga/dengan dosa-dosa/..." dan menggerakkan mahasiswa untuk mempelopori perubahan sejak Mei 1998. Berguru pada Ajip Rosidi Ajip Rosidi, sastrawan Sunda kelahiran Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat, 31 Januari 1938, tidak tamat SMA. Namun kini ia menjadi dosen luar biasa di Fakultas Sastra Universitas Pajajaran, Bandung. Tahun 1981 ia bahkan diundang menjadi pengajar tamu di Osaka, Jepang, sampai saat ini. Sebel Asing Di Asia,diangkat menjadi guru besar luar biasa di Tenri Daigaku (1983-1994) dan Kyoto Sangyo Daigaku (1983-1996). Ajip memang seorang maestro tanpa gelar formal. Semua kehormatan yang diperolehnya dimulai dengan rasa cintanya yang besar pada dunia sastra, khususnya Sastra Sunda. Rasa cintanya dipadu dengan keteguhan hati yang dimilikinya sejak muda. Ia, misalnya tidak bersedia mengikuti ujian SMA karena dipaksa menyogok guru. Ia berpendapat, hidup sukses tidak mesti pakai ijasah. Dan kehormatan lebih penting dari predikat. Kompas 6 September 1998, memuat kisah sastrawan ini. Ia mulai bekerja di bidang tulis-menulis untuk mencari nafkah, baik sebagai penulis karya kreatif, redaktur, pemimpin majalah, maupun penerbit buku. Kesungguhannya menekuni bidang pilihannya itu membuat Ajip bertumbuh menjadi sastrawan yang mumpuni. Obsesinya untuk mengangkat derajat sastra Sunda ditunjukkan dengan menyediakan Penghargaan Rancage sejak tahun 1989 hingga sekarang. Rancage adalah sebuah kata dalam bahsa Sunda kuno yang berarti: aktif kreatif. Penghargaan ini awalnya diberikan kepada yang dianggap berhak bersama uang sebesar Rp1 juta. Uang itu dirogoh dari koceknya sendiri, disisihkan dari penghasilan selama mengajar di Jepang. Jumlah tersebut kini mencapai Rp5 juta, dan pernah diberikan kepada penulis, seniman, dan sastrawan Sunda, Jawa, dan Bali. Orang-orang Sukses Tanpa Pendidikan Tinggi John Major, drop out SMA, tapi menjabat Perdana Menteri Inggris menggantikan Wanita Besi, Margaret Thatcher. Billy Joel menjadi penyanyi terkenal dengan modal ijazah SMP, sama seperti Tracey Ullman yang menjadi aktris kondang. Pernah mendengar Bank of America? Pendirinya, Amadeo Peter Giannini tak pernah menyelesaikan SMA-nya. Dale Carnegie, pelopor di bidang pelatihan dan pengembangan manusia di awal abad 20, tak menyelesaikan sekolah gurunya di Missouri, Amerika Serikat. Thomas Alfa Edison hanya 3 bulan sekolah seumur hidupnya, namun lebih dari 3.000 penemuan dicatat atas namanya atau atas nama orang-orang yang bekerja dengannya. Sementara Kenji Eno drop out dari SMA, namun disebut-sebut sebagai Bintang versi Asia Week dan dianggap sebagai dewa industri game. Anthony Robbins hanya tamat SMA dan memulai kariernya sebagai jongos kantor (janitor). Namun dalam waktu satu dekade ia berhasil menjadi praktisi konsep Neuro-Linguistic Programming (NLP), bahkan merevisinya menjadi Neuro-Associative Conditioning (NAC). Dari pemuda miskin dan sakit-sakitan, Robins berhasil menjadi penulis buku laris Unlimited Power dan Awaken The Giant Within. Ia dipuji para profesor psikologi sebagai motivator yang handal dan menjadi salah seorang penasihat Presiden Bill Clinton. Honor bicaranya --US$ 75.000 sekali tampil (kurang lebih 3 jam)-- melampaui Dr. Stephen R. Covey, John Gray, dan Michael Hansen. Susi