Goresan Sang Pemimpi(n) Peradaban

adi's posts with tag: sekolah rumah

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag sekolah rumah
Blog Entry“Karena Sekolah Kita Laksana Penjara”Sep 5, '07 5:00 AM
for everyone
Dr. Seto Mulyadi, Ketua Komnas Perlindungan Anak (KPA)

Sistem pendidikan di Indonesia belum membebaskan. Peserta didik menjalani proses belajar
bagaikan dalam penjara. Sekolah alternatif bisa menjadi solusi. Demikian disampaikan Ketua
Komnas Perlindungan Anak DR. Seto Mulyadi kepada Subhi Azhari dari the WAHID Institute.
Berikut wawancara lengkapnya.


Apa yang dimaksud pendidikan yang membebaskan?
Membebaskan anak untuk berkreasi, mengekspresikan
perasaannya, dan sebagainya. Intinya tidak membebani anak
dan tidak menjadikan sekolah itu seperti penjara. Ketika anak
mendengar “hari ini boleh pulang, kerena ibu guru mau rapat,”
mereka bilang “horeee, bebas!” Ini karena sekolah kita laksana
penjara. Seharusnya sekolah itu membebaskan ide-ide kreatif
mereka.
Sistem pendidikan kita sudah membebaskan?
Belum! Kesadaran bahwa pendidikan itu untuk anak, belajar
itu hak bukan kewajiban, itu masih minim. Sekarang anak-anak
lebih banyak diperlakukan seperti robot; harus nurut, anak
untuk kurikulum, sarat kekerasan, dan kadang sekedar mengejar
nilai bukan proses. Ini sangat merugikan bagi pengembangan
kreativitas dan kemandirian anak.

Pendidikan yang membebaskan itu seperti apa?
Apa yang dimaksud pendidikan yang membebaskan?
Membebaskan anak untuk berkreasi, mengekspresikan
perasaannya, dan sebagainya. Intinya tidak membebani anak
dan tidak menjadikan sekolah itu seperti penjara. Ketika anak
mendengar “hari ini boleh pulang, kerena ibu guru mau rapat,”
mereka bilang “horeee, bebas!” Ini karena sekolah kita laksana
penjara. Seharusnya sekolah itu membebaskan ide-ide kreatif
mereka.

Sistem pendidikan kita sudah membebaskan?
Belum! Kesadaran bahwa pendidikan itu untuk anak, belajar
itu hak bukan kewajiban, itu masih minim. Sekarang anak-anak
lebih banyak diperlakukan seperti robot; harus nurut, anak
untuk kurikulum, sarat kekerasan, dan kadang sekedar mengejar
nilai bukan proses. Ini sangat merugikan bagi pengembangan
kreativitas dan kemandirian anak.

Pendidikan yang membebaskan itu seperti apa?
Seperti home schooling, sekolah alternatif, juga sekolah alam yang
memungkinkan anak belajar dengan cara masing-masing. Kalau
ada delapan standar pendidikan nasional yang disusun oleh
Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), maka yang harus
diikuti hanya tiga; yaitu standar isi kurikulum, standar kompetensi
lulusan dan standar evaluasi. Sedangkan standar proses, standar
guru, standar biaya, standar sarana prasarana, itu bebas.

Cara mengevaluasinya?
Sama saja, pakai pertanyaan-pertanyaan standar kompetensi yang
diharuskan. Bahkan kami sedang mendesak mereka tidak saja
bisa ikut ujian kesetaraan, tapi juga ujian nasional sama seperti
sekolah formal. Di sini akan dilihat anak-anak yang sekolah
lewat jalur formal dan informal itu kualitasnya sama apa tidak.
Penelitian di AS menunjukkan, mereka yang home schooling,
secara akademik maupun psiko sosial-nya banyak yang lebih
tinggi dari anak-anak yang sekolah biasa.

