adi's posts with tag: tips
| | Sudah berkali-kali saya melamar pekerjaan, dan sudah berkali-kali juga saya gagal. Nah, yang bikin saya heran, perjuangan saya untuk mendapatkan pekerjaan selalu saja terhenti di psikotes. Duh, kira-kira kenapa ya?
Dalam setiap proses rekruitment pegawai baru, pemeriksaan psikologis atau yang lebih dikenal dengan psikotes memang pasti ada. Tes ini sendiri bertujuan untuk menilai potensi yang dimiliki calon karyawan agar perusahaan bisa menentukan apakah seseorang itu bisa memberkan sumbangan maksimal bagi perusahaan atau tidak. Lewat psikotes dapat diketahui tingkat kecerdasan individu, motivasi kerja, bakat, keadaan emosional, hubungan dengan orang lain serta sikapnya dalam mengahdapi suatu hal. Dan untuk mengetahui semua hal tersebut, digunakan alat ukur tertentu yang dibuat oleh psikolog. | | | | Jika Anda memang terus menerus gagal lulus psikotes, maka jangan cepat mengira kalau pasti ada sesuatu yang tidak beres dalam psikologis Anda. Bisa jadi. ketidaklulusan itu diakibatkan karena Anda tidak memenuhi persyaratan yang seharusnya dimiliki untuk melakukan pekerjaan tertentu menurut standar perusahaan tersebut. Perlu diketahui kalau ukuran standar antara satu perusahaan dengan perusahaan lain tidaklah sama. Jadi, jika Anda ditolak pada satu perusahaan, maka belum tentu hal itu akan Anda alami juga pada perusahaan lain. |  | | | Tapi, jika Anda dinyatakan gagal berkali-kali untuk melamar satu jenis pekerjaan di perusahaan manapun, maka bisa jadi Anda sebenarnya tidak cocok dengan pekerjaan itu. Oleh karenanya, tak ada salahnya juga untuk mencoba jenis pekerjaan lain. Menjadi orang lain dalam psikotes adalah sebuah kesalahan besar. Pasalnya, psikotes adalah ajang penilaian untuk mencari orang yang tepat sesuai kriteria perusahaan. Kalau Anda menjalani psikotes dengan memasukkan jawaban-jawaban yang tidak sesuai diri Anda atau menjawab seusai harapan perusahaan, maka boleh jadi itu akan menjadi boomerang buat Anda. |  | Siapa yang tahu kalau jawaban yang Anda berikan itu ternyata adalah yang tidak diharapkan perusahaan. Maka dari itu, saat menjalani psikotes kuncinya cuma satu just, be yourself! | | | Nah, agar Anda bertambah lancar menghadapi psikotes, berikut panduannya : | -
Pastikan Anda telah makan dan tidur dengan cukup sebelum memulai tes. -
Jangan panik dan tetaplah tenang. -
Jawab setiap pertanyaan dengan jawaban yang benar-benar mewakili Anda. -
Jangan menjawab secara asal atau memberikan jawaban yang menurut Anda diharapkan oleh perusahaan. -
Baca dan dengarkan instruksi setiap soal dengan cermat. Berhati-hatilah karena ada beberapa soal psikotes yang dibatasi waktunya dan ada pula yang tidak. -
Jangan terpaku pada satu soal yang sulit. Langsung saja beralih ke soal yang berikutnya. Ingat! Anda berpacu dengan waktu!