Pudjiastuti drop out SMAN I Yogyakarta, tapi mampu menjadi eksportir ikan, udang, lobter, dan hewan laut lainnya ke Singapura, Hong Kong, dan Jepang, yang tak goyah diterpa badai krisis. Kusnadi hanya tamat SMA di Semarang, namun menjadi eksportir tenun ikat Bali yang memasok pakaian ke 1.650 butik terkemuka di Amerika dan Kanada. Hartono Setyo hanya sampai SMP, tapi mampu melanjutkan kepemimpinan Bambang Setijo, kakaknya, di beberapa perusahaan kelompok PT Sari Warna Asli Group --calon konglomerat baru di awal milenium ketiga. Adam Malik, pernah Menteri Luar Negeri dan Wakil Presiden Indonesia cuma mengecap sekolah sampai kelas 5 SD. Andrie Wongso tidak tamat SD, arek Malang ini pernah melata sebagai kuli toko, guru kungfu, dan bintang film kungfu di Taiwan sebelum jadi juragan kata-kata mutiara (kartu-kartu merek Harvest) dan mendirikan perusahaan MLM Forever Young, serta menyunting seorang Sarjana Hukum. Alim Markus, meninggalkan bangku SMP dan mampu mengembangkan Grup Maspion menjadi salah satu usaha yang terkemuka di Jawa Timur. Dalam kelompok bisnisnya tercatat lebih dari 40 pabrik yang menyerap sekitar 20.000 tenaga kerja. Markus F. Parmadi, berhasil mencapai posisi tertinggi sebagai Presiden Direktur Bank Lippo. Padahal pendidikannya putus di tengah jalan, ia drop out tingkat dua dari Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Bob Sadino tak pernah kuliah di perguruan tinggi, tapi sering diundang untuk mengkuliahi mahasiswa di banyak kota, termasuk para calon dan sarjana-sarjana pertanian. Dan tanyakan pada Sukyatno Nugroho, sekolah mana yang membuatnya mampu mengembangkan Es Teller 77 Juara Indonesia dengan sistem franchise? atau apa gelar Willy Sidharta yang membuatnya bertahan memimpin PT Aqua Golden Mississippi? Lalu, Abrian Natan, Direktur Eksekutif CNI yang fasih berbicara di muka publik itu, mengapa tak merasa perlu menyelesaikan pendidikan tinggi? Masih banyak contoh, tapi cukuplah. Di jaman sulit seperti yang kita hadapi sejak pertengahan 1997 ini --dan entah masih berapa lama lagi-- sangat penting memperlihatkan fakta sejarah bahwa orang tidak harus berpendidikan tinggi untuk memperbaiki taraf hidup. Tanpa harus terjebak menghina para penganggur terdidik, kita ingin mengingatkan masyarakat bahwa pendidikan tinggi bukanlah faktor penentu absolut untuk meraih keberhasilan. Tak perlu putus asa bila putus sekolah. Tak perlu bermurung durja bila tak mampu menyekolahkan anak-anak ke tingkat yang lebih tinggi. Dunia tidak selebar daun kelor, kata orang bijak. Kalaupun Anda tak kenyang sekolahan, atau anak, adik, dan kerabat melulu putus sekolah, jalan menuju cita-cita masih membentang lebar. Belajar ada kalanya jauh lebih efektif dari pengalaman, pribadi atau orang lain. "Sekolah" yang paling baik acap kali bukan di tempat-tempat tertutup, jauh dari kenyataan hidup sehari-hari, tetapi justru di lingkungan sekitar (pasar, stasiun, mesjid/gereja, kantor, jalan raya, dan seterusnya). Sekolah tanpa ijazah dan universitas kehidupan, itulah namanya. Sekolah Tanpa Ijazah dan Universitas Kehidupan Sekolah itu candu, demikian judul kumpulan tulisan Roem Topatisamang sekitar tahun 70-an, yang merupakan pengantar diskusi dan tugas kuliah Seminar Sistem Pendidikan