Goresan Sang Pemimpi(n) Peradaban

adi's posts with tag: writing

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag writing
LinkJournalist’s AdventureAug 28, '07 7:22 AM
for everyone
Link: http://journalist-adventure.com/

A source for journalist’s life and career

LinkAnnida OnlineAug 28, '07 7:20 AM
for everyone

Blog Entry Lowongan Penulis Buku dari Penerbit Pro-U MediaAug 21, '07 5:59 AM
for everyone

Lowongan Penulis Buku dari Penerbit Pro-U Media

 Ingin naskahmu diterbitkan?

Pro-U Media Group menanti ide-ide brilian & menggugah dengan tema keislaman (fiksi dan nonfiksi).

Untuk info selengkapnya, kamu bisa menghubungi redaksi Pro-U Media:
Jl. Jogokariyan 35
Yogyakarta 55143
Telp/fax: (0274) 376301
SMS: (0274) 7447222
email: proumedia@gmail.com

Ikuti:

  • Training “ZERO to HERO” (2 September 2007)
  • Seminar “The WAY to WIN” (9 September 2007)
  • Bedah buku “The WAY to WIN” (12 September 2007)
  • Training “ZERO to HERO” (16 September 2007)

Blog EntryMENGHINDARI KELEMAHAN BUKU KUMPULAN TULISAN Jun 22, '07 8:57 PM
for everyone
Edy Zaqeus

02 Juni 2007 - 02:49   (Diposting oleh: Editor)
MENGHINDARI KELEMAHAN BUKU KUMPULAN TULISAN
Seri Artikel Write & Grow Rich

Dalam Bab 6 buku Resep Cespleng Menulis Buku Best Seller (Gradien, 2005), secara khusus saya bahas soal kelebihan format buku yang berasal dari kumpulan tulisan atau artikel-artikel pendek. Selain relatif mudah disusun dan lebih instan sifatnya, format ini juga sangat membantu para penulis yang tidak punya keleluasaan waktu dalam menuangkan gagasan. Format ini pun bisa jadi alternatif yang pas bagi para penulis pemula.

Dan memang, tak sedikit contoh buku kumpulan tulisan yang ternyata mampu sukses di pasaran. Sebut misalnya buku-buku Andrias Harefa, Renald Kasali, Gede Prama, Bondan Winarno, Hermawan Kartajaya, dan masih banyak lagi yang lainnya. Rasanya, hampir semua kolumnis di media massa punya buku jenis kumpulan tulisan.

Kedua penerbitan saya—yang baru saya rintis dalam dua tahun terakhir ini—pun berhasil menerbitkan sejumlah buku motivasi yang berasal dari kumpulan tulisan. Sebut misalnya buku Psikologi Duit (Rab A. Broto), Kalau Mau Kaya Ngapain Takut Ngutang (Didik Darmanto), Rahasia Sukses Terbesar (Jennie S. Bev), dan Anda Luar Biasa!!! (Eni Kusuma). Boleh dikata, rata-rata buku tersebut mendapat sambutan yang lumayan bagus di pasaran. Ini menandakan bahwa potensi pasar untuk buku kumpulan naskah itu lumayan.

Belakangan, penerbitan saya juga menerima pengajuan beberapa naskah yang berasal dari kumpulan tulisan. Banyak ragam tema artikel di dalam naskah tersebut. Untuk sebuah naskah buku kadang bisa berisi antara 30-40 tulisan atau artikel, kadang malah lebih. Tema yang diangkat memang beragam, bahkan kadang agak berjauhan satu sama lain. Tapi, karena tulisan-tulisan tersebut umumnya pernah dipublikasikan di suatu media, kualitas tata bahasa dan editingnya terbilang lumayan.

Namun, saya temukan beberapa kelemahan tipikal dalam naskah-naskah jenis ini. Pertama, tema yang terlalu beragam. Ini merupakan akibat dari konstruksi awal tulisan-tulisan tersebut, yang biasanya memang tidak ditujukan untuk disusun menjadi buku. Penyusunan kumpulan tulisan itu menjadi buku di kemudian hari, umumnya dilatari oleh kesadaran bahwa ada ide-ide bermanfaat yang perlu dilestarikan.