Peran guru dalam model sekolah ini?
Sebagai fasilitator proses belajar. Guru juga bisa belajar bersamasama
dengan murid.
Tempat belajarnya?
Bisa di mana saja. Di tenda, rumah, atau pasar. Sesekali mereka
diajak keluar. Misalnya ke kantor polisi, pemadam kebakaran
atau apa saja.

Bagaimana pendekatan belajarnya?
Tetap mengedepankan kepentingan terbaik bagi anak. Bukan anak
untuk kurikulum, tetapi kurikulum untuk anak. Jadi, kurikulum
didesain untuk anak dalam kondisi yang berbeda. Misalnya, untuk
anak-anak di Pasar Induk Kramat Jati. Setelah belajar hari Sabtu
dan kita yang datang ke sana, mereka lalu kembali menjual koran,
menyemir sepatu, mengupas kerang atau apapun. Kalau ditanya
kenapa tidak sekolah? Mereka jawab, “Sekolahnya terlalu ketat,
kami tidak bisa kerja”. Maka pilihannya pendidikan alternatif.
Kita jemput bola. Modelnya kelas berjalan; kita datengin dan
kita sediakan fasilitas. Mereka belajar sangat semangat dan
gembira.[]

Referensi : Tempo

Blog EntryPendidikan Alternatif Yang MembebaskanSep 5, '07 4:33 AM
for everyone
Jaringan SMP Qoryah Thoyyibah menyediakan pendidikan
murah, membebaskan dan kaya prestasi.
Hakekat pendidikan pesantren ada di sini.


Sujono Samba (46) tersenyum ketika seorang murid
menyodorinya selembar surat dari Dinas Pendidikan
Nasional (Diknas) Kota Salatiga, Jawa Tengah. “Dilarang
menggunakan istilah-istilah yang ada di perguruan tinggi,”
bunyi salah satu butir surat itu.

Pengajar Sekolah Menengah Pertama Qoryah Thoyyibah
(SMP QT) ini langsung teringat beberapa istilah yang kerap
digunakan murid-muridnya seperti riset, disertasi, report,
dan lainnya. Perkara itu rupanya dianggap para pejabat dinas
pendidikan setempat menyalahi aturan dan harus diberi
peringatan.

Tapi Sujono beserta para pendamping kelas dan seluruh
siswa SMP di Desa Kalibening Kecamatan Tingkir, sebelah
timur Kota Salatiga, ini tak terusik dengan surat teguran
tersebut. Aktivitas belajar tetap berjalan seperti biasa. “Kalau
keberatan istilahnya dipakai anak SMP, mestinya perguruan
tinggi cari istilah lain,” gurau Sujono yang juga menulis buku
Lebih Baik Tidak Sekolah.

Menurut Mudjab, pendamping kelas lainnya di SMP QT,
istilah-istilah tersebut adalah bentuk ekspresi dari misi pembebasan
dan kemandirian sekolah yang berdiri sejak Juli 2003
itu. Pembebasan berarti keluar dari belenggu aturan formal
yang membuat murid tidak kritis dan tidak kreatif. Sedang
kemandirian berarti belajar tanpa bergantung apapun dan
siapapun.

“Selama ini lembaga pendidikan formal membelenggu anak
dengan sederet aturan yang tidak jelas kepentingannya buat si
anak. Seperti baju seragam, sepatu seragam dan masuk harus
jam 7 pagi,” tambah Mudjab yang juga salah satu penggagas
berdirinya sekolah ini.

Pendapat Mudjab diamini Ketua Komnas Perlindungan
Anak Seto Mulyadi. Kak Seto, panggilan akrab pria berkacamata
ini, mengakui sistem pendidikan di Indonesia belum
membebaskan. “Sekarang anak-anak lebih banyak diperlakukan
seperti robot; harus nurut, anak untuk kurikulum, sarat
kekerasan, dan kadang sekedar mengejar nilai bukan proses,”
katanya (baca: Karena Sekolah Kita Laksana Penjara).
Untuk itulah, para pengelola SMP QT membebaskan para
peserta didiknya belajar menurut keinginan. “Sumber pembelajaran
telah tersedia tanpa batas. Bahkan pada persoalan
hidup yang muncul setiap hari,” kata Kepala Sekolah SMP
QT Bahruddin.