Perbandingan di kampusnya IKIP Bandung. Lewat pamflet "Robohnya Sekolah Kami", Roem bergabung dengan orang-orang seperti Everett Reimer, penulis buku School is Dead. Roem tidak anti sekolah. Ia hanya ingin mengembalikan pengertian sekolah "ke jalan yang benar". Kata "sekolah" yang diambil dari kata Yunani skhole, scola, scolae atau schola, berarti "waktu luang yang digunakan secara khusus untuk belajar" (leisure devoted to learning). Lewat proses alih fungsi dari scola matterna (pengasuhan ibu sampai usia tertentu), menjadi scola in loco parentis (lembaga pengasuhan anak pada waktu senggang di luar rumah sebagai pengganti peran ayah dan ibu), kita mengenal "lembaga ibu asuh" atau "ibu yang memberikan ilmu" alias alma mater. Makna sekolah yang luas, mencakup berbagai bidang kehidupan, disunat jadi sekedar gedung di lokasi tertentu. Mudah menunjuk kampus Universitas Indonesia, tapi dimanakah gerangan Akademi Jakarta dan Akademi Leimena? Orang kenal Universitas Harvard, Yale, Cambridge, MIT, Princenton, Berkeley, dan Stanford, tapi dimanakah Universitas Rockefeller yang 2 mahasiswa dan 16 pengajarnya menerima hadiah Nobel? Universitas Tokyo, Tsukuba, Washeda, dan Sophia mudah dicari, tapi bagaimana dengan Universitas Perserikatan Bangsa-bangsa (Soedjatmoko, salah seorang putra terbaik Indonesia pernah diangkat menjadi rektornya tahun 1980-an) ? Lalu Sekolah Frankfurt, Sekolah Wina, dan Sekolah Durkheim, di manakah gedungnya? Sampai mati Anda tak akan menjumpainya. Penyunatan makna sekolah dari wilayah kehidupan menjadi sekedar gedung terlokalisir yang mengajarkan hal-hal jauh dari kenyataan hidup sehari-hari, menurut Roem, telah mengakibatkan terjadinya involusi kelembagaan, involusi sikap, dan bahkan involusi pemikiran. Kegiatan belajar kemudian "dilokalisir" sedemikian rupa sehingga hanya dilakukan di sebuah ruang tertutup. Sekolah Minggu, sekolah Gelandangan (Sesame Street School), sekolah Terbuka dan Jarak Jauh, Taman Kakek-Nenek, Akademi Kanak-kanak, dan berbagai kegiatan belajar tanpa ijazah menjadi asing. Kita lupa bahwa panggilan kemanusiaan yang pertama adalah menjadi manusia pembelajar, yang belajar di mana saja, kapan saja, dan kepada siapa saja. Keberhasilan orang-orang yang tak sempat masuk (gedung) sekolah sesungguhnya menjadi semacam peringatan dan gugatan terhadap ketersesatan makna sekolah yang selama ini menjajah wilayah pemikiran dan sikap kita. Penghargaan yang berlebihan terhadap gelar kesarjanaan (akademis) dapat meracuni pikiran masyarakat banyak. Anda tidak harus memiliki pendidikan tinggi untuk berhasil. Banyak fakta sejarah yang menunjukkan bahwa sekolah (termasuk universitas) justru dapat membuat kita terasing dari persoalan kehidupan nyata, enggan bekerja keras dari bawah (karena dipasung ijazan tanpa makna), dan menjadi tidak kreatif menghadapi masa-masa sulit, sehingga gagal dalam karier dan kehidupan. BAPU ADI
Dr. Seto Mulyadi, Ketua Komnas Perlindungan Anak (KPA)
Sistem pendidikan di Indonesia belum membebaskan. Peserta didik menjalani proses belajar bagaikan dalam penjara. Sekolah alternatif bisa menjadi solusi. Demikian disampaikan Ketua Komnas Perlindungan Anak DR. Seto Mulyadi kepada Subhi Azhari dari the WAHID Institute. Berikut wawancara lengkapnya.