Kedua, pembahasan yang terkesan instan dan kurang mendalam di setiap tulisan. Tak bisa dimungkiri, banyak tulisan atau artikel pendek di media massa itu lahir karena proses berpikir dan refleksi spontan atas suatu masalah yang sedang menghangat. Konstrain waktu sering membuat penulis sulit menghasilkan tulisan yang lebih komprehensif. Di sisi lain, artikel harus segera ditulis karena “kehangatan” suatu isu tidaklah bertahan lama.

Ketiga, akibat memencarnya tema atau topik yang dibahas, naskah menjadi kehilangan kekhasan atau keunikannya. Gagasan utama dalam naskah menjadi tidak fokus pada satu titik dan ini membuat naskah terasa mengambang. Naskah yang mengambang atau tidak berkarakter pasti akan kehilangan kekuatan dan daya tariknya, baik di mata calon penerbit maupun pembaca umumnya.

Para penulis yang personal brand-nya bagus (seperti saya sebut dimuka), kadang relatif bisa “berkelit” dari tiga kelemahan tipikal tadi. Karena pengalaman dan kepiawaian dalam membuat tulisan, maka kelemahan-kelemahan yang saya sebut tadi bisa ditambal oleh personal brand mereka. Kualitas tulisan mereka pun biasanya memang tidak bisa diabaikan.

Sumber: pembelajar.com

Blog EntryYANG BERILMU BANYAK, YANG MENULIS... Jun 22, '07 8:44 PM
for everyone
Rab A Broto

02 Juni 2007 - 02:42   (Diposting oleh: Editor)
YANG BERILMU BANYAK, YANG MENULIS...

"Writing, the art of communicating thoughts to the mind, is the great invention in the world Great, very great. It enabling us to converse with the dead, the absent, and the unborn, at all distances of time and space, and great not only in its direct benefits, but its great help to all other inventions."
~ Abraham Lincoln

Namun, terkait ihwal pentingnya menulis tersebut, seorang kawan eksekutif berkata: "Apa yang mau diajarkan tentang menulis. Memaparkan ide dalam dua halaman laporan berspasi ganda sekalipun bagi kami sudah terlalu banyak. Eksekutif juga terbiasa hanya membaca summary dan kesimpulan. Jadi apa manfaatnya mengembangkan potensi itu."

Teman yang lain mengatakan betapa sekarang toko buku dipenuhi berbagai karya yang begitu-begitu saja. "Bagaimana mau bagus isinya, wong anak baru kemarin sore sudah nulis buku. Bahasanya juga amburadul." Juga semburan berbagai kritik lainnya. Tapi kenyataan banyaknya karya yang dinilai "pas-pasan" ini seharusnya justru bisa menjadi cermin.

Soalnya memang banyak dan sangat lazim orang berkomentar ringan "begitu-begitu saja" setelah membaca satu buku. Ironisnya sang komentator tidak pernah melahirkan bukunya. Situasinya mirip para pencemooh Columbus saat bisa membuat satu telur bulat tegak berdiri dengan memecahkan salah satu bagian ujungnya.

"Kalau cuma begitu, aku pun bisa," kata para pencemooh. Satu-satunya yang patut disayangkan dari sang pencemooh: tak berani mengeksplorasi dan merealisasikan gagasannya meski mungkin telah terlintas di kepala. Singkatnya tak banyak orang yang mau memanfaatkan kesempatan yang ada meskipun kemampuannya sungguh tak perlu diragukan lagi.

Indonesia di tahap awal
Perbukuan nasional begitu dinamis beberapa tahun terakhir. Bisa disaksikan munculnya banyak pengarang baru, bahkan yang masih anak-anak, sampai banyaknya buku yang mengupas berbagai isyu yang memang belum tuntas dibahas setelah rontoknya berbagai tabu. Pendeknya inilah masa paling bebas untuk menerbitkan tulisan dengan topik apa pun.

Semua bisa dikatakan masih dalam tahap awal. Bandingkan gegap gempita itu dengan data jumlah buku yang diterbitkan di seluruh dunia yang sekitar satu juta judul per tahun. Canada International Publisher Association secara rinci menyebut produksi buku tertinggi adalah di Inggris yang rata-rata mencapai 100.000 judul per tahun (tahun 2000 mencapai 110.155 judul).

Jerman menyusul di peringkat kedua dengan jumlah yang diterbitkan pada 2000, yaitu mencapai 80.779 judul, lalu Jepang 65.430 judul dan Amerika di urutan ke empat. Sedangkan di Indonesia yang pada 1997 terbit "hanya" 5.000-an judul, pada 2002 buku yang terbit justru terpangkas menjadi 2.700-an judul.


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help