| |
Jika Anda baru selesai kuliah dan dalam proses mencari kerja, setelah lamaran masuk, pengajuan CV rapih, tantangan selanjutnya menghadapi psikotest. Berdasarkan pengalaman penulis, psikotest berupa tes IQ, kepribadian, kecakapan, profesional dan kreativitas serta teamwork dilakukan secara tertulis dari pagi sampai sore jika dilakukan full. Setelah itu ada test wawancara untuk menguji sejauh mana kesungguhan Anda bekerja. Langkah pertama tentu berlatih dengan psikotest ini karena kunci penting menghadapi tahap selanjutnya. Sejauh ini ada beberapa situs penting berbahasa Inggris namun karena tes IQ bersikap abstrak bisa Anda lakukan secara online. Saya merekomendasikan misalnya: 1. Contoh Test IQ, Aptitude, Personality dapat ditemui di www.2h.com 2. Anda bisa mengikuti contoh test IQ di situs www.nicologic.free.fr 3. Atau contoh lain untuk psikotes mulai dari tes IQ bisa dicari di www.psychtests.com Untuk tip mengenai pemecahan delapan gambar, menggambar manusia, pohon dan lainnya bisa kirim email ke adi.subiyanto@gmail.com
CDMA : 031-71054887
Purdi E. Chandra, SE.,MBA. Lewat Bimbingan Belajar Primagama, Purdi berhasil menjadi pengusaha sukses. Untuk meraih impiannya Purdi berhenti kuliah. Akhirnya ia berhasil juga mendapatkan gelar dari lembaga pendidikan yang dibentuknya sendiri. Sosok Purdi E. Chandra (45) kini dikenal sebagai pengusaha yang sukses. Lembaga Bimbingan Belajar (Bimbel) Primagama yang didirikannya bahkan masuk ke Museum Rekor Indonesia (MURI) lantaran memiliki 181 cabang di 96 kota besar di Indonesia dengan 100 ribu siswa tiap tahun. Apa resep suksesnya sehingga Primagama kini menjadi sebuah holding company yang membawahi lebih dari 20 anak perusahaan? Purdi membeberkannya dalam wawancaranya dengan Ummi. Lego motor, berhenti kuliah Bukan suatu kebetulan jika pengusaha sukses identik dengan kenekatan mereka untuk berhenti sekolah atau kuliah. Seorang pengusaha sukses tidak ditentukan gelar sama sekali. Inilah yang dipercaya Purdi ketika baru membangun usahanya. Kuliah di 4 jurusan yang berbeda, Psikologi, Elektro, Sastra Inggris dan Farmasi di Universitas Gajah Mada (UGM) dan IKIP Yogya membuktikan kecemerlangan otak Purdi. Hanya saja ia merasa tidak mendapatkan apa-apa dengan pola kuliah yang menurutnya membosankan. Ia yakin, gagal meraih gelar sarjana bukan berarti gagal meraih cita-cita. Purdi muda yang penuh cita –cita dan idealisme ini pun nekad meninggalkan bangku kuliah dan mulai serius untuk berbisnis. Sejak saat itu pria kelahiran Punggur, Lampung Tengah ini mulai menajamkan intuisi bisnisnya. Dia melihat tingginya antusiasme siswa SMA yang ingin masuk perguruan tinggi negeri yang punya nama, seperti UGM. Bagaimana jika mereka dibantu untuk memecahkan soal-soal ujian masuk perguruan tinggi, pikirnya waktu itu. Purdi lalu mendapatkan ide untuk mendirikan bimbingan belajar yang diberi nama, Primagama. “Saya mulai usaha sejak tahun 1982. Mungkin karena nggak selesai kuliah itu yang memotivasi saya menjadi pengusaha,� kisah Purdi. Lalu, dengan modal hasil melego motornya seharga 300 ribu rupiah, ia mendirikan Bimbel Primagama dengan menyewa tempat kecil dan disekat menjadi dua. Muridnya hanya 2 orang. Itu pun tetangga. Biaya les cuma 50 ribu untuk dua bulan. Kalau tidak ada les maka uangnya bisa dikembalikan. Segala upaya dilakukan Purdi untuk membangun usahanya. Dua tahu setelah itu nama Primagama mulai dikenal. Muridnya bertambah banyak. Setelah sukses, banyak yang meniru nama Primagama. Purdi pun berinovasi untuk meningkatkan mutu lembaga pendidikannya ini. “Sebenarnya yang bikin Primagama maju itu setelah ada program jaminan diri,� ungkapnya soal rahasia sukses mengembangkan Bimbel Primagama. �Kalau ikut Primagama pasti diterima di Universitas Negeri. Kalau nggak uang kembali. Nah, supaya diterima murid-murid yang pinter kita angkat jadi pengajar. Karena yang ngebimbing pinter, ya 90% bisa lulus ujian masuk perguruan tinggi negeri,� lanjutnya. Mengembangkan sistem waralaba Karena reputasinya Bimbel Primagama makin dikenal di Kota Pelajar, Yogya. Purdi tak cepat berpuas diri. Ia ingin mengembangkan cabang