Apa yang dimaksud pendidikan yang membebaskan? Membebaskan anak untuk berkreasi, mengekspresikan perasaannya, dan sebagainya. Intinya tidak membebani anak dan tidak menjadikan sekolah itu seperti penjara. Ketika anak mendengar “hari ini boleh pulang, kerena ibu guru mau rapat,” mereka bilang “horeee, bebas!” Ini karena sekolah kita laksana penjara. Seharusnya sekolah itu membebaskan ide-ide kreatif mereka. Sistem pendidikan kita sudah membebaskan? Belum! Kesadaran bahwa pendidikan itu untuk anak, belajar itu hak bukan kewajiban, itu masih minim. Sekarang anak-anak lebih banyak diperlakukan seperti robot; harus nurut, anak untuk kurikulum, sarat kekerasan, dan kadang sekedar mengejar nilai bukan proses. Ini sangat merugikan bagi pengembangan kreativitas dan kemandirian anak.
Pendidikan yang membebaskan itu seperti apa? Apa yang dimaksud pendidikan yang membebaskan? Membebaskan anak untuk berkreasi, mengekspresikan perasaannya, dan sebagainya. Intinya tidak membebani anak dan tidak menjadikan sekolah itu seperti penjara. Ketika anak mendengar “hari ini boleh pulang, kerena ibu guru mau rapat,” mereka bilang “horeee, bebas!” Ini karena sekolah kita laksana penjara. Seharusnya sekolah itu membebaskan ide-ide kreatif mereka.
Sistem pendidikan kita sudah membebaskan? Belum! Kesadaran bahwa pendidikan itu untuk anak, belajar itu hak bukan kewajiban, itu masih minim. Sekarang anak-anak lebih banyak diperlakukan seperti robot; harus nurut, anak untuk kurikulum, sarat kekerasan, dan kadang sekedar mengejar nilai bukan proses. Ini sangat merugikan bagi pengembangan kreativitas dan kemandirian anak.
Pendidikan yang membebaskan itu seperti apa? Seperti home schooling, sekolah alternatif, juga sekolah alam yang memungkinkan anak belajar dengan cara masing-masing. Kalau ada delapan standar pendidikan nasional yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), maka yang harus diikuti hanya tiga; yaitu standar isi kurikulum, standar kompetensi lulusan dan standar evaluasi. Sedangkan standar proses, standar guru, standar biaya, standar sarana prasarana, itu bebas.
Cara mengevaluasinya? Sama saja, pakai pertanyaan-pertanyaan standar kompetensi yang diharuskan. Bahkan kami sedang mendesak mereka tidak saja bisa ikut ujian kesetaraan, tapi juga ujian nasional sama seperti sekolah formal. Di sini akan dilihat anak-anak yang sekolah lewat jalur formal dan informal itu kualitasnya sama apa tidak. Penelitian di AS menunjukkan, mereka yang home schooling, secara akademik maupun psiko sosial-nya banyak yang lebih tinggi dari anak-anak yang sekolah biasa.
Peran guru dalam model sekolah ini? Sebagai fasilitator proses belajar. Guru juga bisa belajar bersamasama dengan murid. Tempat belajarnya? Bisa di mana saja. Di tenda, rumah, atau pasar. Sesekali mereka diajak keluar. Misalnya ke kantor polisi, pemadam kebakaran atau apa saja.