Semua murid sekolah yang dilengkapi fasilitas internet 24
jam ini tidak dikutip uang pangkal, uang seragam, uang buku
dan uang gedung. Karena untuk menyiasati kekurangan ruang
belajar, bilik-bilik milik rumah di sekitar kediaman Bahruddin
disulap menjadi kelas yang dipakai bergiliran. Sekolah ini bagai
terinspirasi sistem pesantren klasik yang tidak bergantung pada
tempat dan aturan formal.

Biaya operasional sekolah yang semula hanya menempati
teras dan garasi sang kepala sekolah, ini diambil dari APBD
yang kecil untuk pendidikan SMP terbuka dan kocek wali
murid. “Setiap anak yang mau masuk, wali murid dan pengelola
ketemu untuk menentukan besaran kontribusi yang
disanggupi. Tidak harus sama satu anak dengan yang lainnya,”
jelas Mudjab.

Kebersahajaan itu dirancang sebagai perlawanan terhadap
komersialisasi lembaga pendidikan formal. “Kalau orang berduit
yang dicari adalah kualitas, persoalan biaya tidak masalah.
Tapi kalau murah dan berkualitas kan alternatif bagi semua,”
jelas Bahruddin.

Pada tahun pertama berdiri, sekolah ini diikuti 12 anak. Kini
memasuki tahun keempat, SMP QT telah memiliki delapan
pendamping (guru) dan 99 siswa dari kelas I sampai kelas IV.
Sebagian besar, muridnya anak buruh tani dan pedagang pasar
dengan penghasilan Rp 15 sampai 20 ribu sehari.
“Bisa dibayangkan jika mereka harus membayar uang pangkal
hingga Rp 700 ribu, untuk SPP perbulan Rp 35 sampai Rp
40 ribu, belum lagi uang buku, uang saku dan macam-macam,
tentu bagi mereka sekolah adalah barang yang sangat mahal,”
urai Mudjab.

Kini peminat sekolah ini membludak, tidak hanya dari
Salatiga tetapi juga daerah lain hingga Jakarta. Namun, kata
Bahruddin, tidak ada pembedaan terhadap murid. “Kaya
miskin akan diperlakukan sama di sini,” ujar Bahruddin.
Sekolah yang terdaftar di Diknas Kota Salatiga sebagai pendidikan
luar sekolah (PLS), ini juga membebaskan muridnya
untuk mengikuti atau tidak ujian akhir nasional (UAN). Tapi
prestasi kerap diraih sekolah yang lahir dari Serikat Paguyuban
Petani Qoryah Thoyyibah (SPPQT). Murid kelas 3 SMP QT,
telah melahirkan karya ilmiah yang mereka sebut disertasi.
“Disertasi itu sebagai tugas akhir, karena dulu kita sepakat
tidak ikut UAN,” kenang Mariatul Ulfah (15), murid kelas IV
SMP QT atau mereka kerap menyebut kelas 1 SMU singkatan
dari Sekolah Menengah Universal.

Tengoklah disertasi Amri (15) dan Zulfi (15) yang mencoba
membuat briket dari sampah dan bambu kering. Hilmy (15)
meneliti bio-urine sebagai pengganti pupuk urea. Fina (15), Izza
(14) dan Kana (15) melahirkan disertasi berjudul Lebih Asyik
Tanpa UAN. Untuk membuat karya itu, Fina rela mengikuti
UAN kelas 3 di SMP 1 Salatiga. Hasilnya, dia meraih peringkat
kedua dari seluruh peserta UAN di sekolah itu. Disertasi itu
pun dijadikan buku dan menerima Indonesian Creative Award
2006 dari Yayasan Cerdas Kreatif Indonesia pimpinan Seto
Mulyadi.