Primagama di kota lain. Mulailah cabang-cabang Primagama bermunculan di Bandung, Jakarta dan kota besar lain di Indonesia. Purdi juga berinovasi mengembangkan sistem franchise atau waralaba (pemberian hak pada seseorang dalam penggunaan merek untuk menjalankan usaha dalam kurun waktu tertentu). Di Pekanbaru, Sampit ( Kalimantan Tengah) dan Tangerang telah dibuka cabang dengan sistem ini. Menurutnya sistem ini sangat tepat untuk dikembangkan sebab usaha bisa berkembang tanpa harus menyiapkan dana sendiri. “Sistem ini lebih menguntungkan untuk mengembangkan usaha kita daripada cara yang lainnya. Selain tak perlu merogoh kocek untuk investasi lagi ternyata keuntungan sebagai pemilik merek cukup besar. Yang jelas orang lain membayar merek dan royalti tiap bulannya pada kita,� jelas ayah dari Fesha dan Zidan ini. Purdi yakin merek lokal bisa berkembang dengan sistem ini dan bukan terbatas pada produk makanan saja. Jika merek lokal bisa masuk bisnis waralaba bukan tidak mungkin akan menjadi produk ini bisa jadi produk global seperti McDonald. Namun ia menyayangkan di Indonesia belum ada lembaga yang menyiapkan sistem waralaba mulai dari persiapan awal hingga jadi. Pengusaha yang berani Keberanian adalah salah modal wirausaha. Purdi menyatakan seorang wirausaha harus berani mimpi, berani mencoba, berani merantau, berani gagal dan berani sukses. Lima hal ini adalah hasil dari pengalamannya selama ini. Sejak dini Purdi sudah dididik berjiwa usaha. Di bangku SMP ia sudah beternak ayam dan bebek, kemudian menjual telurnya ke pasar. Purdi bermimpi kelak ia akan menjadi pengusaha sukses. Berani mimpi menurut Purdi adalah cetak biru dari sebuah visi ke depan seorang wirausaha. Mimpi itu akan mensugesti seseorang untuk berhasil dan mengerahkan semua kemampuannya untuk mencapai visinya. Mimpi ini pula akan memotivasi bawahannya dan menciptakan lingkungan kerja yang lebih dinamis. Orang yang memiliki mimpi besar dicontohkan Purdi adalah Bill Gates yang bermimpi kelak di semua rumah di dunia akan memiliki computer. Atau juga Michael Dell yang bermimpi mengalahkan perusahaan komputer raksasa IBM. Mereka ini menurut Purdi orang yang yakin mimpinya akan jadi kenyataan dengan kerja keras. “Orang itu tidak pernah gagal, hanya saja dia berhenti mencoba,� tukas pria yang mendapatkan gelar dari lembaga pendidikan yang dibentuknya sendiri. Purdi mengingatkan jika seorang ingin berhasil dalam bisnis harus berani mencoba. Situasi sulit justru membuat seorang wirausaha semakin tertantang. Soal merantau, Purdi muda sudah berani meninggalkan kota kelahirannya dan mencoba mandiri dengan bersekolah di salah satu SMA di Yogyakarta. Ibunya, Siti Wasingah dan ayahnya, Mujiyono, merestui keinginan kuat anaknya untuk mandiri. Dengan merantau Purdi merasa tidak tergantung dan bisa melihat berbagai kelemahan yang dia miliki. Pelan-pelan berbagai kelemahan itu diperbaiki oleh Purdi. Hasilnya, Ia mengaku semakin percaya diri dan tahan banting dalam setiap langkah dalam bisnisnya. Gagal dan berhasil ada dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Namun, bagaimana menyikapi sebuah kegagalan itu yang penting. Baginya, pengalaman gagal dapat dipergunakan untuk menemukan kekuatan baru agar bisa meraih kesuksesan kembali. “Mungkin saja kegagalan itu datang untuk memuliakan hati kita, membersihkan pikiran kita, memperluas wawasan kita, membersihkan pikiran kita dari keangkuhan dan kepicikan, serta untuk lebih mendekatkan diri kita pada Tuhan,� kata pria yang mengaku pernah 10 kali gagal saat membuat restoran Padang. BODOL, BOTOL dan BOBOL Purdi mengaku punya resep manjur bagi yang ingin berwirausaha, yaitu BODOL, BOTOL dan BOBOL. Mungkin masih kedengaran aneh di telinga, namun ia meyakinkan bahwa resep ini berguna bagi yang merasa ragu-ragu dan terlalu banyak perhitungan dalam berusaha yang malah menghambat rencana mereka untuk berwirausaha. Jika orang bingung ketika memulai bisnis karena tak punya modal, menurut Purdi gunakan saja resep BODOL yaitu Berani, Optimis, Duit, Orang Lain. Dalam bisnis diperlukan keberanian dan rasa optimis. Jika tidak punya uang tidak ada salahnya