Bagaimana pendekatan belajarnya? Tetap mengedepankan kepentingan terbaik bagi anak. Bukan anak untuk kurikulum, tetapi kurikulum untuk anak. Jadi, kurikulum didesain untuk anak dalam kondisi yang berbeda. Misalnya, untuk anak-anak di Pasar Induk Kramat Jati. Setelah belajar hari Sabtu dan kita yang datang ke sana, mereka lalu kembali menjual koran, menyemir sepatu, mengupas kerang atau apapun. Kalau ditanya kenapa tidak sekolah? Mereka jawab, “Sekolahnya terlalu ketat, kami tidak bisa kerja”. Maka pilihannya pendidikan alternatif. Kita jemput bola. Modelnya kelas berjalan; kita datengin dan kita sediakan fasilitas. Mereka belajar sangat semangat dan gembira.[]
Referensi : Tempo
Jaringan SMP Qoryah Thoyyibah menyediakan pendidikan murah, membebaskan dan kaya prestasi. Hakekat pendidikan pesantren ada di sini.Sujono Samba (46) tersenyum ketika seorang murid menyodorinya selembar surat dari Dinas Pendidikan Nasional (Diknas) Kota Salatiga, Jawa Tengah. “Dilarang menggunakan istilah-istilah yang ada di perguruan tinggi,” bunyi salah satu butir surat itu. Pengajar Sekolah Menengah Pertama Qoryah Thoyyibah (SMP QT) ini langsung teringat beberapa istilah yang kerap digunakan murid-muridnya seperti riset, disertasi, report, dan lainnya. Perkara itu rupanya dianggap para pejabat dinas pendidikan setempat menyalahi aturan dan harus diberi peringatan. Tapi Sujono beserta para pendamping kelas dan seluruh siswa SMP di Desa Kalibening Kecamatan Tingkir, sebelah timur Kota Salatiga, ini tak terusik dengan surat teguran tersebut. Aktivitas belajar tetap berjalan seperti biasa. “Kalau keberatan istilahnya dipakai anak SMP, mestinya perguruan tinggi cari istilah lain,” gurau Sujono yang juga menulis buku Lebih Baik Tidak Sekolah. Menurut Mudjab, pendamping kelas lainnya di SMP QT, istilah-istilah tersebut adalah bentuk ekspresi dari misi pembebasan dan kemandirian sekolah yang berdiri sejak Juli 2003 itu. Pembebasan berarti keluar dari belenggu aturan formal yang membuat murid tidak kritis dan tidak kreatif. Sedang kemandirian berarti belajar tanpa bergantung apapun dan siapapun. “Selama ini lembaga pendidikan formal membelenggu anak dengan sederet aturan yang tidak jelas kepentingannya buat si anak. Seperti baju seragam, sepatu seragam dan masuk harus jam 7 pagi,” tambah Mudjab yang juga salah satu penggagas berdirinya sekolah ini. Pendapat Mudjab diamini Ketua Komnas Perlindungan Anak Seto Mulyadi. Kak Seto, panggilan akrab pria berkacamata ini, mengakui sistem pendidikan di Indonesia belum membebaskan. “Sekarang anak-anak lebih banyak diperlakukan seperti robot; harus nurut, anak untuk kurikulum, sarat kekerasan, dan kadang sekedar mengejar nilai bukan proses,” katanya (baca: Karena Sekolah Kita Laksana Penjara). Untuk itulah, para pengelola SMP QT membebaskan para peserta didiknya belajar menurut keinginan. “Sumber pembelajaran telah tersedia tanpa batas. Bahkan pada persoalan hidup yang muncul setiap hari,” kata Kepala Sekolah SMP QT Bahruddin. Semua murid sekolah yang dilengkapi fasilitas internet 24 jam ini tidak dikutip uang pangkal, uang seragam, uang buku dan uang gedung. Karena untuk menyiasati kekurangan ruang belajar, bilik-bilik milik rumah di sekitar kediaman Bahruddin disulap menjadi kelas yang dipakai bergiliran. Sekolah ini bagai terinspirasi sistem pesantren klasik yang tidak bergantung pada tempat dan aturan formal. Biaya operasional sekolah yang semula hanya menempati teras dan garasi sang kepala sekolah, ini diambil dari APBD yang kecil untuk pendidikan SMP terbuka dan kocek wali murid. “Setiap anak yang mau masuk, wali murid dan pengelola ketemu untuk menentukan