Tak sampai di situ, sejumlah novel pop dan kumpulan puisi
yang diproduksi murid sekolah ini sudah diterbitkan Penerbit
Matapena, Yogyakarta. Menyusul kemudian kumpulan puisi,
katalog lukisan, serta presentasi tertulis dan vcd berbagai mata
pelajaran. Kini murid-murid sekolah itu sedang mempersiapkan
sebuah album musik dan film hasil ciptaan mereka.
Atas berbagai prestasi itu, Universitas Sanata Dharma
(USD) Yogyakarta mengganjar SMP QT dengan Sanata
Dharma Award 2005. Ini adalah kali pertama USD memberikannya
kepada pihak luar. “Sekolah ini mencoba menawarkan
pendidikan bermutu dan murah. Bermutu bukan sekedar peringkat
tinggi, tapi yang lebih penting mereka memberdayakan
peserta didik dalam menghadapi realitas kehidupan sekitar,”
kata koordinator tim award USD Budiawan.

Budiawan melihat, metode pembelajaran SMP QT terfokus
kepada anak didik, bukan guru. Dalam pendekatan seperti ini,
anak-anak diberi kebebasan untuk belajar darimana saja, apa
saja, dan tidak harus di kelas. Semuanya diserahkan kepada
anak didik.

Seperti saat berkunjung ke SMP QT, the WAHID Institute
mendapati sebagian besar tempat belajar kosong pada jam
pelajaran. Ternyata murid-muridnya sedang asyik belajar di
sawah, ladang atau sungai.

Di dalam maupun di luar kelas, guru yang biasa dipanggil
pendamping atau fasilitator dilarang mengarahkan proses
pembelajaran. Pendamping hanya boleh mendengar dan menjaga
agar kegiatan kelas tetap kondusif. “Pendamping hanya
berfungsi sebagai teman belajar yang juga harus belajar. Di
sini tidak ada istilah guru-murid, yang ada adalah sekumpulan
orang-orang yang ingin belajar,” kata Mudjab.

Justru karena fungsi guru yang setara, anak-anak SMP QT
terlatih membuat perencanaan kelas, menentukan materi,
menyiapkan alat-alat yang dibutuhkan hingga evaluasi belajar.
“Semuanya dilakukan sendiri. Kelas I peran pendamping 50
persen, kelas II 25 persen, kelas III dan IV sudah nggak ada
daerahnya. Sehingga ia harus bolak-balik Cilacap-Salatiga.
Kesamaan nilai yang diyakini juga menjadi pencetus berdirinya
sekolah-sekolah itu. “Nilai-nilai universal yang menjadi
landasan bersama, misalnya, kemanusiaan, keadilan, pelestarian
lingkungan dan kesetaraan gender,” kata Mudjab yang juga
merangkap Kepala Sekolah di SMP QT Harapan Makmur,
Dusun Plantungan yang berdiri sejak 2005.

Menurut Mudjab, sekolah yang dipimpinnya itu, didirikan
karena alasan yang sama seperti di Kalibening. “Kemiskinan
penyebab banyaknya anak putus sekolah. Kita ingin anak-anak
petani bisa mendapat pendidikan bermutu tapi terjangkau.
Selain itu, bagaimana menerapkan sistem pendidikan yang
memberdayakan, tidak malah menindas,” jelas alumnus Pasca
Sarjana Universitas Islam Negeri Yogyakarta ini.
Sekolahnya, kata Mudjab, yang menempati ruangan bekas
TPA itu memiliki delapan siswa. Di kelas satu tiga siswa dan
sisanya di kelas II, dengan jumlah pengajar delapan orang. “Jadi
masing-masing anak didampingi satu orang teman atau guru,”
ujar Lina, salah seorang pengajar.

Murid SMP Alternatif al Barokah Ketapang lebih banyak.
Berdiri sejak 24 Mei 2005, sekolah ini sekarang menampung 36
siswa yang terbagi dalam dua kelas. Metode pembelajaran diserahkan
kepada anak-anak, dengan ditunjang fasilitas internet
dan laboratorium alam.
“Karena sistem yang dipakai adalah kejar paket B, anakanak
lebih menekankan diri pada life skill di bidang pertanian
dan perikanan,” papar Sumarno pengajar SMP Alternatif al
Barokah.