pinjam duit orang lain. Pasti ada orang yang mau membiayai bisnis yang akan kita jalankan jika memang prospektif. “Kalau kita punya duit dan modal tapi tidak ahli di bidang bisnis, gunakan jurus BOTOL,� tukas Purdi. Berani, Optimis, Tenaga, Orang Lain. Jika kita punya modal, kenapa tidak kita serahkan pada yang ahli di bidangnya sehingga bisnis tetap berjalan. Pendeknya kita tak harus menggunakan tenaga sendiri untuk menjalankan bisnis. Resep terakhir adalah jurus BOBOL. yaitu Berani, Optimis, Bisnis, Orang, Lain. Ini dikeluarkan jika ide bisnis pun tak ada maka kita bisa meniru bisnis orang lain tambah Purdi. Ibaratnya, bisnis adalah seperti masuk ke kamar mandi yaitu dengan tidak banyak berpikir. Jika di kamar mandi airnya kurang hangat, semua bisa diatur hingga sesuai dengan keinginan kita. Enterpreuner University, kuliah tanpa gelar Semua orang bisa jadi wirausahawan, ucap suami Triningsih Kusuma Astuti ini yakin. Memang yang paling baik ditanamkan pendidikan enterpreuner ini sejak kanak-kanak di dalam keluarga. Sebab, anak akan merekan semuanya dalam memorinya dan selanjutnya akan menjadi pola pikir dan cara perilaku anak di masa depannya. “Namun, itu bukanlah hal-hal penentu keberhasilan. Begitu pula dengan faktor usia, kaya-miskin, jenius atau tidak, juga gelar formal,� kata pria yang juga menjadi dosen tamu di beberapa universitas ini. Untuk menjadi pengusaha tak perlu pintar dan memiliki embel-embel gelar. Sebab jika terlalu pintar justru malah akan berhitung dan melihat banyak resiko yang harus dihadapi sehingga nyalinya malah ciut. “Bayangkan anda kuliah Magister Manajemen (MM) di UI anda harus bayar 50 juta. Selesai kuliah mungkin anda merasa tidak punya uang,�katanya lagi. Keprihatinannya terhadap iklim bisnis di Indonesia menyebabkan Purdi harus melakukan sesuatu. Tampilah ia sebagai bagian dari politisi yang manggung di Senayan sampai tahun ini. Keinginannya adalah merubah pola pendidikan saat ini yang berorientasi menjadi pekerja bukan pengusaha. Seharusnya, menurut pria yang pernah menjadi ketua Himpunan Penguasaha Muda Indonesia (HIPMI) cabang Yogya ini, ada alternatif lain dalam sistem pendidikan kita. Paling tidak anak-anak diajarkan untuk berwira usaha. Sayangnya idenya tidak mendapat tanggapan. “Saya merasa adanya universitas untuk mencetak pengusaha baru itu penting. Kalau perlu universitas ini tidak perlu menggunakan aturan formal, tanpa status,tanpa akreditasi, tanpa dosen, tanpa ijazah dan tanpa gelar. Wisudanya pun dilakukan saat mahasiswa benar-benar membuka usaha,� ujar pria yang menerima Enterprise 50 dari Anderson Consulting dan Majalah Swa ini serius. Idenya ini diwujudkan dengan membentuk Enterpreuner University (EU). Dengan dibimbing langsung oleh Purdi, EU kini telah memiliki 37 angkatan. Di sana tak ada nilai, ijazah maupun gelar. Menurut Purdi masyarakatlah yang berhak menilai pengusaha itu memiliki kredibilitas atau tidak, sukses atau tidak. Hal ini berbeda dengan pendidikan yang memberlakukan ujian tapi tidak membolehkan siswanya mencontek. “Dalam dunia riil bisnis, yang namanya bertanya sah-sah saja. Menyontek usaha orang lain juga boleh saja. Meniru kiat sukses pengusaha lain juga silahkan. Nggak ada yang melarang,� Purdi beralasan. Di EU yang hanya memakan waktu 6 bulan dan kuliah seminggu 2 kali ini, Purdi mengkonsentrasikan pendidikannya pada pengembangan kecerdasan emosional, spiritual, mempertajam kreativitas dan intuisi bisnis mahasiswanya. Materinya pun seputar nilai-nilai kewirausahaan seperti pantang menyerah, kreatif dan inovatif, semangat tinggi, berani dan jeli melihat peluang usaha. Purdi yakin kelak EU akan mencetak pengusaha-pengusaha baru yang akan menggiatkan iklim investasi di Indonesia. (Vieny MA/laporan Juminarsih dan Rosita)
| Annida Online : http://www.ummigroup.co.id/ Versi Online : http://www.ummigroup.co.id//?pilih=lihat&id=29 |
|  | Hei sobat. Pas bongkar-bongkar kompi saya, saya menemukan foto-foto unik berbagai macam model merangkai dasi. Kelihatannya pas buat para istri dan calon istri. Biar nanti pas mbantu suami mbetulin dasi, bisa gitu!!!
Selamat mencoba deh |
| |