besaran kontribusi yang disanggupi. Tidak harus sama satu anak dengan yang lainnya,” jelas Mudjab. Kebersahajaan itu dirancang sebagai perlawanan terhadap komersialisasi lembaga pendidikan formal. “Kalau orang berduit yang dicari adalah kualitas, persoalan biaya tidak masalah. Tapi kalau murah dan berkualitas kan alternatif bagi semua,” jelas Bahruddin. Pada tahun pertama berdiri, sekolah ini diikuti 12 anak. Kini memasuki tahun keempat, SMP QT telah memiliki delapan pendamping (guru) dan 99 siswa dari kelas I sampai kelas IV. Sebagian besar, muridnya anak buruh tani dan pedagang pasar dengan penghasilan Rp 15 sampai 20 ribu sehari. “Bisa dibayangkan jika mereka harus membayar uang pangkal hingga Rp 700 ribu, untuk SPP perbulan Rp 35 sampai Rp 40 ribu, belum lagi uang buku, uang saku dan macam-macam, tentu bagi mereka sekolah adalah barang yang sangat mahal,” urai Mudjab. Kini peminat sekolah ini membludak, tidak hanya dari Salatiga tetapi juga daerah lain hingga Jakarta. Namun, kata Bahruddin, tidak ada pembedaan terhadap murid. “Kaya miskin akan diperlakukan sama di sini,” ujar Bahruddin. Sekolah yang terdaftar di Diknas Kota Salatiga sebagai pendidikan luar sekolah (PLS), ini juga membebaskan muridnya untuk mengikuti atau tidak ujian akhir nasional (UAN). Tapi prestasi kerap diraih sekolah yang lahir dari Serikat Paguyuban Petani Qoryah Thoyyibah (SPPQT). Murid kelas 3 SMP QT, telah melahirkan karya ilmiah yang mereka sebut disertasi. “Disertasi itu sebagai tugas akhir, karena dulu kita sepakat tidak ikut UAN,” kenang Mariatul Ulfah (15), murid kelas IV SMP QT atau mereka kerap menyebut kelas 1 SMU singkatan dari Sekolah Menengah Universal. Tengoklah disertasi Amri (15) dan Zulfi (15) yang mencoba membuat briket dari sampah dan bambu kering. Hilmy (15) meneliti bio-urine sebagai pengganti pupuk urea. Fina (15), Izza (14) dan Kana (15) melahirkan disertasi berjudul Lebih Asyik Tanpa UAN. Untuk membuat karya itu, Fina rela mengikuti UAN kelas 3 di SMP 1 Salatiga. Hasilnya, dia meraih peringkat kedua dari seluruh peserta UAN di sekolah itu. Disertasi itu pun dijadikan buku dan menerima Indonesian Creative Award 2006 dari Yayasan Cerdas Kreatif Indonesia pimpinan Seto Mulyadi. Tak sampai di situ, sejumlah novel pop dan kumpulan puisi yang diproduksi murid sekolah ini sudah diterbitkan Penerbit Matapena, Yogyakarta. Menyusul kemudian kumpulan puisi, katalog lukisan, serta presentasi tertulis dan vcd berbagai mata pelajaran. Kini murid-murid sekolah itu sedang mempersiapkan sebuah album musik dan film hasil ciptaan mereka. Atas berbagai prestasi itu, Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta mengganjar SMP QT dengan Sanata Dharma Award 2005. Ini adalah kali pertama USD memberikannya kepada pihak luar. “Sekolah ini mencoba menawarkan pendidikan bermutu dan murah. Bermutu bukan sekedar peringkat tinggi, tapi yang lebih penting mereka memberdayakan peserta didik dalam menghadapi realitas kehidupan sekitar,” kata koordinator tim award USD Budiawan. Budiawan melihat, metode pembelajaran SMP QT terfokus kepada anak didik, bukan guru. Dalam pendekatan seperti ini, anak-anak diberi kebebasan untuk belajar darimana saja, apa saja, dan tidak harus di kelas. Semuanya diserahkan kepada anak didik. Seperti saat berkunjung ke SMP QT, the WAHID Institute mendapati sebagian besar tempat belajar kosong pada jam pelajaran. Ternyata murid-muridnya sedang asyik belajar di sawah, ladang atau sungai. Di dalam maupun di luar kelas, guru yang biasa dipanggil pendamping atau fasilitator dilarang mengarahkan proses pembelajaran. Pendamping hanya boleh mendengar dan menjaga agar kegiatan