Lagi-lagi mahalnya biaya pendidikan menjadi alasan berdirinya
sekolah ini. “Alasan lainnya, membangkitkan kembali budaya
lokal yang makin dipinggirkan modernitas,” kata Sumarno.

Dengan berbekal kemauan dan
kerja keras, Sumarno bersama delapan
guru dan lima pengelola mampu
membuktikan, bahwa model pendidikan
ini justru diterima masyarakat
dengan antusias. “Salah satu murid
di sini pindahan dari SMP negeri.
Bahkan dia anak kepala sekolah itu,”
tutur Sumarno bangga.

Kebanggan juga tampak di wajah pengajar SMP Candi Laras
Merbabu Ely Nurhayati. Sekolah yang dirintis oleh SPPQT
sejak 2004 itu telah berhasil memenuhi kebutuhan pendidikan
masyarakat. “Bukan hanya karena sekolah kami mampu menerapkan
metode belajar yang disukai murid, tapi juga komitmen
para pengajar yang tidak kenal lelah,” kata Ely.
Setiap kali mengajar, Ely dan beberapa pengajar harus
menempuh perjalanan 8 kilometer. “Kami sering menginap di
sekolah karena satu-satunya transport, yaitu ojek, sudah habis,”
tambah mahasiswa tingkat akhir STAIN Magelang ini.
Dua puluh satu anak tercatat sebagai siswa SMP yang berada
di lereng Gunung Merbabu ini. Dengan menempati salah satu
rumah penduduk, sekolah yang terbagi dalam tiga kelas ini
dilengkapi akses internet, bantuan seorang pengusaha internet
dari Salatiga.

Menurut Ely saat ini muridnya sedang giat membuat film dokumenter
tentang sekolah mereka. “Memang belum seberapa,”
kata Ely. “Tapi sebagai anak yang hidup di gunung, pencapaian
seperti ini luar biasa,” imbuhnya.
Keuletan dan kegigihan membuat rakyat miskin juga mampu
mengukir prestasi. Sepatutnya pemerintah tak hanya berpangku
tangan.[]

LinkSLTP Alternatif Qaryah Thayyibah SalatigaAug 31, '07 7:22 AM
for everyone
Link: http://www.pendidikansalatiga.net/qaryah/main.htm

Sekolah Alternatif online yang berkualitas internasional...menghasilkan siswa-siswa yang berprestasi luar biasa...

Dengan biaya minim dan input siswa yang dari kalangan miskin...
Namun kualitas tetap dipertahankan


LinkeMagazine Sekolah Rumah - HomeAug 17, '07 11:37 AM
for everyone
Link: http://www.sekolahrumah.com/

situs keren bagi praktisi dan pemerhati homeschooling


Komunitas Sekolah-rumah : Sebuah Model Pemenuhan Hak

atas Pendidikan

Memindahkan anak-anak dari sekolah secara permanen menjadi tantangan tersendiri
bagi penyelenggara homeschooling alias sekolah-rumah. Bagi masyarakat kita, ijazah masih menjadi satu-satunya modal untuk meningkatkan taraf hidup. Apalagi
dalam beberapa tahun terakhir ini sumber daya sekolah di Indonesia diarahkan
untuk selembar ijazah yang diperoleh dengan sistem penilaian sesaat untuk
menentukan kelulusan.

Belajar tiga tahun di sekolah menengah seolah tidak berarti apa pun dalam menentukan kelulusan dari sekolah. Akibatnya, guru-guru, sekolah, bahkan dinas terkait mengarahkan anak-anak untuk mengejar nilai akhir. Jika demikian halnya,
apa jadinya anak-anak bangsa di masa depan?

Sejatinya, pemenuhan hak atas pendidikan menjadi komitmen pemerintah. Demikian
juga dengan upaya penyatuan berbagai komitmen global untuk mencapai pendidikan
untuk semua (education for all). Kerangka Kerja Aksi Dakar mempertegas bahwa
pendidikan merupakan hak asasi manusia (HAM) dan telah menekankan pentingnya
komitmen pemerintah untuk mewujudkan pendidikan berbasis HAM yang
diimplementasikan untuk semua pada lingkup negara.