kelas tetap kondusif. “Pendamping hanya berfungsi sebagai teman belajar yang juga harus belajar. Di sini tidak ada istilah guru-murid, yang ada adalah sekumpulan orang-orang yang ingin belajar,” kata Mudjab. Justru karena fungsi guru yang setara, anak-anak SMP QT terlatih membuat perencanaan kelas, menentukan materi, menyiapkan alat-alat yang dibutuhkan hingga evaluasi belajar. “Semuanya dilakukan sendiri. Kelas I peran pendamping 50 persen, kelas II 25 persen, kelas III dan IV sudah nggak ada daerahnya. Sehingga ia harus bolak-balik Cilacap-Salatiga. Kesamaan nilai yang diyakini juga menjadi pencetus berdirinya sekolah-sekolah itu. “Nilai-nilai universal yang menjadi landasan bersama, misalnya, kemanusiaan, keadilan, pelestarian lingkungan dan kesetaraan gender,” kata Mudjab yang juga merangkap Kepala Sekolah di SMP QT Harapan Makmur, Dusun Plantungan yang berdiri sejak 2005. Menurut Mudjab, sekolah yang dipimpinnya itu, didirikan karena alasan yang sama seperti di Kalibening. “Kemiskinan penyebab banyaknya anak putus sekolah. Kita ingin anak-anak petani bisa mendapat pendidikan bermutu tapi terjangkau. Selain itu, bagaimana menerapkan sistem pendidikan yang memberdayakan, tidak malah menindas,” jelas alumnus Pasca Sarjana Universitas Islam Negeri Yogyakarta ini. Sekolahnya, kata Mudjab, yang menempati ruangan bekas TPA itu memiliki delapan siswa. Di kelas satu tiga siswa dan sisanya di kelas II, dengan jumlah pengajar delapan orang. “Jadi masing-masing anak didampingi satu orang teman atau guru,” ujar Lina, salah seorang pengajar. Murid SMP Alternatif al Barokah Ketapang lebih banyak. Berdiri sejak 24 Mei 2005, sekolah ini sekarang menampung 36 siswa yang terbagi dalam dua kelas. Metode pembelajaran diserahkan kepada anak-anak, dengan ditunjang fasilitas internet dan laboratorium alam. “Karena sistem yang dipakai adalah kejar paket B, anakanak lebih menekankan diri pada life skill di bidang pertanian dan perikanan,” papar Sumarno pengajar SMP Alternatif al Barokah. Lagi-lagi mahalnya biaya pendidikan menjadi alasan berdirinya sekolah ini. “Alasan lainnya, membangkitkan kembali budaya lokal yang makin dipinggirkan modernitas,” kata Sumarno. Dengan berbekal kemauan dan kerja keras, Sumarno bersama delapan guru dan lima pengelola mampu membuktikan, bahwa model pendidikan ini justru diterima masyarakat dengan antusias. “Salah satu murid di sini pindahan dari SMP negeri. Bahkan dia anak kepala sekolah itu,” tutur Sumarno bangga. Kebanggan juga tampak di wajah pengajar SMP Candi Laras Merbabu Ely Nurhayati. Sekolah yang dirintis oleh SPPQT sejak 2004 itu telah berhasil memenuhi kebutuhan pendidikan masyarakat. “Bukan hanya karena sekolah kami mampu menerapkan metode belajar yang disukai murid, tapi juga komitmen para pengajar yang tidak kenal lelah,” kata Ely. Setiap kali mengajar, Ely dan beberapa pengajar harus menempuh perjalanan 8 kilometer. “Kami sering menginap di sekolah karena satu-satunya transport, yaitu ojek, sudah habis,” tambah mahasiswa tingkat akhir STAIN Magelang ini. Dua puluh satu anak tercatat sebagai siswa SMP yang berada di lereng Gunung Merbabu ini. Dengan menempati salah satu rumah penduduk, sekolah yang terbagi dalam tiga kelas ini dilengkapi akses internet, bantuan seorang pengusaha internet dari Salatiga.  Menurut Ely saat ini muridnya sedang giat membuat film dokumenter tentang sekolah mereka. “Memang belum seberapa,” kata Ely. “Tapi sebagai anak yang hidup di gunung, pencapaian seperti ini luar biasa,” imbuhnya. Keuletan dan kegigihan membuat rakyat miskin juga mampu mengukir prestasi. Sepatutnya pemerintah tak hanya berpangku tangan.[]  
|
|