Menurut Katarina Tomasevski dalam buku Pendidikan Berbasis Hak Asasi, agar
pendidikan dapat disediakan (available) pemerintah perlu menjamin pendidikan
tanpa biaya dan wajib belajar bagi semua anak. Pemerintah juga dituntut
menghargai kebebasan para orangtua untuk memilihkan anak-anaknya dalam
memperoleh pendidikan berkualitas.

Agar pendidikan dapat dijangkau (accessible), penghapusan diskriminasi sebagai
mandat dari undang-undang HAM internasional perlu menjadi prioritas kebijakan
pendidikan. Agar pendidikan dapat diterima (acceptable), hak-hak manusia
seyogianya diterapkan dalam proses pembelajaran. Agar pendidikan dapat
disesuaikan (adaptable), pendidikan perlu menyesuaikan minat utama setiap
individu anak.

Di tengah keengganan pemerintah untuk mendengar amanat hati nurani warga negara
terkait dengan korban UN 2006 dan memenuhi amanat UUD 1945 dan UU Sisdiknas
mengenai anggaran 20 persen dari APBN dan APBD, ada secercah harapan dengan
adanya pengakuan Direktorat Kesetaraan Ditjen PLS Depdiknas terhadap komunitas
sekolah-rumah.

Pendidik terbaik

Apakah saya dapat menjadi pendidik? Hampir semua orangtua akan bertanya seperti
ini ketika memutuskan untuk memilih sekolah-rumah sebagai model pendidikan bagi
anak-anak. Apakah mungkin bagi orangtua untuk beralih fungsi menjadi guru bagi
anak? Bukankah perlu waktu bertahun-tahun untuk memenuhi kualifikasi guru?

Jawabannya adalah “ya”. Namun, belajar di sekolah sangat berbeda daripada
belajar di sekolah-rumah. Pengelompokan anak-anak sebaya dengan minat dan
kemampuan yang berbeda selama 6-7 jam sehari dalam satu ruang kelas pasti
memerlukan profesional yang sejahtera.

Bagi anak, mengembangkan potensi secara aktif berarti melestarikan pengetahuan,
penguasaan, dan kebajikan dengan pengalaman belajar yang menyenangkan dalam
bimbingan pendidik terbaik. Homeschooling atau sekolah-rumah tidak menuntut
orangtua menjadi guru layaknya guru dalam ruang kelas. Cukup dengan mendorong
anak untuk menumbuhkan pengalaman belajar dalam balutan cinta, kasih sayang, dan
kehangatan keluarga. Keberhasilan sekolah-rumah sebenarnya sudah dimulai ketika
orangtua menyadari bahwa tiap anak adalah sebaik-baiknya ciptaan Tuhan.

Pengalaman belajar kami sebagai orangtua diperoleh ketika Zakky (11), anak kami,
disiapkan untuk sekolah-rumah sejak Oktober 2005 dan berhenti dari sebuah
sekolah alternatif di Jakarta. Sebelumnya, Zakky mendapatkan model pendidikan
anak merdeka dari kelas I sampai IV di SD Hikmah Teladan Cimahi. Tujuh bulan
lamanya masa transisi dari sekolah ke sekolah-rumah kami lalui dengan membaca
sejarah penemu dan ciptaannya serta melatih cara berpikir kritis, peduli, dan
kreatif untuk menjalankan kembali pendidikan anak merdeka.

Sejarah merupakan gerbang yang membuka cara berpikir dan imajinasi jauh melebihi
dataran, waktu, dan peradaban manusia. Cerita atau dongeng sejarah membantu
anak-anak memahami bagaimana orang- orang pada waktu dan tempat yang berbeda,
bagaimana perbedaan karakteristik masyarakat dan peradaban manusia berubah dan
bagaimana mereka bisa bersama-sama menghasilkan karya- karya terbaik yang tak
lekang oleh zaman. Cerita-cerita terpilih seperti kisah para nabi, biografi
penemu-penemu ilmu pengetahuan dan teknologi, dan sejarah bangsa-bangsa
mendorong motivasi berprestasi, cara menyikapi kegagalan dan kajian untuk
bertahan hidup.

Cerita Fitry (15) tentang mitologi dari negara Skandinavia mengenai penciptaan
dunia manusia yang diperolehnya saat menelusuri referensi tentang gerhana
matahari, atau antusiasme Zakky menggali referensi tentang sejarah penciptaan
alam semesta setelah keluar dari planetarium, menyadarkan saya akan waktu-waktu
berharga untuk tumbuh bersama anak-anak yang sudah lama hilang. Anak- anak pada
dasarnya telah jadi pendidik terbaik.

Awalnya, kami memfasilitasi pembelajaran Zakky dalam bentuk menyediakan guru
dari SD Hikmah Teladan dan mengajak keluarga penggiat sekolah-rumah lainnya
untuk bergabung. Setelah mencari informasi dari beragam sumber, kami memutuskan
untuk membuka komunitas sekolah-rumah dengan menguatkan partisipasi anak dalam
perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran.

Pengajaran harus ditujukan ke arah perkembangan pribadi yang seluas-luasnya
serta memperkokoh rasa penghargaan terhadap hak-hak manusia dan kebebasan asasi.
Pengajaran harus mempertinggi saling pengertian, rasa saling menerima, serta
rasa persahabatan di antara semua bangsa, golongan-golongan kebangsaan atau
golongan penganut agama, serta harus memajukan kegiatan-kegiatan PBB dalam
memelihara perdamaian.

Dalam konteks ini, komunitas sekolah-rumah sebagai model pendidikan kesetaraan
yang diakui pemerintah ditantang untuk bisa menjamin perlindungan anak agar
tidak menyalahi prinsip penyelenggaraan yang diamanatkan UU Sisdiknas maupun
praktik indoktrinasi yang mengarah pada fanatisme.

Modal belajar

Penyelenggara sekolah-rumah tidak perlu berlelah-lelah dengan batasan kurikulum
dalam sebuah kelas yang disibukkan oleh 24 anak, bahkan lebih. Ketika hambatan
terhadap penghargaan ditiadakan, minat dan kemampuan anak terus digali serta
tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, maka budaya belajar jadi niscaya.

Masalahnya, belum banyak orangtua yang yakin dapat mempraktikkan hal ini.
Seminar, lokakarya, dan pelatihan parenting mungkin dapat membantu. Tapi, ini
belum lengkap tanpa pendampingan program belajar keluarga.

Menghadirkan fasilitator yang berpengalaman dalam mengimplementasikan pendidikan
anak merdeka dalam Forum OK! (Obrolan Keluarga) ternyata dapat memperkuat
komunitas sekolah-rumah.

Setiap keluarga penyelenggara sekolah-rumah dapat berbagi pengalaman belajar
sambil mendiskusikan perkembangan anak- anak dalam suasana yang penuh
kekeluargaan. Bahkan, kini sudah ada asosiasi sekolah-rumah dan pendidikan
alternatif yang diharapkan dapat menjadi badan amanah bagi komunitas
sekolah-rumah dan pendidikan alternatif di Indonesia.

Seluruhnya menjadi modal belajar yang sangat berarti bagi komunitas
sekolah-rumah. Apalagi jika komitmen pemerintah dan pemerintah daerah untuk
menyediakan anggaran yang memadai bagi pemenuhan hak atas pendidikan berkualitas
dan bebas biaya tidak hanya bagi anak-anak sekolah, tetapi juga bagi pelaksana
sekolah-rumah dan pendidikan alternatif segera direalisasikan.

Sumber : Yanti Sriyulianti, Praktisi Pendidikan dan Penggerak Sekolah-Rumah
(http://www.kompas.com/kompas-cetak/0705/02/PendDN/3493341.htm)


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help